Janji

Pertemuan itu penting dan hangat, namun karena waktunya pendek Pak Ketua memotong pembicaraan, “maaf bagaimana kalau nanti saja kita lanjutkan hari Senin lusa di sini pukul 08.00WIB.” Hadi menjawab dengan ringan, “Insya Allah”. Itulah sebuah kata-kata ringan yang biasa kita dengar dalaam keseharian dan nampaknya ucapan tersebut sudah lazim digunakan banyak orang. muslim atau bukan muslim. Kelihatannya juga sudah menjadi reflek dalam pembicaraan, sebagai janji yang sekedar janji alias hanya bumbu penyedap sebuah komunikasi, ataukah janji “beneran”.

Kata-kata “Insya Allah” lazim disalahgunakan sebagai bentuk “pelarian” dari tanggung jawab atas sebuah janji yang telah diucapkan. Akhirnya, kata-kata “Insya Allah” yang semula sebagai suatu kata yang baik kemudian hanya terkesan sebagai khelah atau dalam bahasa psikologinya disebut proyeksi. Akan tetapi apakah ia sebagai bumbu penyedap sebuah komunikasi ataukah sebagai janji yang beneran, tetap saja wajib ditepati.

Janji adalah sebuah kata yang mudah sekali diucapkan akan tetapi merupakan suatu hal yang yang sangat berat sekali dikerjakan. Oleh sebab itu sebaiknya jangan mudah berjanji, karena janji menuntut pertanggung jawaban. Al-wa’du dainun, janji itu hutang, begitu kata Nabi. Mengapa begitu? Karena begitu seseorang mengucapkan sebuah janji maka berarti dia telah mengadakan suatu ikatan, sesuatu yang menuntut penunaian kewajiban.

Ada banyak sinonim kata janji, yaitu akad, kontrak, sumpah -- yang seringkali dikatakan kawula muda dengan “swear” dan dibahasa-gaulkan menjadi suer -- atau nadzar. Penggunaannya memang berbeda-beda. Ada yang subyek dan obyeknya sama-sama manusia, ada yang digunakan oleh seseorang dengan dirinya sendiri dan ada pula yang ditujukan untuk Yang Maha Kuasa.

Pernahkah Anda berjanji? Oh tentu, setiap orang dalam hidupnya pasti pernah berjanji. Siswa berjanji kepada guru untuk tidak mengulang lagi kesalahan dan pelanggaran yang dilakukannya, guru berjanji kepada dirinya sendiri untuk memperbaiki kualitas pengajarannya, kaum profesional berjanji untuk tidak merusak profesionalitas mereka, anak berjanji kepada orang tuanya, orang tua berjanji kepada anak-anaknya, pemerintah berjanji untuk menjadi pengelola negara yang baik dan benar, rakyat berjanji untuk jadi warga negara yang taat, partai berjanji untuk memperjuangkan hak-hak rakyat, kepada pemilihnya.

Agar produknya laku di pasaran, produsen ‘ngecap’ dengan mengklaim produknya sebagai nomor satu. Sebuah perusahaan atau pengelola pendidikan mengobral janji, “Tidak terbukti, uang kembali”, No success no pay, begitu bahasa kerennya. Janji produsen sarung “dijamin tidak luntur”, diplesetkan konsumen dengan “luntur tidak dijamin”, realistis, bukan?

Akad nikah, menurut Al-Qur’an adalah “mitsaqan ghalidha”, janji yang berat. Janji suami untuk memperlakukan isterinya dengan baik dan benar; berusaha mencukupi segenap kebutuhannya (lahir maupun batin) memberi teladan yang baik sehingga isterinya menjadi wanita shalihah, mengarahkan isterinya ke jalan yang diridhai Allah sehinggaa sang isteri akan menjadi ibu utama buat anak-anak mereka, bersama-sama sang isteri mewujudkan generasi rabbi radhiyya, menjadi pemimpin yang baik sehingga ia dapat mempertanggungjawabkan kepemimpinannya itu kelak di hadapan Sang Maha Pencipta.

Janji isteri untuk memperlakukan suaminya dengan baik, tunduk dan patuh terhadap segala keinginan suami (selagi perintahnya itu tidak bertentangan dengan perintah Yang Maha Kuasa), menciptakan situasi dan kondisi yang menyenangkan buat suami, menjaga kehormatan dan harta suaminya, menjadi ibu yang baik buat putera-puteri mereka.

Janji menantu akan menghormati mertuanya, menempatkan mertua layaknya memperlakukan orang tuanya sendiri, menghormatinya, menjaga perasaannya (diekspresikan terutama dengan menyayangi anak sang mertua). Janji mertua untuk memperlakukan menantu sebagai anaknya sendiri, membimbing dan mengarahkannya ke jalan yang diridhai Allah, menegurnya bila salah. Janji yang membutuhkan upaya sungguh-sungguh untuk menepatinya.

Tanpa kita sadari, kita teramat sering mengucapkan janji. Ada janji yang selalu kita ingat dan karenanya kita berusaha menepatinya, janji yang kita lupakan, ada pula janji yang pura-pura kita lupakan. Yang paling sering kita lupakan adalah janji -- meminjam istilah Cak Nurcholish Madjid, perjanjian primordialisme -- untuk hanya mengabdi kepada Allah. Janji itulah yang paling sering kita langgar, karena pada prakteknya kita sering mempertuhan selain Allah.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya Allah berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”, mereka menjawab, “Betul Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi.” Kami lakukan yang demikian itu agar nanti di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami orang-orang yang lupa.” (Q, 7, Al-A’raf, 172)

Bandung, 1 Agustus 2001