Fantasi

Tengoklah pusat-pusat perbelanjaan. Lalu lalang orang di sana, sebagian hanya untuk cuci mata, window shopping, sebagian memang hendak membeli sesuatu, sama sekali tidak menyiratkan krisis yang sedang melanda negeri ini. Dan gedung-gedung bioskop yang memutar film box office, tidakkah berduyun-duyunnya orang datang ke sana menunjukkan bahwa sebagian penduduk negeri ini tidak tersentuh krisis yang sempat mengguncang dan melemahkan roda perekonomian kita? Sebagian yang lain?

Pikiran Rakyat edisi Selasa 25 Juli 2000, melaporkan bahwa ratusan Kepala Keluarga (KK) di salah satu desa di Kab Bandung mengalami rawan daya beli. Sejumlah keluarga terpaksa makan oyek, sementara keluarga lainnya hanya mampu makan sekali dalam sehari. Dunia memang selalu begitu. Ketika sebagian orang tidak bisa membeli bahkan keperluan pokok sekalipun, sebagian lain menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang bagi saudara mereka merupakan suatu kemewahan, yang mungkin hanya ada di dunia khayalan.

Khayalan, itulah barangkali yang dijual berbagai program hiburan televisi kita. (seolah-olah) Begitu mudahnya orang atau keluarga memperoleh uang jutaan, menggiurkannya hadiah yang ditawarkan acara-acara quiz, padahal pertanyaannya hanya seputar suatu produk yang sedang dipromosikan. Dan begitu mewahnya setting suatu sinetron, seolah mengajak pemirsanya untuk (beberapa saat?) lari dari sesaknya dunia nyata, berfantasi seakan-akan.

Sulap atau apapun namanya kini banyak dipertunjukkan di televisi dan kemudian digemari. Deddy Corbuzier, banyak diminati karena dia tidak sekedar mampu bermain sulap saja, tetapi juga ‘atas nama ilmiah’ ia pandai mengajak dan menggiring orang “bermimpi” menghayal ke ‘dunia fantasi’, mirip dengan sihir yang dimusuhi oleh ajaran agama. Dan anehnya banyak orang terpesona seperti halnya para pengikut setia Fir’aun terpesona walau pada akhirnya Nabi Musa mengalahkannya. (Q, Thaha, 66 – 68).

Di akhir salah satu pertunjukkannya, Deddy yang tidak mau disebut illusionis apalagi pesulap itu mengatakan, “Janganlah anda berpikir bagaimana saya melakukannya, berpikirlah bahwa sesuatu yang menurut anda tidak mungkin, bisa saja suatu saat dapat anda lakukan.” Deddy benar, Musa ‘alaihissalam yang semula ketakutan karena untaian tali yang dilemparkan tukang-tukang sihir Firaun terbayang di matanya seolah-olah merayap seperti ular itu, atas kehendakNya dapat mengalahkan mereka. Tongkat yang Musa lemparkan (terbayang seolah-olah) menjadi seekor ular besar yang memakan ular-ularnya begundal-begundal Firaun.

Fantasi dimiliki oleh orang dari segala lapisan umur, anak-anak maupun orang dewasa. Untuk mengurangi atau menghilangkan kekecewaan dan ketakutan, maka enaklah untuk melamunkan segala sesuatu. Apakah tentang nilai rapor yang gemilang, menjadi bintang pelajar, menjadi pemain basket yang handal seperti Michael Jordan atau sebagai pemain sepak bola pencetak banyak gol bagaikan Zinedine Zidane. Pegawai teladan yang mendapat bintang penghargaan, aktris atau aktor tenar ataukah sebagai eksekutip yang namanya gilang gemilang, itulah beberapa prestasi yang mungkin diangankan orang.

Fantasi: keinginan yang tak terkabul dan kemudian dipuaskan dalam imajinasi. Atau dengan kata lain, fantasi adalah isi pikiran tentang suatu keadaan atau kejadian yang diharapkan atau diinginkan, tetapi dikenal sebagai tidak nyata. (WE.Maramis, Ilmu Kedokteran Jiwa, hal 115). Fantasi karenanya cenderung utopis, day dreaming, hanya bersifat khayalan semata-mata. Sebagai contoh, seseorang yang tidak dapat diterima dalam suatu kesebelasan, misalkan saja karena badannya terlalu kecil, dalam lamunannya ia mencetak bebarapa gol pada suatu pertandingan besar. Betapa menyenangkan, dalam lamunannya, ketika para penonton bersorak-sorak untuknya. Seorang anak yang kurang pandai, alih-alih giat belajar ia malah berfantasi menjadi pelajar teladan. Seorang pedagang yang mengalami kerugian besar mengangankan suatu transaksi yang sangat menguntungkan atau berkhayal memenangkan undian berhadiah miliaran.

Fantasi boleh jadi produktif dan bisa mungkin non produktif. Fantasi produktif dapat dipakai secara konstruktif untuk mempertahankan motivasi dan untuk menyelesaikan masalah segera seperti dalam imajinasi yang kreatif. Sedangkan fantasi non produktif hanya merupakan suatu kegiatan pemuasan khayalan untuk mengganti kekurangan prestasi atau pemuasan kebutuhan yang merangsang dan menaikkan prestasi. Dari sanalah dapat diketahui mana yang merenung dan mana yang fantasi. Mana yang tafakkur dan mana yang melamun. Kalau tafakkur, merenung, kontemplasi, hasilnya Insya Allah positif karena tetap berpijak pada alam realitas, sedangkan fantasi cenderung membawa pelakunya senantiasa hidup dalam dunia mimpi.

Seseorang yang selalu hidup di ‘dunia fantasi’, hidup dalam dunia mimpi, non prodiktif, ia tidak akan pernah memperoleh kebahagiaan sejati. Kakinya tidak pernah ‘menginjak bumi’ dan kepalanya tidak akan pernah ‘sampai ke langit’, karena pikirannya hanya melayang-layang di angkasa. Kekasihnya, kepinterannya, kedudukannya dan kekayaannya semuanya hanya ada di awang-awang. Dia lah komisaris dan merangkap Dirut sebuah holding company ’Khayal Jaya’. Orang yang senang berfantasi dan membiarkannya berkelanjutan tak terkendali, syetan pun akan dengan sangat senang hati menemaninya. Kalau setan sudah menjadi temannya maka akibatnya orang akan gampang melakukan kemungkaran dan kemaksiatan.

Agama tidak pernah mengajarkan berfantasi, menghayal tak terkendali. Isyarat untuk berfantasi pun tidak pernah ditemukan di dalam Kitab Suci.Yang banyak didapatkan justru himbauan untuk berbuat dan berbuat. Salah satunya menyatakan:

Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mu’min akan melihat hasil pekerjaanmu…” (Q,9, At-Taubah, 105).

Berbuat dan selalu berbuat , itulah rumus jitu agar kita terhindar dari fantasi yang melenakan.

Bandung, 26 Juli 2000