Bahasa

Manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial ia tidak bisa hidup sendiri, pasti memerlukan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari manusia saling berinteraksi satu dengan lainnya. Ketika mereka berinteraksi manusia menggunakan bahasa, baik bahasa dalam bentuk verbal (kata-kata) maupun non verbal atau yang seringkali disebut dengan bahasa tingkah laku atau bahasa isyarat, body language. Bahasa verbal bermacam-macam ragamnya, hampir tiap-tiap suku memilikinya. Sebagai contoh, konon di Irian Jaya diketemukan ada ratusan bahasa verbal yang ada di sana, termasuk yang bunyinya casciscus kaya suara burung.

Bahasa non verbal pada umumnya bersifat universal, di mana pun sama. Sebagai contoh, menangis, di Timur maupun di Barat, Utara ataupun Selatan sama saja. Suatu saat orang menangis karena berduka, di lain waktu tangis bisa merupakan ekspresi bahagia. Di kala sedang bersuka ria, manusia di belahan bumi mana pun mengekspresikannya dengan tertawa. Terlalu sering ketawa-tawa, itu sih lain lagi artinya. Tentu saja di dunia ini pasti saja ada perkecualiannya, seperti menggeleng dan mengangguk, konon sebuah suku di Madagaskar justru berbeda pengertiannya dengan umumnya orang, menggeleng tandanya Yes dan mengangguk tandanya No.

Anak-anak kadang-adang lebih rasional ketimbang orang dewasa. Mereka umumnya jujur, cenderung bicara dan berbahasa apa adanya. Oleh karena itu ketika seorang anak dari Timur bertemu dengan anak dari Barat, sekalipun bahasa verbalnya berbeda, mereka lebih mudah berkomunikasi ketimbang orang tuanya. Berbeda sekali dengan dunia orang dewasa, komunikasi diantara mereka berjalan lambat, ada 'XYZ' nya, mungkin karena sudah terkontaminasi oleh berbagai macam kepentingan, politik, ekonomi, maupun sosial.

Berbeda dengan anak, orang tua dalam berbahasa cenderung lebih arif, akan tetapi terkadang sulit diduga dan diterka, apalagi kalau sudah masuk dalam dunia politik, bahasa mereka penuh basa basi, lain di mulut lain pula di hati. Yang jelas karena yang berbicara sesungguhnya pikirannya bukan hatinya, lisan hanya merupakan corongnya semata yang sebelumnya telah diproses oleh pikirannya dan akhirnya keluarlah bahasa. Sedangkan hati orang siapakah yang tahu ? Singkatnya memahami dan mengusai bahasa itu menjadi sangat penting.

Konon ketika Allah SWT menciptakan Adam AS selanjutnya Dia mengajari Adam menyebutkan nama-nama apa saja, 'allama adama al-asma-a kullaha' (kemampuan berbahasa), lalu mencerdaskan manusia lewat perantaraan kalam (wacana). Berkat penguasaan wacana tersebut malaikat memberikan hormat, tabik kepada Adam, sementara iblis dengki menyesatkannya. Boleh jadi karena itulah sepanjang sejarah selalu ada saja yang memuliakan bahasa dan ada pula yang mempermainkannya.

Bahasa dilakukan sebagai ungkapan rasa yang dikandung hati seseorang yang sumbernya dari akal pikiran. Mantan Rektor IPB, Prof.Dr.Andi Hakim Nasution, di harian yang sedang anda baca ini pernah menulis sebuah kolom dibawah judul yang mengundang pertanyaan. Betapa tidak, sebab Andi Hakim menjajarkan 23 huruf jadi satu kata yaitu ANAKBANGKONGNGALAGURAME. Apa maksudnya, itulah bergantung dari jalan fikiran atau ide yang dikandung yang mengucapkannya. Oleh karena itu bila salah membacanya atau salah meletakkan komanya bisa berbeda arti. Maksudnya bisa jadi, ngala gurame (menangkap ikan gurame), dapat pula maksudnya, ngalagu rame (bernyanyi ramai).

Orang yang dapat berbahasa dengan benar menunjukkan jalan fikirannya lurus, logis. Bahasa yang tertib mencerminkan cara berpikir, sikap dan tindakan yang tertib pula. Sebaliknya siapa pun yang tidak logis bahasanya menunjukkan jalan pikirannya kacau dan siapa yang ngacau omongannya bisa-bisa dianggap sebagai orang yang tidak genap alias gila. Imam Ali Karrama Allah Wajhah mengatakan, janganlah engkau mengatakan apa saja yang engkau ketahui tetapi ketahuilah apa yang akan engkau katakan, la taqul kullama ta’rif, bali’rif kullama taqul..

Seorang paedagog, Dr.Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya Pendidikan Anak dalam Islam menuliskan 7 (tujuh) sasaran pendidikan yang harus diperhatikan, salah satunya adalah pendidikan logika, akal, intelektual. Yang dimaksud dengan pendidikan rasio, akal adalah membentuk (pola) pikir anak dengan segala sesuatu yang bermanfaat, berakhlak, bebudaya dan berperadaban. Pemberian mata pelajaran bahasa ditunjang Matematika dan IPA kepada anak didik diharapkan dapat menuntun anak berpikir logis sehingga pada akhirnya mereka dapat berbahasa dengan baik, benar dan enak didengar serta tidak menyakitkan orang.

Para Rasul diutus ke dunia ini selalu menggunakan bahasa kaumnya (Q, 14, Ibrahim, 4). Mereka menggunakan bahasa yang yang baik, qaulan ma’rufa, yang benar, qaulan sadida, yang lunak, qaulan layyina, yang pantas, qaulan maisura, maksudnya boleh jadi selain agar pesan-pesan yang dibawanya dapat mudah terkomunikasi, juga bisa enak didengar dan akhirnya masuk ke dalam hati. Nabi mengajarkan, berbicaralah kepada orang lain sesuai dengan kadar ukuran pikiran mereka, khatibun nasa ‘ala qadri uqulihim.

Bandung, 24 Januari 2001