Frustrasi

Keinginan Herman menduduki jabatan penting di kantornya tinggal satu langkah lagi. Cita-citanya ingin menduduki jabatan itu sudah menjadi obsesinya sejak dahulu. Tetapi pada akhirnya kandaslah harapannya, kini tidak bisa tidak ia harus ‘hijrah’ ke kantor lain karena departemennya dilikuidasi. Akhirnya sebagai pegawai ia malas bekerja tidak rajin seperti kebiasaannya selama ini. Bahkan hari-hari terakhir ini ia tidak bergairah lagi bekerja. Ia sering mengunci diri di kamarnya, ia dilanda frustrasi.

Frustrasi adalah rasa kecewa yang dihadapi oleh individu sebagai akibat karena tujuan yang diharapkannya tidak tercapai. Frustrasi itu merupakan akibat dari 3T, (T)ujuan (T)idak (T)ercapai. Kelanjutannya ia memusuhi siapapun yang dianggap menghalangi bahkan terkadang memusuhi pada dirinya sendiri.

Mengapa bisa terjadi ? Kalangan ahli ilmu jiwa dan psiko analis berbeda pendapat mengenai masalah ini. Freud dan Lorenz berpendapat bahwa permusuhan merupakan dorongan alamiah. Namun banyak ahli ilmu jiwa lainnya tidak sepakat dengan pendapat tersebut karena hal itu memberikan konsepsi yang negatif dan pesimistis tentang tabiat manusia. Dengan wawasan yang demikian ini manusia akan nampak memiliki fitrah yang cenderung untuk melakukan kejahatan, permusuhan dan kejahatan pada sesamanya. Oleh karena itu Fromm dan Maslow cenderung untuk mengukuhkan aspek-aspek yang positif, kooperatif dan baik dalam tabiat manusia.

Kajian-kajian eksperimental modern membuktikan bahwa tingkah laku memusuhi timbul pada anak-anak kecil apabila gerakan-gerakan fisik mereka dibatasi hingga membangkitkan frustrasi pada diri mereka. Akibatnya timbullah tingkah laku memusuhi. Dalam masa perkembangan anak berbagai jenis hambatan yang menimbulkan frustrasi pada mereka semakin beraneka ragam. Misalnya seperti hambatan-hambatan sosial, hukum, ekonomi, politik dan psikis.

Dalam kajian lainnya membuktikan bahwa frustrasi tidak selalu mengakibatkan timbulnya tingkah laku memusuhi, kadang-kadang justru menimbulkan jenis-jenis tingkah laku yang lain seperti meminta bantuan dan pertolongan pada orang-orang lain.

Terlepas dari itu semua frustrasi bila dibiarkan berlarut-larut bisa menjadi sebab baru. Sebab baru itu merupakan aksi yang sudah barang tentu akan membentuk reaksi, reaksi frustrasi. Reaksi frustrasi bisa positip bisa negatip.. Disebut positif karena akibat yang ditimbulkannya menyenangkan, misalnya ditolak cinta akhirnya jadilah sebagai olahragawan yang terkenal. Sebaliknya kalau akibat yang ditimbulkannya tidak menyenangkan maka dinamakan negatip. Boleh jadi sikap mogoknya Herman bekerja karena ada masalah yang tidak bisa atau belum dapat diceriterakan kepada siapapun merupakan contoh dari reaksi negatip.

Reaksi negatip banyak bentuknya. Ada yang namanya agressi, penyerangan. Bila subyek kuat dan obyek lemah, maka biasanya agresi itu langsung sifatnya, agresi langsung, misalnya lawan akan dihantam langsung atau musuhnya akan dihajar hingga babak belur. Mungkin adanya berita pembakaran pencuri yang ketangkap itu salah satunya Namun kalau obyek lebih kuat, maka akan dilakukanlah agresi tidak langsung, merusak barang milik obyek misalnya, atau setidak-tidaknya menjelek-jelekkan namanya di depan umum.
Ada lagi yang disebut regresi. Regresi merupakan reaksi lain dari frustrasi. Perkembangan kepribadiannya berjalan mundur, usianya semakin tua akan tetapi tingkah lakunya menjadi kekanak-kanakan, infantil sifatnya

Mengilmiah-ilmiahkan alasan bisa dikatakan sebagai reaksi frustrasi pula, itulah yang dinamakan rasionalisasi. Obsesinya yang menggebu-gebu menjadi seorang kapiten, pelaut gagal hanya karena kurang satu syarat saja. Sekarang ini dia bicara, syukur saya ditolak menjadi kapiten, soalnya banyak kapal tenggelam. Kalau diterima bisa jadi mengalami nasib seperti 118 awak kapal selam Rusia Kursk K 141 yang menyelam kebablasan 12 Agustus setahun yang lalu.

Psikosomatis adalah penyakit zaman modern. Ini pun merupakan reaksi dari frustrasi. Secara bilogis tidak ada masalah, tetapi mengapa muncul gejala seperti halnya orang yang tidak sehat. Kepalanya selalu pening dan padahal dia tidak pernah berputar-putar. Kepala dan badan selalu saja digaruknya padahal dia orang yang sangat apik dalam menjaga kesehatan dan lagi pula tidak tergolong orang yang ‘manja’, mandi jarang. Perutnya sering sakit-sakitan dan padahal tidak salah makan atau tidak punya penyakit maag.

Bagi orang beragama, bila mau mengamalkan ajarannya dengan benar dan tidak setengah-setengah, tidak ada kamus frustrasi, artinya kekecewaan akan dihadapi dengan kacamata yang positif karena segala sesuatunya akan dikembalikan kepada Yang Maha Pengatur, pastilah ada hikmah dibalik yang diciptakanNya itu… “Rabbana ma khalaqta hadza bathila”. Lagi pula bisa jadi apa yang engkau benci justru akan membawa kebaikan kepadamu dikemudian hari. (Q, 2, Al-Baqarah, 216)

Bandung, 29 Maret 2001