Anak Jalanan

Budi berkali-kali membelalakkan mata dan berusaha menajamkan pandangan. Tak salah lagi, pengamen berumur 11 tahunan yang ia lihat di perempatan jalan itu memang Sudin yang ia titipkan di sebuah pesantren tiga bulan yang lalu. Sebelumnya, mereka bertemu pada suatu acara buka bersama yang diselenggarakan kampus tempat Budi kuliah. Budi terenyuh dengan nasib Sudin, yang menurut pengakuannya hidup sebatang kara di Bandung setelah terpisah dari kedua orang tuanya 3 tahun yang lalu, dan kehilangan kontak semenjak itu. Melihat keinginan Sudin yang begitu kuat untuk belajar, Budi kemudian menitipkannya di sebuah pesantren, untuk menimba ilmu agama dan bersekolah di ibtidaiyah.

Satu bulan pertama Sudin menikmati suasana pesantren dan berlaku sebagai anak manis. Menginjak bulan kedua, anak itu dilaporkan mulai sering melamunkan ‘habitat’-nya dan butuh perhatian serta usaha khusus untuk memalingkannya dari pesona ‘belantara’ jalanan. Ia kangen dengan bau knalpot, rindu akan bunyi klakson yang bersahut-sahutan, dan teringat gemerincingnya uang logam yang diberikan para penumpang mobil, manakala ia usai melantunkan bait-bait lagu yang ia hapal. Rupa-rupanya Sudin kalah, tak mampu mengelak dari panggilan irama jalanan. Kembalilah ia ke habitatnya dan menjalani hari-harinya sebagai pengamen di salah satu perempatan tempat ia mangkal selama 6 bulan ke belakang.

Cerita Sudin hanyalah suatu kisah kegagalan seorang anak manusia mengentaskan diri dari kehidupan jalanan. Anak jalanan adalah anak-anak yang menggantungkan nasib atau menjalani sebagian (besar) hidup mereka di jalanan. Di antara mereka ada yang "mencari" nafkah di jalanan - umpamanya saja sebagai pedagang asongan, pengamen, pengemis, penjual koran - baik yang masih tinggal dengan keluarga maupun yang bertempat tinggal di jalanan. Ada juga bayi dibawah tiga tahun yang difungsikan sebagai penambah rasa "kasihan" orang, dan dibawa oleh ibunya mengemis, juga anak yang kebanyakan berumur 3 s/d 5 tahun yang memang ditinggalkan di jalanan. Ada pula anak yang bermain, tidur atau duduk-duduk saja menunggu para orang tua mereka yang mencari nafkah di jalanan.

Secara fisik mereka nampak kumuh, maklumlah mereka jauh dari tradisi anak rumahan seperti jadwal tidur, mandi, gosok gigi, sisir rambut, atau mencuci pakaian secara beraturan. Ceceran rezeki yang dicipratkan di jalan menyebabkan mereka menganggap siapa pun di luar komunitas mereka sebagai objek yang bisa dimintai uang. Selain “mandiri”, kerasnya kehidupan jalanan memberi mereka bekal keberanian untuk berinteraksi dengan siapa pun, baik sesama anak maupun orang dewasa, di jalanan. Interaksi dimaksud bisa berupa kerjasama, perkawanan, jual beli, penipuan, perbudakan, atau alat pemuas nafsu.

Anak-anak yang hidup ataupun melakukan kegiatan di jalanan sangat rentan dengan perlakuan kekerasan dan eksploitasi. Sudah menjadi hukum di jalanan, siapa yang kuat merekalah yang menang. Mereka juga rawan dengan pola hidup seks bebas - awalnya sebagai korban dan pada akhirnya sebagai pelaku - sehingga sering terjadi kasus sodomi, hamil di luar nikah, maupun pelacuran.

"Sebaik apa pun anak jalanan, mereka berpeluang menjadi tidak baik karena komunitas dan habitat mereka memungkinkan untuk itu", begitulah beberapa pemeduli anak jalanan berpendapat mengenai jalan hidup mereka. Patut difahami, kecenderungan mereka untuk jadi preman bukanlah mutlak kemauan pribadi, melainkan lebih banyak akibat keinginan untuk bertahan hidup dan berusaha untuk dapat menggapai keinginan mereka.

Anak adalah aset masa depan. Gagal memahami kebutuhan anak berarti gagal membantu mereka menjadi manusia mandiri, yang bisa berujung dengan kegagalan menyambung sebuah generasi. Anak jalanan merupakan salah satu permasalahan anak yang memerlukan penanganan secara tepat dan cepat. Jumlah anak jalanan yang kian hari kian bertambah seiring dengan semakin berlarutnya krisis ekonomi, menuntut setiap elemen bangsa yang memiliki kepedulian untuk bekerja secara simultan.

Pemerintah, melalui Depsos, bisa bekerja sama dengan berbagai ormas atau LSM-LSM yang mempunyai kepedulian pada permasalahan anak jalanan. Di antara upaya-upaya tersebut adalah: penyediaan rumah singgah, program pendampingan anak jalanan, penyaluran zakat, penyediaan fasilitas belajar, ...yang kesemuanya berujung pada pengentasan mereka dari jalanan dan menghantarkan anak-anak jalanan sebagai manusia mandiri.

Apapun upaya yang dilakukan, dan siapapun pelakunya, upaya pengentasan anak dari jalanan hendaknya berpegang pada prinsip-prinsip pokok, sebagaimana tertuang dalam Konvensi Hak Anak yaitu : Tidak diskriminatif, mempertimbangkan kepentingan yang terbaik bagi anak, menghargai pendapat dan pandangan anak, serta memberi mereka kesempatan untuk hidup, tumbuh, dan berkembang.

Orang yang beriman tidak hanya sekedar dituntut mampu menjaga dirinya sendiri saja, tetapi diminta pula memikirkan anak dan keluarga yang lemah terutama tentang kesejahteraan hidup mereka di kemudian hari. Allah SWT mengingatkan kita, hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar:

"Walyahsya alladzina lau taraku min khalfihim dzurriyyatan dhi’afan khafu ‘alaihim Falyattaqullaha walyaqulu qaulan sadida” (Q, 4, AN-Nisa, 9 )

Bandung, 8 Januari 2004