Batas

Beberapa minggu yang lalu Harian Umum Pikiran Rakyat menyoroti fenomena Crayon Sinchan, tokoh anak-anak rekaan pengarang Jepang yang keusilan dan kesablengannya disuguhkan dalam bentuk komik. Akibatnya bacaan (yang kemudian difilmkan dan ditayangkan salah satu stasiun televisi kita) yang seharusnya dikonsumsi remaja ini kemudian menjadi makanan anak-anak juga. Ketika anak-anak dapat menyaksikan tontonan yang sebenarnya diperuntukkan buat orang dewasa, atau begitu mudahnya para remaja mengakses sitis-situs porno internet, maka secara sosiologis batas antara dunia anak-anak, remaja dengan dunia orang dewasa boleh dibilang sudah tiada. Tidak ada lagi rahasia yang masih tersisa buat anak-anak.

Kekerasan mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pembunuhan kini tidak lagi merupakan sesuatu yang mengerikan, menakutkan, menyakitkan, membangkitkan perasaan sedih atau sadis. Kekerasan dan pembunuhan kini sudah menjadi komoditas yang dijual oleh media massa, cetak maupun elektronik, dan karenanya orang terilhami untuk menirunya. Jiwa manusia adakalanya tidak lebih berharga dari sebatang rokok, hanya karena uang ratusan seseorang berani membunuh temannya. Membunuh orang suatu saat sama gampangnya dengan mematikan seorang tokoh dalam serial senetron. Jika demikian, hilanglah batas antara berani mati , nekad dan tega.

Kebebasan hasrat, kebebasan untuk mengekspresikan diri begitu nampak dalam dunia fesyen. Perempuan bebas mempertontonkan bagian-bagian tubuh yang seharusnya ia tutupi. Jikapun tertutup, mereka masih dapat menyuguhkannya dengan balutan kain tipis atau busana super ketat. Selain pemuja keindahan, wanita adalah makhluk yang senang akan pujian. Pertanyaannya sekarang, benarkah mereka hanya bermaksud menampilkan keindahan bukannya memuaskan nafsu 'hewani'-nya sendiri, menggoda dan menantang lawan jenis? Ketika reaksi yang mereka terima atas penampakkan keindahan itu bukan lagi pujian, melainkan pelecehan, hilanglah sudah batas antara artistik dan pemuasan hawa nafsu.

Tidak mau ketinggalan oleh para wanita, kaum pria kini semakin dituntut untuk tampil gaya. Bahan-bahan halus yang dahulu hanya diperuntukkan buat wanita, kini laki-laki pun bisa mengenakannya. Ketika wanita berlomba-lomba melepas busana, para pesohor pria mulai mengenakan mode pakaian yang mirip-mirip busana wanita. Laki-laki yang lemah gemulai kini mulai mendapat tempat. Gay, homo, yang dahulu terkucil, perlahan-lahan sekarang memperoleh pengakuan. Di beberapa negara, pasangan sesama jenis (homo atau lesbi) bebas hidup bersama, membentuk keluarga, bahkan dapat mengadopsi anak pula. Melalui operasi, seseorang yang merasa memiliki kelainan bebas menentukan jenis kelamin yang diingininya. Ditambah dengan emansipasi yang tak henti dituntut perempuan, batas antara pria dan wanita pun meluntur jadinya.

Dalam sebuah wawancara televisi, seorang artis film yang berani beradegan buka-bukaan pernah dengan sangat ringan berkata: "Tuhan pasti deh sayang sama gue. Dia ngasih apa yang gue minta".

Tuhan memang milik siapa saja, tetapi berhubungan dengan Tuhan seyogianya dilakukan dengan tatakrama tertentu. Jika berharap berada dekatNya sehingga segala pemberianNya merupakan bukti kasih sayang dan bukan ujian/sindiranNya, tidak ada jalan lain, kita harus melakukan perintahNya sekaligus menjauhi laranganNya. Merasa dekat Dia sambil melanggar laranganNya tanpa rasa berdosa, menghilangkan batas antara yang sakral dan yang profan (tidak suci).

Hipokrit alias kemunafikan adalah fenomena lain yang kita lihat. Penegak keamanan yang menjajakan pengawalan di jalanan, para penegak hukum yang menjual keadilan di dalam sebuah sidang pengadilan, para politisi yang mengobral kepalsuan dalam kampanye, debat dan kehidupan politik. Kita juga bisa melihat sibuknya para konglomerat berpacu dalam perkembangbiakan usaha dan kekayaan di atas pemiskinan orang lain, juga praktek KKN yang menjamur dalam seluruh sektor kehidupan. Fenomena ini menunjukkan telah melunturnya batas antara profesionalitas dan aji mumpung.

Batas-batas sosial atau tata nilai itu sering-sering amat tipis adanya. Tanpa niat yang tulus dan tekad yang kuat, amatlah mudah bagi kita untuk melanggar atau mencampur adukkan keduanya.

"Dan janganlah kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahuinya"
(Q, 2, Al Baqarah 42)

Bandung, 25 April 2001