Kekerasan

Adanya anggapan bahwa kekerasan hanya menjadi milik orang-orang zaman praperadaban saja ternyata harus dikaji ulang. Mengapa, karena kenyataannya paradigma tersebut sudah berubah?. Apa sebab, karena akhir-akhir ini yang namanya kekerasan sepertinya sudah menjadi hal yang biasa. Anak-anak di sekolah berkelahi antar sesama, karyawan pabrik merusak pabriknya sendiri, aparat keamanan menganiaya warga, warga mengeroyok aparat, massa bentrok dengan massa yang lain, warga mengeroyok pelaku kejahatan tanpa mengenal lagi perikemanusiaan, aparat begitu gampangnya menghajar pengunjuk rasa, orang yang mempunyai kepentingan menyuruh orang upahan untuk melakukan pengeboman dan sebagainya.

Dunia sekarang ini yang boleh dibilang dunia yang berperadaban, tetapi mengapa kekerasan sepertinya telah menjadi semacam budaya. Sederetan peristiwa demi peristiwa itu mengundang pertanyaan pada kita semua, femonomena apakah yang sesungguhnya sedang terjadi?

Kekerasan pertama yang terjadi dalam kehidupan manusia ialah kekerasan Qabil, anak Adam, terhadap saudaranya, Habil, ketika Allah menerima korban saudaranya itu dan menolak korbannya. Maka karena didorong oleh rasa cemburunya, iapun melakukan kekerasan, membunuh Habil. (Q, 5, Al-Maidah, 27-30).

Kalangan ahli sosial menyatakan bahwa adanya tingkah laku kekerasan ternyata tidak serta-merta begitu saja terjadi. Biasanya bermula dari ekspresi kata-kata yang tidak enak sindiran kemudian berubahlah menjadi makian, umpatan, celaan, hinaan dan akhirnya kekerasan.

Para ahli ilmu jiwa dan psiko analis berbeda pendapat mengenai masalah ini, apakah kekerasan merupakan dorongan alamiah ataukah merupakan dorongan yang diperoleh dengan belajar ? Freud dan Lorenz berpendapat bahwa kekerasan merupakan dorongan alamiah. Pendapat itu memberikan konsepsi yang negatif dan pesimistis tentang tabiat manusia. Manusia dianggap hanya memiliki fitrah yang negatip, cenderung melakukan kekerasan, kejahatan dan kekejaman pada sesamanya, sedangkan sisi-sisi kebaikannya dianggap tidak pernah ada.

Ahli jiwa lain, seperti Formm dan Maslow cenderung tidak sependapat dengan paradigma tersebut. Mereka cenderung mengukuhkan aspek-aspek yang positif dan kooperatif yang merupakan nilai baik dalam tabiat manusia.

Kajian-kajian eksperimental modern membuktikan bahwa tingkah laku permusuhan dan tindak kekerasan timbul pada anak-anak kecil. Apabila gerakan-gerakan fisik mereka diganggu dan dibatasi maka akan membangkitkan frustasi pada diri mereka.. Akibatnya, timbullah rasa memusuhi dan seringkali berlanjut menjadi tindak kekerasan. Selama anak-anak berkembang, berbagai jenis hambatan yang menimbulkan frustasi pada diri mereka semakin beragam, bisa hambatan sosial, hukum, ekonomi, politik dan psikis.

Kajian lain membuktikan bahwa frustasi tidak selalu mengakibatkan timbulnya tingkah laku memusuhi. Malahan kadang-kadang menimbulkan jenis-jenis tingkah laku lain, seperti meminta bantuan dan pertolongan pada orang lain, menarik diri dan ada yang melarikan diri pada minuman keras dan obat-obat terlarang. Dalam situasi demikian ini perlunya orang tua ‘mendekati’ bukan memusuhi. Atas dasar ini banyak ahli jiwa modern cenderung memandang sebagian dari tingkah laku kekerasan merupakan tingkah laku yang diperoleh dengan belajar. (Charles G.Mooris, 1979, p.368-370).

Para ahli jiwa modern yang terakhir ini berpendapat bahwa seiring dengan apa yang dinyatakan Al-Qur’an bahwa menurut tabiatnya manusia mempunyai potensi atau kemampuan untuk melakukan kebajikan atau kejahatan, “Wa hadainahu an najdain” (Q, 90, Al-Balad, 10)

Atas dasar itu semua, bagaimana orang tidak gampang melakukan kekerasan kalau ‘film-film keras’ sudah biasa disaksikan oleh siapapun juga. Bagaimaana tidak gampang melakukan kekerasan kalau orang-orang tua dan para pemimpin terbiasa melakukan hal yang sama. Kata peribahasa, uyah moal tees kaluhur, begitulah anak begitu pula orangtuanya. Bagaimana tidak gampang melakukan kekerasan kalau sarana penunjangnya atau pabrik minuman keras masih tetap berproduksi atau sabu-sabu dan sebangsanya tidak diberantas secara tuntas. Dan bagaimana mungkin tidak terjadi berita Bocah Sebelas Tahun Gagahi Gadis Balita (PR.19/9) kalau gambar-gambar porno tidak mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah dan kita semua.

Pemerintah dan rakyat sama-sama menyumbangkan konstribusi terhadap merebaknya kekerasan. Negara dan rakyat tidak pernah sungguh-sungguh menegakkan dan mematuhi aturan main. Law enforcement hanya merupakan kata-kata indah penuh retorika. Kekerasan tumbuh subur akibat hilangnya kata maaf di antara sesama dan dinjak-injaknya nilai-nilai kemanusiaan.

Kekerasan tidak dapat dilawan dengan kekerasan. Nasehat kalau ingin damai harus siap perang dari Clautzwitz harus direnungkan dan dipertimbangkan dengan matang. Menghilangkan kekerasan mesti melalui proses penyadaran diri dan hasilnyapun tidak simsalabim, artinya perlu waktu dan kesabaran. Aksi membagi-bagi bunga di jalan hanyalah merupakan salah satu bentuk sentuhan kasih sayang. Akan tetapi yang lebih penting adalah proses penyadaran bahwa kepentingan apapun tidak harus diperjuangkan dengan kekerasan.

“Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman” (Q, 7, Al-A’raf, 85)

Bandung, 20 September 2000