Iklan

Kalau ada ustadz yang tidak menyukai, bahkan boleh dibilang membenci tayangan iklan, itu bukanlah suatu ceritera. Bukan karena para modelnya yang kebanyakan seronok, atau “ngecap”nya yang terkadang berlebihan dan tak berhubungan, melainkan karena penayangannya yang sering mengganggu. Ustadz kita yang satu ini memiliki hobby nonton sepak bola, sehingga setiap ada pertandingan bola kelas dunia ia tidak pernah melewatkannya, jam berapa pun pertandingan tersebut dilaksanakan. Di saat pertandingan sedang seru-serunya dan tiba-tiba muncul tayangan iklan, karuan saja ia menjadi kesal dan ada kalanya bersungut-sungut.

Ustadz kita tidaklah sendirian. Tak sedikit pemirsa televisi, sebut saja penggemar setia sinetron atau acara-acara musik yang juga merasa sebal karena kenikmatannya menonton terganggu oleh pemunculan iklan. Rupanya sang ustadz dan para pemirsa itu tidak menyadari, bahwa acara kegemaran mereka tak mungkin bisa ditayangkan tanpa bantuan sponsor yang mengiklankan produk mereka.
Iklan bukan hanya ditayangkan di televisi. Radio, media cetak seperti koran dan majalah, juga berbagai tempat strategis semisal taman atau jalan, juga diserbu pemasang iklan. Boleh jadi karena gencarnya serbuan iklan, maka cara hidup banyak orang berubah menjadi konsumtif, lebih-lebih mereka yang lemah kepribadiannya. Mereka yang gampang dimangsa serbuan promosi alias mudah termakan rayuan iklan, bisa disebut korban iklan atau dalam skala tertentu korban teknologi, a victim of technology. Mereka adalah orang yang mudah dibentuk oleh lingkungan, autoplastis, bisa juga digolongkan sebagai orang yang mudah kehilangan kepercayaan diri.

The King of Pop, Michel Jackson, adalah contoh type orang yang tidak punya atau kehilangan rasa percaya diri. Kepercayaan dirinya justru hilang ketika ia menjadi mega bintang, padahal gayanya yang khas dan suaranya yang meyakinkan sudahlah cukup mengangkat dia ke puncak popularitas. Ketidak pede annya nampak dari usaha menutupi wajahnya yang hitam dengan cara berlebih-lebihan. Raja pop dunia itu tidak hanya menggunakan make up pemutih kulit, melainkan juga mempermak wajahnya dengan operasi plastik. Entah sudah berapa kali ia mempermak wajahnya dan untuk tujuan apa, yang pasti hanya ia sendiri yang tahu.

Kalau kita amati trend yang berkembang di masa kini ternyata Jacko tidaklah sendirian. Daftar korban iklan alias orang yang kehilangan kepercayaan diri akan terus bermunculan, dalam hal ini jumlah kaum hawa lebih banyak ketimbang kaum Adam. Hal itu dapat ditenggarai dari makin membanjirnya produk yang diperuntukkan buat perempuan, seperti lotion pemutih kulit, penghitam rambut, pelangsing tubuh dan sebagainya yang iklannya semakin banyak kita lihat di media cetak maupun elektronika. Pada batas-batas yang wajar keadaan tersebut masih bisa kita pahami, akan tetapi kita harus mulai waspada ketika hal itu sudah sampai di luar batas kewajaran.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Rupanya ada dua kecenderungan dalam kehidupan manusia yang tarik menarik satu dengan lainnya, yaitu ingin sama dengan yang lain, need for union, tapi pada saat yang sama ingin beda dengan orang lain, need for isolation. Sepertinya aneh, suatu saat butuh terlihat sama tapi ingin tampil beda, mau berbeda tapi ingin sama, namun begitulah yang namanya manusia. Ketika seseorang punya keinginan tampil beda dengan yang lain, itu terjadi karena egonya sedang tertarik ke ke atas mengalahkan hati nuraniya, sedangkan saat ia punya keinginan sama dengan yang lain, salah satu penyebabnya mungkin karena yang bersangkutan sedang tidak percaya diri.

Apakah meniru orang lain itu tidak dibenarkan atau ingin tampil beda memang diharamkan? Meniru orang lain sah-sah saja adanya, dan tampil beda pun bolah-boleh saja asalkan tidak menggangu orang dan yang lebih penting tidak bertentangan dengan norma dan etika. Meniru orang lain dalam kebaikan akan punya makna, sedangkan berani tampil beda kalau asal-asalan bisa-bisa dikatakan orang gila.
Tak ada manusia yang sempurna, setiap orang pastilah mempunyai kekurangan atau kelemahan. Hanya insan yang tak pandai bersyukurlah yang senantiasa meratapi kekurangannya atau berusaha menutupinya dengan upaya-upaya yang berlebihan, tidak masuk akal, bahkan suatu saat bisa mencelakakan. Orang-orang yang pandai bersyukur adalah mereka yang berusaha menanamkan rasa percaya diri dengan jalan menggali dan memaksimalkan potensi alias kelebihan yang Allah berikan.

Pada dasarnya tak ada kelebihan orang Eropa atau orang Arab dari bangsa lain, juga tak ada keistimewaan dari orang-orang berkulit putih dari mereka yang berkulit hitam. Keutamaan seseorang memang tidaklah bisa dilihat dari keturunan atau ras, tidak juga dari intelektualitas, penampilan fisik, terlebih-lebih warna kulit. “Inna akromakum 'indallahi atqakum" Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.(Q, 49, Al-Hujurat, 13).

Bandung, 5 Juni 2003