Godaan

“Mamah, do’akan saja mudah-mudahan nanti Andi bisa mencari ilmu, kuliah di Bandung dengan lancar di bawah naungan ridha Allah SWT.” Begitulah pinta Andi yang punya cita-cita tinggi kepada orang tuanya. Apakah orang tuanya segera mengiyakan?

Begitulah setelah adanya kasus VCD Bandung, banyak orang tua yang cemas kalau putranya bercita-cita pergi jauh dari orang tuanya, tidak seperti dahulu para orang tua manapun betul-betul bangga kalau anaknya bisa melanjutkan kuliah sekalipun jauh dari mereka. Memang beralasan, karena tinggal dekat dengan orang tuanya saja banyak tantangannya. Mengapa begitu? Karena zaman ini banyak godaan.

Dalam hidup ini selalu saja ada godaannya, terkadang bermacam-macam pula jenisnya, lebih-lebih lagi di jaman yang serba modern ini. Godaan banyak yang datang dari luar, tetapi tidak sedikit pula yang muncul dari dalam diri manusia itu sendiri. Lingkungan merupakan faktor eksternal yang gampang memperdaya manusia, lebih-lebih bagi yang tidak memiliki kepribadian yang kuat, extrovert.

Karena itu adanya nasehat, tetangga dulu baru tentukan rumah, Al-Jar gabla addar. sesungguhnya merupakan salah satu cara efektif menghadapi godaan.

Godaan adalah bujukan, hasutan, gangguan. Menurut WA Maramis, gangguan itu banyak macam dan jenisnya, bisa bersifat internal dan dapat pula eksternal. Ada gangguan badaniah, emosi, ingatan, intelegensi, jiwa, kebiasaan, kepribadian, kesadaran, mental, orientasi, penampilan, perhatian, prilaku, persepsi, pertimbangan, pola hidup, proses berpikir, psikiatrik, psikopatologik, psikosomatik dll.

Gangguan, godaan atau apapun namanya rupanya sudah merupakan hukum alam, sunnatullah, artinya setiap orang pasti punya permasalahan, satu atau dua saja. Allah Maha Adil, tidak pernah ada atau lebih tepatnya amat jarang sekali terjadi ada orang yang menghadapi seribu satu macam persoalan sekaligus. Yang melarat, bodoh tapi sehat segar bugar, sementara yang lain, pinter dan kaya raya tetapi sakit-sakitan. Rasanya amat jarang sekali terjadi ada orang yang bodoh, melarat sakit-sakitan dan sekaligus cintanya gagal.

Yang penting godaan harus dihadapi dan diperangi, bukan dihindari sebab ia akan terus datang menggoda. Berbahagialah mereka yang dapat memerangi dan mengalahkan godaan dan celakalah mereka yang kalah dan menyerah terhadap gangguan. Godaan adalah ibarat ujian, kalau dihadapi dan diperangi pelakunya akan semakin kuat. Hanya mereka yang memiliki mental yang kuat sajalah yang akan lulus ujian.

Memang secara alamiah manusia cenderung untuk memenuhi dorongan-dorongan yang senantiasa menggoda, membujuk dan mengiming-imingi kelezatan dan kenikmatan, padahal kenikmatannya hanya sesaat saja. Dari aspek inilah Iblis berhasil menggoda nenek moyang kita, Adam dan Hawa. Iblis menawarkan kepada mereka keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa, apabila mau makan buah pohon larangan, buah huldi namanya. Itulah sebuah godaan yang membikin mereka tidak tahan. Adam lupa akan larangan Allah dan akhirnya terjerumuslah ke dalam lembah kesalahan dan akhirnya diusirlah mereka dari sorga ke alam dunia.

Dari Adam alaihis salam dan Hawa kemudian berkembang-biaklah menjadi manusia yanag banyak, termasuk kita semua. Dengan cara dan modus operandi berbeda, syetan menggoda manusia ketika pada diri mereka dibangkitkannya hawa nafsu mereka yang membuat mereka terjerat pada godaan. Namun bagi yang kuat imannya kuat, betapun hebatnya godaan mereka tetap akan teguh dan tangguh, apalagi kalau disertai dengan doa dan permohonan kepada Dzat Yang Maha Melindungi.

Sejak 15 abad yang lalu Rasulullah SAW telah menyampaikan perhatian yang serius, wanti-wanti kepada umatnya agar jangan sekali-kali menjadi orang yang gampang diperdaya oleh godaan dunia, gampang diombang-ambingkan oleh apa kata orang, baik atau buruk pokoknya diikuti. Orang yang ikut-ikutan apa kata orang itu jelas tidak punya pendirian. Nabi SAW menyebutnya dengan imma’ah.

Sang Maha Pencipta mengajarkan kepada kita agar selalu memohon perlindungan dari berbagai macam godaan. Mudah-mudahan Allah SWT menjauhkan kita dari godaan, gangguan dan bisikan syetan, “Rabbi a’udzubika min hamasyatisy syayathin wa a’udzubika rabbi an yahdhurun” (Q, 23, Al-Mu’minun, 97 – 98)

Bandung, 22 Nopember 2001