Hepeng (Uang)

Uang adalah segalanya, begitulah kata orang. Pendapat tersebut ada benarnya, karena pada kenyataannya dengan uang orang bisa berbuat ‘apa saja’ dan mendapatkan ‘apa pun’ yang dimauinya. Dengan uang, seorang pria bermodal fisik apa adanya bisa dikerubungi wanita-wanita cantik berparfum wangi. Dengan uang pula kaum hawa yang kurang puas dengan tampilan fisiknya bisa mendatangi salon hingga dokter ahli bedah plastik untuk memperbaiki penampilannya. Uang bisa menaikkan peringkat siwa yang prestasinya ‘kedodoran’, melalui jalur yang benar semacam mengikuti pelajaran tambahan, ataupun jalan pintas. Uang bisa mendongkrak popularitas seorang pejabat, atau menghindarkannya dari hukuman, pokoknya segala sesuatunya bisa diatur dengan uang.

Uang bisa menyambung tali silaturrahim, memutuskan hubungan persaudaraan, menciptakan perdamaian, mengobarkan permusuhan dan bisa pula meletupkan peperangan. Uang bisa membikin orang dapat kerja penuh semangat dan karena uang pula orang bisa dibuat lesu darah kurang tenaga. Uang dapat memerintahkan orang berbuat jujur, tetapi dapat pula menginstruksikan orang menjadi penipu. Karena uang banyak yang melakukan penipuan dan karena uang tidak sedikit pula yang tega melakukan pembunuhan.

Apa yang tidak bisa dibeli dengan uang? Para pengunjuk rasa yang berteriak keras dan bersuara lantang itu, sudah bukan rahasia lagi banyak diantara mereka yang berprofesi sebagai demonstran bayaran. Dalam bentuknya yang tak terlihat dan menjelma menjadi sekedar jumlah, kekuatan uang bisa lebih fantastis.

Seakan benda khayal yang berpindah dari satu rekening ke rekening lain, uang bisa mengatur transaksi spektakuler. Vonis hukuman di pengadilan, Surat Keputusan suatu jabatan, atau keputusan untuk mempermalukan seseorang dengan mempublikasikan aib yang bersangkutan di media massa. Pantaslah kalau UUD, yang semula merupakan akronim dari Undang Undang Dasar kini diplesetkan jadi Ujung Ujungnya Duit.

Sehubungan dengan uang, ada beberapa pepatah yang dikenal masyarakat: "Ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang", begitulah bunyi salah satu kata bijak itu. Pepatah yang lebih berpihak kepada kaum pria itu tetap bertahan sampai saat ini. Sebagai penyeimbang, tak ada salahnya dimunculkan pepatah baru yang berpihak kepada perempuan: "Tak ada uang adik disayang, kebanyakan uang abang melayang".

“Waktu adalah uang”, time is money, merupakan kata bijak lain yang dikemukakan Benjamin Franklin lima abad yang lalu. Pepatah ini sangat terasa kebenarannya dalam urusan bertelepon. Walau Telkom menganjurkan kepada pelanggannya untuk berbicara secukupnya, tetapi ternyata tidak banyak yang mematuhinya. Terbukti masih banyak penelepon yang ngelantur dalam pembicaraan, pantaslah kalau rekening tagihan jadi membengkak.

Ketika istilah uang disebut orang, terbayanglah kita pada selembar kertas, sepotong tembaga atau sekeping timah yang berharga, atau bahkan sekeping perak atau emas. Semula, kepingan kertas, tembaga atau timah itu hanyalah benda biasa saja. Akan tetapi, setelah memperoleh pengakuan umum dan mendapatkan legalitas dari penguasa dan akhirnya bisa dijadikan alat tukar untuk apa saja, dalam bentuk uang, benda-benda itu kemudian menjadi berharga.

Konon uang kertas adalah ciptaan bangsa Cina, yang mula-mula dicoba pada tahun 900 Masehi dan lazim dipakai mulai tahun 870 Masehi. Uang kertas (banco-sadlar) yang paling awal di dunia dikeluarkan di Stockholm, Sweden, pada bulan Juli 1661. Uang kertas yang paling tua yang masih ada sekarang adalah sehelai uang bernilai 5 daler yang dikeluarkan pada tanggal 6 Desember 1662. Dalam sebutan apapun, dinar, dollar, rupiah, lira, ringgit dan sebutan lainnya, uang tetaplah merupakan sarana untuk memperoleh harta kekayaan.

Uang dan harta merupakan saudara kembar. Keduanya dicari dan diburu tidak kenal waktu, di manapun, kapanpun dan oleh siapapun. Ketika keduanya berada dalam genggaman, sayangnya kita suka lupa memandang harta dan uang sebagai anugrah semata, bukannya ujian dari Yang Maha Kuasa. Kecintaan berlebihan kepada harta yang diperlihatkan dengan menyibukkan diri dengannya, akan membutakan mata hati dan pikiran sehingga lupa kepada Sang Pencipta.

Kebiasaan kita memang terbalik, dekat kepada Sang Pencipta di saat sengsara dan lupa kepadaNya ketika sedang bergelimang harta. Seharusnya, justru di saat sedang bergelimang hartalah upaya untuk mendekatkan diri kepadaNya lebih besar. Dalam situasi itu, selain memohon keselamatan diri, kita juga perlu memohon agar harta yang kita miliki bermanfaat dan bisa menjadi modal beribadat. Lupa bahwa harta yang kita punya merupakan titipanNya membuat kita jadi egois, tidak menghiraukan penderitaan sesama. Bukan hanya itu, keinginan untuk menumpuk harta kekayaan tak jarang menimbulkan perselisihan di antara sesama.

Nabi bersabda, tiap-tiap ummat itu ada fitnahnya dan fitnah yang akan melanda ummatku adalah harta, Inna lukulli ummatin fitnatun, wa fitnatu ummaati al-malu” (HR Imam Bukhari dari Sahabat Ibnu Mas'ud)

Bandung, 4 Oktober 2001