Kreatifitas

"Adi, kenapa mobil-mobilannya dirusak nak?” teriak Bu Ana pada anaknya yang baru berusia empat tahun. Wajar si ibu kaget. Pasalnya, kemarin anak itu merengek-rengek minta dibelikan mobil-mobilan. Tapi belum genap sehari, mainan itu sudah berantakan karena dipereteli.
Anak agresif dan "perusak", adalah bagian dari fenomena kehidupan keluarga yang tak jarang dihadapi orang tua. Banyak orangtua yang mengeluhkan, bahwa anak-anak mereka sering merusak segala barang atau mainan yang dimilikinya. Bagi orangtua yang tak sabar, mereka biasanya langsung mencaci, menghukum, atau main pukul.

Seperti halnya Bu Ana, tidak sedikit orang tua yang mengerti apa sebenarnya yang menjadi permasalahan dalam dunia anak. Secara sekilas, terutama bagi yang hidupnya berkecukupan, anak-anak mereka jauh dari masalah. Dunia mereka adalah dunia bermain dan bersuka cita dan belum perlu memikirkan tanggung jawab seperti orang dewasa. Namun jika kita mau melihat sedikit lebih dalam saja, maka “Dunia Kecil” mereka itu, segudang permasalahan terkumpul seperti halnya Adi yang tidak punya kebebasan dan kemerdekaan bermain.

Bermain bagi anak-anak merupakan komponen penting proses kreatif. Bermain mempermudah kita memasuki kondisi pikiran yang mengandung unsur-unsur kreativitas yang penting—sifat ingin tahu, daya khayal, coba-coba, fantasi, spekulasi atau “bagaimana kita”, permainan peran, dan rasa takjub. Lewat permainan, juga kreatif berhubungan dengan proses mental penuh daya khayal sehingga kita mampu membuat kaitan baru, melihat gambaran baru, dan mendapat wawasan baru. Kurt Hanks dan Jay Parry merangkumnya dengan manis dalam buku mereka, Wake Up Your Creative Genius : “Seseorang bisa saja bermaian tanpa menjadi kreatif, namun mustahil dia menjadi kreatif tanpa bermain”

Dalam banyak hal, bermain memudahkan proses kreatif.

Pertama, bermain menumbuhkan perasaan gembira sehingga kita lolos dari dua pembantai utama kreativitas—ketegangan dan sikap waspada berlebihan. Saat seseorang mengalami ketregangan fisik atau emosi karena bekerja terlalu keras atau tekanan psikologis, sukar sekali memutuskan ide baru atau memecahkan masalah pelik. Ketegangan membutakan akal dan menutup pikiran, atau menyebabkan otak bekerja begitu cepat, dalam reaksi naluriah “bertempur atau kabiur”. Akibatnya, pikiran bawah sadar tidak sempat menginkubasi ide. Sikap waspada berlebihan juga menghambat kreativitas. Ia sering muncul dari sifat serba sempurna dan kritik diri yang melumpuhkan aliran ilham dan gagasan. Apabila orang bekerja terlalu serius, kreativitas melumpuh karena terlalu memusatkan diri pada tujuan, bukan pada proses.

Deanna Berg, menyebut hasrat menjadi sempurna ini dengan “kebocoran ban spiritual” yang menghalagi kemajuan, kita takut mencoba hal baru jika kita belum yakin akan berhasil.
Bermain juga mencegah rasa bosan dan rutinitas menjemukan agartidak melumpuhkan pikiran kreatif. Dunia yang melulu dipenuhi tugas tapa canda gelak tawa, terasa kaku dan hambra. Bermain menjadikan hidup lebih bervariasi. Secara intuitif orang menyadari hal ini. Namun, ketika merasakan tekanan dalam berkreasi, orang sering lupa bersenang-senang, menikmati suatu saat, atau merasa “hidup”.

Bermain juga menjadi cara jitu mengembangkan dan melejitkan beragam kecerdasan. Mengikuti aerobik atau tarian diringi musik jazz akan mempertajam kecerdasan kinestetik tubuh: menekuni puisi akan meningkatkan kecerdasan verbal linguisti, mengobarkan kemampuan menulis lagu dan memahami irama musik. Sementara itu, mengisi teka-teki yang sulit dapat memupuk kecerdasan matematik logis.

Manfaat lebih jauh lagi, permainan membuka jalur komunikasi, memungkinkan orang-orang bertukar gagasan dan bekerja bersama. Orang-orang cenderung meremehkan daya kreativitas kolektif ketika diberi kesempatan bekerja secara berkelompok.
Para pakar perilaku organisasi sosial telah membuktikan bahwa bermain dapat membangun semangat kebersamaan dan menyatukan visi.

Akhirnya, dengan bermain, banyak usaha dan bisnis secara mudah mendapatkan ide-ide yang menguntungkan. Permaian atau berolah raga menjadi daya dorong pendongkrak imajinasi sehingga mampu mengembangkan perlengkapan mainan atau perlombaan baru.
Karena itu sebaiknya orangtua lebih bijak menghadapi kasus anak agresif dan "kreatif". Bahkan jika hal itu terjadi pada salah seorang anak-anak kita, sepatutnyalah kita mensyukurinya. Karena Allah 'Azza wa Jalla melebihkan karuniaNya pada anak kita.