Konsisten

Perjalanan beribu-ribu mil dimulai dengan sebuah langkah. Lǚxíng qiānlǐ zǒng shì shǐ yú zúxià. Itulah kata-kata Mau Ze Dong (mengutip ucapan Lao Tze – abad 7 SM) yang disampaikan di hadapan anak buahnya, begitu sampai di tempat tujuan setelah melewati perjalanan panjang, long march, menembus daratan Cina.

Mengawali bukan suatu hal mudah, dibutuhkan pertimbangan yang matang serta pemikiran mengenai konsekuensi yang harus dihadapi. Jika kita sudah mengawali suatu pekerjaan dengan benar, maka langkah selanjutnya akan lebih mudah. Demikianlah seterusnya, langkah-langkah ke depan akan lebih terasa ringan manakala kita mau belajar dari pengalaman terdahulu.

Sebagai manusia sering kita tidak bisa konsisten dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, amar ma’ruf nahi munkar, karena tidak kuat menghadapi godaan dan kepentingan. Apa artinya di awal nilainya baik jika di pertengahan atau di ujungnya menyimpang dari tujuan. Na’udzu billah min dzalik.

Ada pelajaran yang berharga dari Nabi SAW. Pada suatu saat ada seorang sahabat yang bertanya kepadanya, “Ya Rasulallah, katakanlah kepadaku suatu perkataan tentang Islam yang aku tidak lagi menanyakan kepada seseorang selain kepadamu”. Maka bersabdalah Rasulullah SAW: "Qul amantu billahi tsumma istqim!. Katakanlah aku percaya kepada Allah dan kemudian konsistenlah!” (HR Imam Muslim dari sahabat Abi Amr RA). Sangat beralasan karena amalan yang paling disukai oleh Allah bukan sekedar amalan yang baik, tetapi juga amal yang dijalankan secara konsisten dan terus mengalami peningkatan.

Di jaman akhir kini jarang kita menemui orang yang bisa konsisten. Pantas kalau sejak 15 abad yang lalu Al-Qur’an mengajukan pertanyaan :
“Hai orang–orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Dosa besar di sisi Allah, jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (Q, As-Shaff, 2-3)

Mustafid Amna

Bandung, 12 Januari 2015