Edan

Dunia memang sudah "edan". Itulah kalimat pertama dalam salah satu tulisan di Pikiran Rakyat 5 Oktober 2001 lalu. Perkara siapa yang edan atau masalahnya apa akhirnya tak perlu diperdebatkan, karena sudah bukan merupakan rahasia lagi. Edan adalah sebutan lain dari tidak waras alias gila atau dengan istilah lain yang lebih keren, abnormal.

Abnormal artinya "menyimpang dari yang normal". Sebaliknya seseorang yang disebut normal adalah individu yang bersih dari simptom-simptom klinis tertentu yang sudah dikenal, demikianlah menurut kajian Psikologi Abnormal. Berangkat dari tesis tersebut, seseorang dianggap abnormal apabila pikirannya dihinggapi penyakit atau banyak penyakit alias kepalanya dipenuhi masalah atau banyak persoalan.

Kalau kriteria ini diikuti sepenuhnya berarti di dunia ini tidak ada yang normal, sebab pada kenyataannya tidak ada seorang pun manusia yang tidak punya masalah. Begitulah tandanya manusia itu hidup. Pantas kalau Szas dalam bukunya ‘The Myth of Mental Illnees’ akhirnya menyatakan bahwa penyakit jiwa hanyalah dongeng belaka. Dari pernyataannya tersebut nampaknya Szas bermaksud menegaskan bahwa harus ada sesuatu norma yang jelas dahulu sebelum mengatakan seseorang itu normal ataukah abnormal.

Sesuatu yang berbau abnormal, gila atau edan seringkali dihubungkan dengan ramalan pujangga istana Surakarta, Ronggowarsito yang di akhir abad ke 19 mengisyaratkan akan datangnya “zaman edan” seperti yang ditulis dalam puisinya Kalatida. Kata-kata itu sampai sekarang masih relevan dan sering dikutip orang menakala krisis budaya dan krisis moral melanda dalam masyarakat.

Krisis budaya yang mendasar bersumber pada budaya konsumtifisme yaitu pemujaan berlebihan terhadap uang alias gila harta. Manusia sepertinya tak ada lain yang dipikirkan kecuali mengumpulkan fulus, “do it” sebanyak-banyaknya. Harga manusia ditentukan oleh jumlah rekening banknya, credit cardnya, oleh kemewahan rumahnya, kemutakhiran kendaraannya dan sederetan gelar kesarjanaan di depan atau di belakang namanya. Untuk apa itu semua? Untuk sesuatu yang bersifat hedonisme, hanya sekedar memperoleh kesenangan dan kepuasan, kenikmatan duniawi.

Selain budaya konsumtifisme, kita juga dapat menenggarai terjadinya krisis moral. Seiring perkembangan zaman, pada kenyataannya norma-norma etika dan moral kian hari kian longgar saja. Seorang anak biasanya akan menilai orang tuanya kuno, kolot, tidak modern dan ketinggalan jaman. Namun kelak, ketika sang anak yang menyebut orang tuanya kuno, kolot, tidak modern dan ketinggalan jaman itu pada saatnya menjadi orang tua dari anak-anaknya, maka akan tiba gilirannya mendapatkan perlakuan yang sama oleh anak-anak mereka dan begitulah seterusnya. Barangkali orang-orang tua dulu tidak akan mengira bahwa di zaman ini ada sepasang kekasih yang dengan sengaja merekam adegan percintaan (di luar pernikahan) mereka sebagai kenang-kenangan. Oleh karena itu kita tidak dapat membayangkan, seperti apa modelnya ikatan sosial dua tiga genarasi yang akan datang.

Perbedaan penilaian normal dan abnormal, waras dan edan, akan terus terjadi sepanjang zaman. Tindakan George W.Bush membombardir Afganistan yang menyebabkan para pelaku ekonomi was-was dan ekonomi dunia semakin tidak jelas, dinilai normal oleh satu pihak, tetapi dipandang gila oleh pihak yang berseberangan. Protes keras yang dilakukan berbagai ormas Islam dinilai wajar oleh para pelaku dan pendukungnya, akan tetapi dalam waktu yang sama ada pihak yang menganggap hal itu sebagai tidak wajar, bahkan menggolongkannya sebagai aksi gila-gilaan. Gila-gilaan karena aksi itu dianggap akan merugikan seluruh bangsa.

Gila berbeda dengan gila-gilaan. Antara yang edan beneran dan yang pura-pura edan sesugguhnya bisa dibedakan oleh orang awam sekalipun, apalagi oleh para ahli. Mereka yang gila beneran, menurut catatan WE.Maramis dalam Ilmu Kedokteran Jiwa, gejala-gejalanya bisa dikenali lewat gangguan kesadaran, ingatan, orientasi, afek dan emosi, psikomotor, proses berpikir, persepsi, inteligensi, kepribadian atau gangguan penampilan Yang pura-pura edan memang sulit dikenali bila pelakunya seorang aktor atau artis kawakan. Akan tetapi yang pura-pura edan pada akhirnya pasti akan ketahuan. Sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai pasti akan tercium baunya, becik ketilik olo ketoro, begitulah kata peribahasa.

Agama memberi tempat khusus bagi orang gila (beneran). Orang yang betul-betul gila melakukan apa saja tidaklah berdosa, lagi pula kalau mati pun ia akan menjadi bunga-bunga sorga. Yang merepotkan adalah orang yang pura-pura gila, edan-edanan dalam segala hal, sebab bisa-bisa melakukan apa saja yang tidak terpuji dan bahkan berbahaya, tidak hanya membahayakan dirinya tetapi juga pada orang lain, dengan berlindung atas nama keedanannya. Akan lebih baik apabila energi yang dibutuhkan untuk aksi edan-edanan itu dipergunakan untuk melakukan aksi-aksi yang bermanfaat, untuk pribadi maupun orang lain.

“Sebaik-baik manusia, adalah orang yang paling mendatangkan manfaat bagi sesamanya” (HR. Imam Al-Qadha’i dari Shabat Jabir RA)

Bandung, 11 Oktober 2001