Birth day

Tiap tanggal 17 Agustus, HUT RI diperingati secara meluas, hidmat sekaligus meriah. Hampir semua orang mengucapkan selamat, sekalipun tidak jelas siapakah yang sesungguhnya diselamati. Diperoleh melalui perjuangan panjang yang melelahkan, didapat dengan air mata dan darah para pejuang, kemerdekaan memang patut disyukuri. Selamat ulang tahun ke 55 Republik Indonesia, dirgahayu.

Ulang tahun kemerdekaan diperingatibukan hanya dengan upacara resmi. Berbagai keriaan diadakan mulai dari tingkat RT/RW hingga ke lembaga yang lebih tinggi. Tidak biasanya bapak-bapak sibuk dengan kuali dan kompor, ibu-ibu rame berlomba menghabiskan kerupuk, anak-anak asyik bermain balon. Tua muda larut dalam kegembiraan, sekali dalam satu tahun. Begitukah cara bersyukur? Mestikahulang tahun dirayakan?

Ada yang memandang ultah sebagai suatu yang niscaya, budaya yang mesti dilestarikan. Sesederhana apa pun hari lahir perlu diperingati; sekedar membagi-bagikan kue di sekolah, peringatan kecil-kecilan di rumah, atau mentraktir teman-teman di kantin maupun kafe. Perayaan di restoran terkenal atau hotel berbintang, belakangan ini menjadi trend di kalangan orang berduit. Tercatat beberapa artismenyelenggarakan ulang tahun putera-puteri mereka, bahkan yang masih balita, di hotel berbintang denganbiaya yang wah.

Tidak pernah ada contoh, terlebih perintah formal penyelenggaraan peringatan ulang tahun. Karena itu lah barangkali, tak pernah tercatatAl-Khulafa ArRasyidin mengadakan peringatan ulang tahun, apa pun bentuknya. Karena tidak ada contoh dari Rasulullah, beberapa kalangan mengangap hal itu sebagai bid’ah. Kalangan lain menganggap, peringatan ultah boleh-boleh saja hukumnya. Alasannya, sekalipun tidak ada perintah formal, larangan tegas pun tidak ada.

Bukan hanya itu. Allah menyampaikan ucapan selamat atas lahirnyaNabi Yahya(Al-Qur’an, 19, Maryam,15) dan Nabiyullah Isa Alaihimasalam (Al-Qur’an, 19 Maryam, 33). Hal itu oleh sebagian orang ditangkap sebagai isyarat bagusnya memperingati hari-hari penting. Bukankah Rasulullah SAW pernah menyatakan, Takhallaqu bi’akhlaqillah, teladanilah akhlak Allah. Boleh jadi dari sana timbullah kemudian Peringatan Maulud Nabi, Hari Natal, Isra Mi’raj, Nuzulul Qur’an dan kemudian munculnya budaya Hari Ulang Tahun Kelahiran. Entah persisnya kapan peringatan-peringatan itu dimulai.

Khusus ulang tahun kelahiran,seorang ulama senior menyarankan agar peringatannya diadakan berdasarkan hitungan tahun Hijriah. Kalender Hijriah, memnurut beliau, adalah manath al-taklif tempat dikaitkannya syariat agama, seperti puasa itu tidak bisa tidak pasti pada bulan ramadhan, haji pasti padabulan Dzul Hijjah.Kaitannya dengan Ulang Tahun ? Rasul pernah menyatakan, perintahkan putera-puterimu melakukan shalat pada waktu berumur 7 tahundan 'pukullah' mereka(kalau tidak melakukan shalat)pada usia 10 tahun dan sekaligus relakan mereka tidur sendirian. (HR.Al-Hakim dan Abu Dawud dariAmr ibnul ‘As). Memperingati ultah ke tujuh berdasarkan kalender hijriah berarti 77 hari ( dua setengah bulan) lebih cepat dibanding menyelenggarakannya sesuai tahun Masehi, karena tahun Hijriah 11 hari lebih cepat dari tahun Masehi. Bukankah lebih baikmengajarkan shalatkepada anaklebih cepat.

Pada hakikatnya setiap kali membicarakan atau menyelenggarakan HUT, hari ulang tahun apa saja, sesungguhnya pelaku sedang berbicara tentang tiga dimensi waktu, yaitu dimensi masa lampau, masa kini dan waktu yang akan datang. Dimensi masa lampau yang dijadikan sebagai pelajaran, dimensi masa kini di mana subyek merenung, menatap dengan maksud mengambil i’tibar, pelajaran, guna diproyeksikan ke waktu yang akan datang.

Masa lampau sudahlah lewat. Siapa pun dia, betapapun hebatnya, walau bagaimanapun pinternya atau walaupun bagaimana kuasanya seseorang tidaklah mampu menghadirkan masa lampaunya ke saat ini. Masa lampau hanyalah sekedar kenangan, itupun bagi yang punya ‘sweet memories’. Sebaliknya waktu yang akan datang sesungguhnya masih dalam bentuk daftar keinginan, sebab belum tentu kita dapat sampai ke sana. Karena itu yang lebih penting adalah bagaimanamelakukan apa yang bisa dilakukan sekarang ini sesuai dengan petunjuk Ilahi dan tuntunan Nabi. Jangan engkau menunda-nunda apa yang dapat engkau lakukan hari ini karena esok belum tentu engkau dapat melakukannya.

Bandung, 16 Agustus 2000