ABG 2000

Kalau Ronggowarsito meramalkan zaman edan, maka apakah betul bahwa zaman kini adalah yang dimaksudkannya? Dalam Tajukrencana PR Kamis 29 Juni 2000 yang berjudul Menyikapi Pergaulan ‘Bebas’ ABG, mengundang sederetan pertanyaan pada kita semua, betulkah remaja kita telah terkontaminasi oleh budaya global yang boleh dibilang ‘gila’ itu? Apakah mereka tidak PD dengan ‘modal’ yang dimilikinya? Atau apakah remaja kita merupakan korban dari MKKB, Masa Kecil Kurang Bahagia, perlakuan ortunya? Atau mereka termasuk orang yang lupa terhadap dirinya sendiri?

Woodworth dan Marquis, penulis buku Psychology, menyatakan bahwa sebuahtingkah laku dibentuk oleh 4 macam faktor, yaitu: 'kondiri’ (kondisi diri), lingkungan, 'pengalaman malam’ (masa lampau) dan gambaran 'mapan’ (masa depan) (Robert S. Woodworth and Donald G.Marquis, 1985, p.3).

Kalangan ilmuwan sosial memandang bahwa faktor lingkungan adalah faktor yang paling dominan dalam membentuk tingkah laku individu, sehingga karena itu mungkin pada akhirnya Psikologi dirumuskan sebagai the scientific studies of the individual activities in relation to the environment. Environment, lingkungan, adalah apa saja yang ada di sekitar kita,. Ia bisa berbentuk fisik dan dapat pula berbentuk non fisik. Bentuk yang disebut kedua tersebut bisa berwujud budaya yang kini terus berkembang luas tanpa mengenal batas dan waktu.

Oleh karena faktor lingkungan itu pula, maka budaya Barat boleh dibilang tidak pernah menyalahkan individunya, karena yang selalu dijadikan ‘kambing hitam’ adalah lingkungannya. Itulah sebabnya ketika kita melihat fenomena yang melanda sebagian remaja di zaman modern ini dengan tingkah-lakunya yang ‘aneh-aneh’ seperti ciuman dan berpelukan di angkot, bercumbu-ria di tempat-tempat umum, mengecat rambutnya dengan warna-warni ala sporter sepak bola EURO 2000 atau tingkah-lakunya yang aneh-aneh, mengakibatkan para orang tua kita mengernyitkan dahi sehingga tidak ada beda pria atau wanita, mengakibatkan para orang tua kita mengernyitkan keningnya mempertanyakan, sesungguhnya hal itu semua sebagai gejala apa?

Berangkat dari fenomona-fenomena itu mungkin saja tingkah laku ‘aneh’ yang melanda kalangan remaja itu sebagai bentuk aktualisasi diri dalam era reformasi yang penuh dengan berbagai macam tantangan. Hal itu dilakukan mungkin sebagai ‘protes sosial’ atau mungkin sekedar mencari perhatian. Barangkali saja masa lampau mereka tidak mendapatkan kasih sayang dari nyokap dan bokapnya.

Di samping itu kecenderungan berimitasi, tiru-tiru, di manapun senantiasa terus berpacu secepat dengan perkembangan arus komunikasi informasi media cetak taupun elektronika. Makanya tidaklah heran kalau banyak kita temukan ‘korban iklan’ ataupun bahkan munculnya penyimpangan tingkah aku sosial di mana-mana seperti maraknya tawuran pelajar, gampangnya orang melakukan tindakan sadis sekedar hanya untuk memuaskan dirinya.

Kalau kita coba lihat dengan menggunakan kacamata agama, maka sejak 15 abad yang lalu Rasulullah SAW telah menyatakan, Maa min mauludin illa yuladu alal fithrah…, bahwa setia anak yang dilahirkan ke dunia ini suci…. Hal itu artinya menganggap pentingnya peranan lingukungan, yaitu kedua orang tuanya.

Tetapi tentu saja, lingkungan bukan satu-satunya faktor penting, karena ada beberapa aspek lain yang dapat membentuk watak dan tingkah laku seseorang, sebagaimana yang diisyaratkan oleh kitab suci Al-Qur’an, yaitu pengalaman masa lampau dan proyeksi masa depan. (Q, 59, Al-Hasyr, 18).

Tegasnya peranan lingkungan itu sesungguhnya tidak dapat terlepas pula dari kualitas sang individunya sendiri. Sepanjang sejarah godaan-godaan itu tetap ada karena SK, Surat Keputusan Allah untuk iblis & setan untuk menggoda manusia belum dicabut oleh Yang Maha Kuasa. Oleh sebab itu manakala sang individunya memiliki religious counsiousness, kesadaran agama yang kuat, Insya Allah justru yang bersangkutan akan semakin kokoh daya tahannya. Ia tidak akan gampang titu-tiru begitu saja karena pribadinya telah terisi penuh oleh iman yang mantap. Tidak ada kamus BT dalam dirinya, tetapi sebaliknya ia akan selalu PD dalam menghadapi godaan apapun juga, karena ia yakin akan firman Allah SWT:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, karena orang yang lupa kepada Allah tentu akan lupa terhadap dirinya sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq”
(Q, 59,Al-Hasyr, 19)

Bandung, 30 Juni 2000