Hadiah

Ny. Cicih mengurungkan niatnya untuk sekedar meluruskan badan di tempat tidur begitu mendengar berita bahwa Budi, anak ketiganya, masih belum juga pulang, jam 4 sore hari itu. Segera saja ingatannya melayang pada kejadian seminggu yang lalu, ketika Budi yang biasa berjualan asongan diciduk petugas gara-gara ia tergiur ikut ngamen bersama teman-temannya. Ujung-ujungnya, saat Ny. Cicih berniat membawa pulang sang anak, ia dimintai sejumlah uang oleh petugas gadungan yang menertibkan anaknya.

Untunglah, tidak sampai setengah jam kemudian Budi muncul dengan membawa kantung sembako dan amplop berisi uang. Cerita punya cerita, ternyata Budi telat pulang karena ikut mengantri di salah satu instansi yang tengah membagi-bagikan zakat bagi fakir miskin. Mendengar cerita sang anak, dalam kegembiraannya Ny. Cicih tak lupa memanjatkan syukur, anaknya tidak celaka terseret-seret dalam antrian rebutan zakat. Kekhawatiran sang ibu cukup beralasan, maklumlah mass media cukup gencar mewartakan kematian beberapa orang kaum dhuafa dalam dua peristiwa, pembagian zakat dan sumbangan.

Ironi memang, kegiatan mulia—membagi-bagikan zakat bagi para mustahiq dan mendistribusikan sumbangan bagi mereka yang kekurangan—berakhir dengan kematian beberapa orang dhuafa. Tragis teramat tragis, selembar kain sarung plus uang Rp 20.000,00 harus ditebus 4 orang ibu dengan nyawa mereka sendiri, payah-payah berdesak-desakan demi 20 kg beras, malah mengantarkan seorang ibu kepada kematian.

Dua peristiwa tragis dan menyedihkan tersebut terjadi di bulan Ramadhan yang suci tahun ini. Tewasnya 4 orang Ibu yang terinjak-injak sesama di rumah Habib Ismet di Jakarta Selatan Jumat (7/11) dan meninggalnya seorang ibu yang berdesak-desakan di antara 6.000 orang untuk mendapatkan sumbangan beras 20 kilogram di Padepokan Seni Bandung, (16/11) merupakan suatu fenomena yang menarik untuk direnungkan.

Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B Prasojo, melihat peristiwa tragis tersebut dari kacamata sosiologis. Menurut Imam, peristiwa tersebut memperlihatkan betapa akutnya kondisi kemiskinan yang dialami masyarakat. Kondisi yang sudah buruk itu kian diperparah dengan kultur masyarakat dalam menghadapi lebaran. Yang biasanya tidak ada: baju baru, sarung baru dan makanan yang lain dari yang biasanya disantap sehari-hari mau tak mau harus diada-adakan. Akibatnya, tekanan pemenuhan kebutuhan hidup yang pada hari-hari biasa dirasa berat, menjelang lebaran dirasa semakin berat oleh kaum tak mampu. Bukan suatu hal yang aneh, jika untuk memperoleh zakat atau sumbangan mereka rela berpayah-payah, sehingga keselamatan pun terabaikan dan nyawa pun dipertaruhkan.

Keinginan kaum papa untuk menikmati sesuatu yang lain dari biasa di bulan Ramadhan, bersambut dengan keinginan mereka yang berpunya untuk berbagi di bulan suci. Media massa, terutama stasiun-stasiun TV, memperlihatkan betapa para selebriti kita menikmati suasana kebersamaan dan senang berbagi rizki dengan kaum dhuafa. Ramadhan ternyata amatlah potensial untuk pemberdayaan pengelolaan Zakat Infaq dan Shadaqah. Barangkali karena janji pahala berlipa-lipat, minat orang untuk berderma demikian besar. Namun demikian, semaraknya kegiatan derma di bulan Ramadhan yaang belum diikuti dengan kondisi mendekati di bulan-bulan lain, menandakan bahwa pengelolaan potensi Infaq Zakat dan Shadaqah jelaslah belum optimal.

Ada kewajiban moral dan sosial dari setiap insan untuk membantu sesamanya, lebih-lebih terhadap yang memerlukan uluran tangan. Kemiskinan adalah harmoni kehidupan. Kemiskinan pada sebagian masyarakat sebenarnya mempunyai makna, yakni agar fungsi dan peran peran kelompok lain bisa berjalan sehingga terciptalah kedamaian dan kebahagiaan Yang kaya memperoleh kemudahan dan yang miskin mendapatkan kebahagiaan.

Kemiskinan adalah rahmat bagi mereka yang kaya, mereka adalah ladang terbuka bagi ditanamnya berjuta pahala. Karena orang miskin, derajat kemanusian orang kaya terangkat lewat sikap dermawan dan kasih sayangnya. Karena adanya orang miskin pula, orang kaya bisa mudah malaksanakan kewajibannnya membayar zakat, shadaqah dan lain-lainnya.
Ada kewajiban individu tapi juga ada kewajiban negara. Dalam konteks kehidupan bernegara, sebenarnya negara lah yang paling wajib melindungi dan menjamin kelangsungan, serta pemenuhan hak-hak hidup warga negaranya yang miskin, termasuk di dalamnya nasib anak-anak yang terlantar. Sikap keperdulian tersebut jelas bukan merupakan hadiah, tetapi sebagai suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh siapapun yang menjadi pempinan.

Rasulullah SAW bersabda :

Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya, Kullukum ra’in wa kullukum masulun ‘an ra’iyyatihi... (HR.Imam Bukhari Muslim dari Ibnu Umar RA)

Bandung, 20 November 2003