Konflik Integritas

Sebut saja Mr.Garuda, begitulah mengikuti gaya Amin Rais ketika menyebut nama orang penting. Garuda, seorang pejabat tinggi lembaga pemerintah di negeri yang sedang ruwet, sedang mengalami perang batin yang dahsyat. Di kala ia dan instansi yang dipimpinnya sedang giat-giatnya memerangi bahaya narkoba, salah seorang anak laki-lakinya tertangkap basah dalam sebuah pesta putaw di sebuah hotel berbintang.

Apa yang ia lakukan? Memberi kesempatan kepada polisi untuk menangkap puteranya, membiarkan pers menyiarkan berita penangkapannya, menyerahkan perkara tersebut ke pengadilan, dan pada akhirnya merelakan anaknya masuk penjara, jelas-jelas bertentangan dengan keinginannya untuk menjaga wibawa diri, serta martabat keluarganya. Memblokir berita tersebut dan meminta aparat untuk melepaskan puteranya, sangat mungkin dia lakukan. Akan tetapi, sebagai seorang pejabat yang memiliki komitmen Mr.Garuda, terombang-ambing di antara dua pilihan: menjaga martabat diri dan keluarga atau taat pada hukum yang berlaku? Pejabat kita sedang dilanda konflik batin yang hebat.

Begitulah, realita kehidupan tidak pernah selalu berjalan mulus sesuai dengan yang diharapkan. Das sein tidak akan sama dengan das sollen. Manakala kenyataan tidak sesuai harapan, atau praktek di lapangan melenceng dari teori yang jadi rujukan, konflik bisa mengemuka. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan konflik sebagai “percekcokan, pertentangan, atau perselisihan”. Konflik bisa terjadi dalam diri seorang individu bisa juga terjadi antar individu atau antara individu dan kelompok, bahkan bisa terjadi antar kelompok. Konflik yang terjadi jelas akan mempengaruhi baik buruknya kualitas hubungan antar manusia. Namun demikian, konflik akan selalu terjadi di muka bumi, selama manusia yang memiliki nafsu dan berbagai keinginan yang berbeda-beda dan kadang saling bertentangan masih menjadi penghuninya.

"Energi tidak dapat dimusnahkan, tetapi dapat dirubah ke dalam bentuk lain". Mengambil analogi dari hukum kekekalan energi tersebut, alih-alih menghapuskan konflik, akan lebih bermanfaat jika kita memberdayakannya dengan cara yang tepat. Demi menciptakan suatu hubungan yang baik serta kondusif dalam mewujudkan suatu "tujuan tertentu" maka konflik pun dapat ‘dimenej’, dimanfaatkan sebagai suatu kekuatan yang justru bisa mendukung terciptanya suatu tujuan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, manajemen adalah "proses penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan".

Dalam kasus yang telah diceritakan di muka, demi menenentramkan batin dan atas nama tanggung jawab terhadap puteranya, sang pejabat seyogianya tetap meminta aparat untuk memproses dan memberi pelajaran kepada anaknya. Namun demikian, demi menjaga nama baik diri dan keluarga ia bisa meminta pers untuk tidak memberitakan perkara yang memalukan itu. Penyelesaiannya tentu tak hanya berhenti di situ. Agar peristiwa seperti itu tidak terulang dan pada akhirnya melahirkan konflik berkepanjangan, akar permasalahan penyebab terjadinya peristiwa tersebut perlu dicermati dan di analisis. Seorang wanita yang memiliki karier di samping tugas pokoknya mengelola rumah tangga sungguh rentan terhadap konflik peran.

Ketika seorang wanita karier mendapat dinas luar kota dalam waktu yang tidak sebentar sementara dalam waktu yang sama anaknya dirawat di rumah sakit, misalnya, ia akan mengalami konflik peran. Sebagai seorang ibu ia harus mendampingi znaknya yang sedang dirawat di rumah sakit, sementara sebagai seorang pegawai ia harus mengikuti aturan main. Apa yang harus ia lakukan? Di saat itulah pentingnya memenej konflik, artinya perlunya kearifan dan kepandaian memilih mana yang penting dan mana yang lebih penting, qaddimil aham ‘alal muhim.

Adapun konflik antar kelompok, seperti konflik antar etnis misalnya, tentulah memerlukan kajian mendalam untuk menyelesaikannya. Konflik seperti itu perlu dianalisis dari berbagai dimensi, selain membutuhkan kesungguh-sungguhan dari pihak berwenang. Ibarat mengepel lantai karena bocor memang akan menjadi bersih tetapi pasti akan muncul kembali ketika hujan turun kembali. Oleh karena sikap itu akan efektif manakala dicari dan ditutup sumber kebocorannya.

Akhirnya, last but not least, realitas harus dihadapi, bukan dihindari, sebab kalau kita mencoba lari justru akan menambah lagi persoalan baru. Sebuah persoalan betapapun kompleksnya kalau kita berani menghadapi dengan serius, Insya Allah akan ditemukan jalan ke luarnya. Allah SWT menjanjikan, siapapun yang serius dalam mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Walladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana. Wa innallaha lama’al muhsinin. (Q, 29, Al-Ankabut, 69)

Bandung, 11 September 2003