Ibadah Haji Suatu Tinjauan Psikologis

Mukaddimah

Haji adalah rukun Islam kelima, dan diwajibkan pada tahun ke 6 sesudah Hijrah.

“Rasulullah SAW ditanya, amal mana yang paling utama? Beliau menjawab, Iman kepada Allah. Kemudian apa ya Rasul? Beliau menjawab, Jihad fi sabilillah. Kemudian apa lagi ya Rasul? Beliau memberikan jawaban, Haji mabrur” (HR.Imam Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra)

Ibadah haji boleh dibilang merupakan ibadah yang istimewa, karena sesungguhnya orang yang mampu melakukan haji berarti ia dapat melaksanakan tiga kewajiban sekaligus; yaitu shalat, zakat dan shaum. Beralasan, karena selama berpredikat muslim, termasuk saat berhaji, siapa pun tidak bisa meninggalkan shalat. Haji juga sekaligus berzakat karena melaksanakan haji perlu dana, baik untuk ongkos maupun buat bayar denda, dam. Haji juga sekaligus melakukan shaum karena selama haji ada hal-hal halal yang menjadi haram.

Rasulullah SAW menyebutkan haji setelah jihad fi sabillah, hal itu menunjukkan bahwa haji hampir sama dengan jihad, dan memang memerlukan semangat jihad. Betapa tidak, karena jamaah haji harus mengerjakan serentetan acara ritual dalam waktu tertentu, berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dan dikerjakan secara massal; yang sudah pasti menguras energi, fisik maupun mental.

Ibadah haji akan lebih dipahami dan pelaksanaannya akan mudah dilakukan jika dikaitkan dengan pendekatan psikologis, karena tingkah laku manusia tidak dapat dipisahkan dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun psikis. Woodwort dan Marquis dalam Psychology merumuskan bahwa Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam kaitannya dengan lingkungan, “Psychology is the scientific studies of the individual activities in relation to the enviroment” (Woodwort & Marquis, 1978)

Haji, Kerinduan versus Kekhawatiran

Setiap muslim pasti mempunyai obsesi untuk melaksanakan ibadah haji, akan tetapi tidak semua keinginan manusia dapat terpenuhi. Pada umumnya, orang tidak bisa pergi ka tanah suci karena tidak memiliki bekal materi yang cukup, alias kondisi ekonominya tidak memenuhi. Ada juga orang yang keberangkatannya ke tanah suci terganjal alasan kesehatan, fisik maupun psikis. Dalam kondisi tidak aman, misalnya dalam situasi perang, orang sehat yang memiliki kelimpahan finansial pun bisa saja harus menunda keinginan mereka untuk menunaikan ibadah haji.

Haji merupakan ibadah khusus, yang memerlukan persyaratan istitha’ah, alias kemampuan: yakni kecukupan materi, kesehatan prima, dan keadaan aman, Wa lillahi ‘alannasi hijjul baiti manis tatha’a ilahi sabila (Q, 3, Ali Imran, 97).

Namun demikian, tidak berarti semua orang yang sudah memiliki semua persyaratan dapat begitu saja menunaikan ibadah haji. Kenyataannya, tidak sedikit orang yang kondisi sosial ekonominya sangat-sangat mendukung, kesehatan fisik psikisnya prima serta keinginannya melaksanakan haji pun besar, tetapi yang bersangkutan belum bisa melaksanakan haji. Persoalannya adalah karena kesempatannya tidak kunjung datang, dan pada sebagian orang, kesempatan itu tetap tidak datang bahkan hingga malaikat Izrail keburu menjemput.

Dalam hal ini, kesempatan, yang terkadang diistilahkan dengan panggilan, merupakan perpaduan antara tekad dan rahmat. Tekad adalah niat yang disertai upaya sungguh-sungguh, sedangkan rahmat adalah ketentuan Allah, yang boleh jadi merupakan jawaban atas upaya yang dilakukan ummatNya. Rahmat merupakan otoritas Allah, adapun manusia hanya bisa mengoptimalkan upaya agar dapat meraihnya.
Dalam upaya meraih rahmat inilah terkadang manusia dihinggapi lemah tekad, yang bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti kesibukan kerja, dan ketidaksiapan mental. Kesibukan kerja biasanya dialami oleh mereka yang memiliki jabatan tertentu, namun hal ini dapat disiasati dengan mengikuti program haji non reguler seperti ONH Plus, atau minta dispensasi agar bisa pulang lebih awal. Ketidak siapan mental bisa menghinggapi siapa saja, orang biasa sampai pejabat, orang awam hingga ilmuwan; dan terapinya hanya bisa dilakukan jika yang bersangkutan siap dan pasrah.

Ada berbagai hal yang menyebabkan orang tidak siap secara mental untuk menunaikan ibadah haji: merasa belum pantas bertamu ke rumahNya karena memiliki banyak dosa, tidak siap melaksanakan ibadah haji yang dikesankan khusus dan berat, atau khawatir bakal mengalami hal-hal menakutkan seperti yang diceritakan orang-orang yang sudah berkunjung ke tanah suci.

Menyikapi Pengalaman-Pengalaman Jamaah Haji

Setiap jamaah haji tentunya memiliki pengalaman yang berbeda-beda, namun secara umum yang dialami jamaah terbagi kepada 2 hal yang saling bertentangan: menyenangkan atau tidak menyenangkan, logis atau tidak logis, fisis atau metafisis.

Banyak hal yang dialami jamaah seyogianya dianggap sebagai sesuatu yang tidak istimewa, dengan kata lain bisa terjadi pada perjalanan biasa. Pelayanan yang buruk, konflik antar jamaah, ketinggalan atau kehilangan barang, terinjak, keramaian yang bikin sumpek; hanyalah akibat dari berkumpulnya jutaan orang dalam area yang luasnya terbatas. Schopler & Stockdale (1977) menyatakan, “dalam kepadatan tinggi, orang akan lebih mungkin mengganggu aktifitas orang lain, sehingga menimbulkan perasaan frustrasi dan marah.”

Jika kemudian ada keinginan untuk merenung, ini jelas sikap terpuji. Sesudah berkali-kali terinjak, tak ada salahnya orang berintrospeksi, apa yang salah dengan diriku? Apakah aku sudah tepat menggunakan kakiku? Lagi dan lagi kehilangan uang, alangkah baiknya jika peristiwa itu dijadikan bahan refleksi diri, jangan-jangan ada harta yang kuperoleh secara tidak halal, dan malah kini kubawa sebagai bekal ke tanah suci. Ini cuma sekedar contoh dan hanya pantas diterapkan untuk diri sendiri, tidak untuk menghukumi orang lain.

Katakanlah ada sesama jamaah yang terkena marah tanpa sebab, betapa tidak pantasnya jika kita menuduh orang tersebut—meski hanya di dalam hati—sebagai orang yang suka marah-marah. Jika ada jamaah yang tersesat, disorientasi, dan tidak bisa menemukan jalan ke pemondokan, sudah barang tentu orang tersebut tak layak dihukumi sebagai sombong, suka menyesatkan orang, atau hal-hal jelek lainnya. Ada baiknya kita mempertimbangkan pendapat Stanley Milgram (1970), “Bila seseorang dihadapkan pada stimuli yang terlalu banyak, maka dia akan mengalami beban indera yang berlebihan sehingga tidak akan dapat menghadapi semua stimuli itu.”

Namun demikian, sulit mengingkari adanya nuansa spiritual pada berbagai peristiwa yang terjadi di tanah suci, dan nampak pada perilaku jamaah yang tengah memenuhi panggilanNya. Hal itu terjadi karena situasi sakral yang ke luar dari kedalaman nurani jamah, sehingga kepekaan mereka menjadi lebih tinggi. Oleh karenanya, kita tidak perlu memustahilkan hal-hal metafisis yang konon dialami oleh sebagian jamaah haji.

Semua tergantung apa yang dipersepsikan. Pengalaman-pengalaman menyenangkan mendatangkan hikmah dan menimbulkan keyakinan akan besarnya kasih sayang Ar Rahman, dan juga memunculkan refleksi positip di kemudian. Pengalaman-pengalaman ini menimbulkan kerinduan untuk kembali datang ke rumahNya; sekalipun orang yang pernah berhaji tidak dituntut untuk menunaikannya lagi, karena haji kedua dan seterusnya hukumnya sunnah. “Al-Hajju marratan, faman zaada fahuwa tathawwu’” (HR Ibnu Hibban dan Baihaqi).

Pengalaman-pengalaman kurang menyenangkan memberikan kesadaran akan ketidak berdayaan seorang hamba di hadapan Sang Maha Pencipta. Alih-alih berputus asa, diperlukan kerelaan dalam menerima ujian yang terjadi, sebagai bagian dari usaha mendekatkan diri kepadaNya. Ketidak berdayaan dan kerelaan itu diwujudkan dengan bersegera memohon ampun, sebagai syarat untuk meraih predikat muttaqin, yakni orang bertaqwa. Justru bekal taqwalah yang Allah tuntut dari hamba-hamba yang akan berkunjung ke rumahNya. “Wa tazawwadu fa inna khairazzadit taqwa…” Dan berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa … (Q, 2, Al-Baqarah, 197).

Maka, anggapan bahwa tanah suci merupakan miniatur akhirat menjadi tidak terlalu tepat, walaupun tidak bisa dibilang salah. Allah melimpahkan rahmat, mengingatkan, dan menegur hambaNya: bukan hanya ketika mereka berada di tanah suci, akan tetapi kapan pun dan di man pun. Bedanya, selama di tanah suci jamaah memberikan waktu dan perhatian yang maksimal untuk Allah, sehingga bisa menangkap isyaratNya, sesuatu yang jarang dilakukan kala berada di tanah air.

Terlepas dari itu semua, apabila seseorang telah bertekad untuk melaksanakan ibadah haji yang terpenting adalah menata hati agar selalu berpikir positif, positive thinking. Allah berfirman lewat lisan RasulNya, Aku akan bergantung dari persangkaan hambaKu terhadapKu ,”Ana ‘inda dzanni abdi bi wa ana ma’ahu haaitsu yadzkuruni.”

Haji, Ibadah yang Menyenangkan

Bagaimana dengan persepsi sebagian orang, bahwa haji merupakan ibadah yang rumit dan menyulitkan? Barangkali persepsi itu muncul dari ketelitian pengurusan haji; mulai dari pemeriksaan kesehatan, penyiapan barang-barang bawaan, hingga latihan manasik haji.

”Wa adzzin fin nasi bil hajji yaktuka rijalan wa ‘ala kulli dhamirin yatina min kulli fajjin ‘amiq….” (Q, 22, Al-Hajj, 27-29). Kecuali bagi penduduk Saudi Arabia, haji adalah perjalanan jauh yang harus dipersiapkan dengan serius. Di samping itu, ritual haji memang memerlukan fisik yang tangguh. Lebih dari itu, mengingat haji merupakan puncak dari rukun Islam, sedapat mungkin hendaknya siapa pun dapat melakukannya secara sempurna.

Kesempurnaan ibadah haji tidak ditentukan oleh kemampuan menghafal doa-doa yang demikian banyak dan panjang-panjang, sehingga dianggap menakutkan oleh sebagian orang. Sebenarnya, mayoritas doa-doa itu hukum membacanya adalah sunnah; dengan kata lain tidak harus dibaca, cukup berniat dan memiliki kesadaran penuh selama pelaksanaan manasik. “Wama ja’ala ‘alaikum fiddini min haraj…” Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…” (Q, 22, Al-Hajj, 78)

Bayangkan suasana indah saat mengitari baitullah. Cukup hanya dengan melantunkan doa sapu jagat, nikmatilah kesejukan hati yang dipenuhi dengan keharuan serta rasa cinta padaNya, lalu rasakan bercucurannya air mata taubat dan syukur. Dalam suasana seperti itu, berjubelnya jamaah tidak akan mengurangi ketenangan dan kekhusyukan. Freedman (1975), mengungkapkan, “Bila seseorang merasa takut, gelisah, marah, agresif atau tenang dalam situasi kepadatan rendah, maka dia akan lebih merasakannya dalam situasi kepadatan tinggi.”

Demikianlah uraian singkat yang dapat saya kemukakan. Mudah-mudahana tinjauan psikilogi sederhana yang telah diuraikan akan mendatangkan manfaat bagi kita, pembimbing khususnya, dan para jamaah haji pada umumnya.

Referensi:
1. Al-Quran dan terjemahannya, Departemen Agama Republik Indonesia.
2. Al-Imam An-Nawawy, Kitabul Idhah fi Manasikil Hajj wal Umrah, Darul B Basyair Al-Islamiyyah, Bairut 1313 H.
3. Abu Bakar Jabir Al-Jazairy, Minhajul Muslim, Maktabah Al-Ulum wal Hikam, Madinah, 1414 H.
4. David O.Sears dkk., Psikologi Sosial, Erlangga, Surabaya, 1985.
5. Izzuddin Yaliq, Minhajus Shalihin, Darul Fikr, 1398 H.
6. Muhammad Fuad Abd.Baqy, Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfadhil Qur’an, Penerbit Angkasa, Bandung.
7. Marvin, E Shaw & Philllip R Costanzo, Theries of Social Psychologist, Mc Graw Hill Book Company, New York, 1983.

Bandung, 26 Ramadhan 1429 H.