Gila Kerja

Buat apa engkau kerja? Untuk mencari makan. Cari makan untuk apa? Buat bisa hidup. Untuk apa hidup? Biar kuat bekerja. Bekerja untuk apa? Untuk mencari makan. Makan untuk apa? Agar bisa hidup. Kerja, makan, hidup, kerja, makan, hidup. Lho, kok terus berputar?. Ibadah tempatnya di mana? Inilah bedanya filsafat orang yang beriman dan tidak beriman. Orang beriman segala sesuatu orientasinya ke ibadah sedangkan yang tidak beriman pikirannya terarah pada kerja dan makan.

Kerja itu tidak diam. Diam itu tidak beraktifitas baik dalam bentuk tindakan maupun pembicaraan. Akhir-akhir ini, sikap diam tidak lagi menjadi pilihan populer. Maklum, sekarang kan zaman keterbukaan. Rupanya ada kemerdekaan baru: bicara boleh, tidak bicara atau diam pun tidak dilarang. Namun barangkali massa menjadi alergi pada setiap sikap diam atau bungkam. Sikap diamnya Megawati, misalnya, menjadi polemik dan gunjingan. Diam bisa saja dianggap angkuh, dapat pula dikira bisu atau tidak kompeten. Diam, tenang, tidak beda dengan kuburan.

Menurut Kafi Kurnia, diam mirip dengan pintu yang tertutup. Pokoknya diam itu bisa menimbulkan aneka spekulasi. Sebaliknya tidak mau diam bisa dituduh cari perhatian, dapat pula dikategorikan tidak sehat, ada sesuatu. Para aktifis pada umumnya orang yang tidak pernah mau tinggal diam. Dalam pikirannya, kalau tidak melakukan kegiatan berarti dunia akan berhenti.

Ada model orang yang hobinya diam, tidak mau beraktivitas dan ada pula yang punya potongan tidak mau diam. Model kedua ada yang sehat dan ada pula yang tidak waras. Yang terakhir disebutkan jelas memendam banyak masalah, ada sesuatu yang kurang atau hilang. Para ahli jiwa mensejajarkan mereka seperti alkoholic, makanya disebutnya sebagai orang yang gila kerja, workaholic.

Alkisah ada seorang klien yang gila kerja, penyakitnya cari duit cari duit dan cari duit. Isterinya tidak mendapatkan perhatian dan hiburan pun dikalahkan oleh pekerjaannya. Isterinya jengkel. Karena sudah keterlaluan maka dibawanya ke psikolog. ‘Untuk apa ke psikolog??, menghabiskan waktu saja!’ tukasnya. Isterinya sangat sabar, tiap hari dia membujuk dan membujuk agar dia mau berkonsultasi. Kesabaran isterinya berhasil, sampai pula mendatangi sang psikolog. Oleh ahli jiwa hanya disarankan agar datang ke Arlington (kompleks pemakaman di daerah Virginia). Untuk apa ke kuburan? Tidak ada penjelasan, pokoknya datang saja ke sana. Singkatnya, setelah saran tersebut dilakukan, dia menengok saja ke kuburan hingga satu menit, dua menit, tiga menit dan akhirnya sampai lima menit. Karena di kuburan tidak ada pekerjaan apapun, maka sang klien akhirnya membaca batu-batu nisan, di sana ada George Wasington, Benjamin Franklin, Roosevelt, John F. Kennedy, dll. Setelah sederet batu nisan dibacanya, maka dari dalam pikirannya muncullah sebuah renungan, "Mereka para presiden Amerika Serikat yang hebat-hebat dan mereka sudah lama tiada. Namun walau mereka telah tiada, AS tetap jalan". Dari itu semua apa yang didapat? Ia menyimpulkan sendiri, itu artinya kalau saya sejenak berhenti bekerja, berhenti cari duit, ngurus isteri, istirahat, dunia pasti masih tetap akan jalan.

Gila kerja tidak hanya akan merusak diri tapi juga akan merusak keluarga dan bahkan akan mengacaubalaukan sitem silaturahmi.
Kata Nabi, dalam hidup itu ada haknya masing-masing. Sebuah nasehatnya yang sangat bijak menyatakan, “Ingatlah bahwa pada badanmu ada hak, pada isteimu ada hak, dst”