Emosi

“Kendalikan emosimu, gunakan akal sehat dan bersabarlah. Tuhan akan bersamamu !”, begitulah nasehat yang seringkali kita dengar dari orang bijak. Memang benar sekali fatwa itu sebab orang yang emosional adalah orang yang tidak sabaran dan sebaliknya mereka yang tidak sabaran dapat dikatakan sebagai orang yang tidak mampu mengendalikan berbagai macam keinginan.

Orang yang mampu mengendalikan berbagai macam keinginannya bisa dikatakan sebagai orang yang mampu mengendalikan emosi. Emosi adalah salah satu anugerah dari Yang Maha Rahman yang patut kita syukuri. Mensyukuri anugerah Ilahi berarti menggunakannya dengan pas sesuai dengan takaran dan kebutuhan, sebab kalau kekurangan akan menjadi hambatan dan bila kelebihan bisa-bisa mengakibatkan malapetaka dan menyebabkan rusaknya kehidupan. Kekhawatiran sebagai ekspresi perlindungan dan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya, selagi dalam batas kewajaran akan menjadi rambu bagi. Manakala dosisnya berlebihan, bukan hanya menyiksa, pasangan suami isteri bisa bubar jalan karenanya.

Tuhan memberikan emosi pada manusia untuk tujuan mulia, yaitu agar manusia hidup dengan aman, tenteram, damai dan bahagia. Manusia yang mampu mengendalikan emosi secara baik akan dapat meraih apa yang terbaik, karena pada dasarnya emosi adalah kekuatan yang luar biasa kalau dikendalikan untuk tujuan yang suci. Emosi akan menjadi suatu kekuatan yang ajaib, kalau manusia mampu mengendalikannya dengan arif dan bijak, dan sebaliknya emosi akan mendatangkan kehancuran manakala dibiarkan merajalela.

Kenyataan bahwa manusia lebih sering bertindak berdasarkan (bahasa) emosi ketimbang (bahasa) logika membangkitkan kesadaran kita akan pentingnya mengendalikan emosi untuk kemaslahatan bersama. Kalau di dalam hubungan antar sesama, manusia terbiasa berbicara dan bertindak dengan emosinya yang terkendali disamping logika yang sehat, maka Insya Allah di dunia yang kita tinggali ini tidak ada lagi yang namanya pertengakaran, peperangan dan kesengsaraan.

Suatu hal yang memprihatinkan kita semua bahwa di era reformasi ini sepertinya banyak orang yang lebih mengedepankan emosinya ketimbang akal sehatnya. Hanya untuk hal yang sepele saja gampang sekali orang bertindak emosional, membakar apa saja yang bisa dibakar tanpa berpikir apa akibatnya, pokoknya pukul dahulu urusan belakangan. Oleh sebab itu apapun alasannya, menggunakan anak-anak pelajar sebagai alat untuk memaksakan kehendak adalah suatu sikap yang tidak terpuji karena selain tidak mendidik juga akan mengakibatkan kesan kebencian yang abadi dan dendam tujuh turunan.

Manusia dapat mengendalikan emosi dan memanfaatkannya untuk mendapatkan kebahagiaan hidup. Hidup itu akan menyenangkan atau menyedihkan sangat tergantung dari kemampuan kita mengendalikan emosi. Emosi yang terkendali secara benar dapat menjadi kekuatan luar biasa yang mengubah hidup menjadi lebih baik. Sebaliknya ketidakmampuan seseorang mengendalikan emosinya bisa membuat kehidupan ini merana dan penuh malapetaka.

Permasalahannya, mengapa orang suka kekerasan dan bertindak emosional. Apakah ini memang suatu gejala psikologis dan sosiologis ? Ataukah historis ? Pengarang novel Italia, Ignazio Silone menganggap bahwa sikap emosional dan kekerasan hanyalah sikap primitif, akan tetapi orang-orang modern dan intelektual akhirnya emosional pula seperti mereka. Sikap emosional Qabil hingga tega membunuh saudaranya sendiri, Habil, pada umumnya dijadikan referensi pertama dalam sejarah manusia yang tercatat dalam Kitab Suci.

Kemajuan dalam bentuk urbanisasi dan teknologi boleh jadi menjadi penyumbang penting terhadap iklim kekersan. Di kota yang padat banyak sekali sasaran untuk melontarkan emosi kemarahan, sekalipun sasaran itu tidak harus berarti penyebab timbulnya sikap kemarahan. Dalam masyarakat beradab, industrialisasi dan komputerisasi, manusia tidak lagi memerlukan dorongan agresip. Tetapi langkah-langkah kehidupan yang sangat cepat, persaingan dan kejutan yang terus menerus dialami menyebabkan orang ‘terpaksa’ bertindak emosional, melakukan kekerasan umpamanya.

Setiap emosi dianggap murni kalau ia memberi kekuatan yang mampu mengangkat harkat dan martabat manusia. Sebaliknya emosi yang tidak murni hanya menguasai satu sisi saja dari kesadaran kita dan mendistorsi hidup kita. Kunci dari emosi murni adalah emosi yang terkendali, sementara orang bijak adalah insan yang tahu bagaimana mengendalikan emosi, memanfaatkannya sebagai kekuatan ajaib untuk pengambilan keputusan dan tindakan yang efektif. Caranya tidak lain kecuali dengan mengendalikan diri sendiri untuk selanjutnya bertindak sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh hati nurani

Agama diturunkan ke bumi pada essensinya menuntun manusia agar dapat menahan diri, tidak emosional. “Innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaqi” - Aku diutus ke dunia ini untuk membawa manusia berakhlak mulia, begitulah tegas sekali sabda Nabi.

Bandung, 21 Pebruari 2001