Kunfayakun

Entah apa sebabnya bila sedang bepergian dan kebetulan sedang terburu-buru, setiap kali melewati perempatan yang ada traffic light-nya selalu mendapatkan lampu merahnya menyala. Orang sunda bilang "beureum deui beureum deui". Dan anehnya lagi sepertinya nyala lampu merahnya lebih lama ketimbang lampu hijaunya. Itulah perasaan umumnya manusia yang terburu-buru. Terburu-buru itu tandanya terlambat, dan memang orang yang terlambat biasanya terburu-buru.

Orang yang terlambat inginnya segala sesuatu berjalan cepat, orangnya cenderung tidak sabaran, maunya sewot melulu. Dia menganggap dirinya paling benar dan semua orang yang dihadapinya serba salah. Orang lain yang berjalan normal di depannya dianggap mengganggu kelancaran, apalagi dalam kondisi kemacetan.

Paling sebel kalau di tengah-tengah kemacetan lalu lintas dan di sana kita berada dalam rentetan antrian panjang karena mengikuti aturan, tiba-tiba ada yang nyelonong mengambil jalan pintas mendahului antrian. Kalau tidak ingat iman ada di dada, mulut inginnya menyemprotkan macam-macam umpatan, maunya mengeluarkan semua isi kebun binatang. Syukur kalau akhirnya yang keluar Astaghfirullah atau Allahu Akbar.

Begitulah fenomena orang-orang yang tak sabaran. Begitulah pula gambaran manusia pada umumnya. Dalam hal apa saja inginnya mengambil jalan pintas, potong kompas. Ingin cepat sampai ke tujuan, akhirnya nyelonong tanpa aturan. Ingin lulus, ditempuhlah dengan fulus. Ingin cepat kaya, diterjanglah semua jalan, halal atau haram urusan belakang. Sepertinya benar kalau ada yang mengatakan, boro-boro memburu yang halal, cari yang haram saja sulitnya setengah mati. Siapa pun yang merintangi akan disikatnya dan apa pun yang menghalangi akan ditendangnya. Lebih-lebih kalau kepinteran dan kekuatan sedang dimilikinya atau kekuasaan sedang disandangnya atau setidak-tidaknya sedang berpihak padanya.

Media massa, cetak maupun elektronik, hampir tiap hari menyuguhkan berbagai intrik dan kekerasan yang terjadi di seputar kita. Berita perselingkuhan, keretakan keluarga, bahkan munculnya friksi di kalangan elit politik telah menjadi makanan sehari-hari. Pencurian, perampokan, pemerkosaan, penculikan, pembakaran pencuri hingga yang terakhir pembakaran Bus Karyawan di Jl.Soekarno Hatta, semuanya itu menunjukkan bukti bahwa begitulah modelnya manusia zaman sekarang. Gayanya seperti tidak mengenal kesabaran lagi. Inginnya serba cepat, bahkan serba kilat, instan, sim salabim abra kadabra, yang dalam bahasa agamanya kunfayakun.

Tetapi kalau direngungkan dalam-dalam kunfayakun jelas jauh berbeda dengan sim salabim abrakadabra, bahkan tidak pantas untuk dipersandingkan. Apa sebabnya? karena kunfayakun merupakan qudrat iradat Allah SWT sedangkan sifat tergesa-gesa merupakan sifat makhlukNya. “Khuliqal insanu min ajal” – Manusia itu diciptakan punya potensi tergesa-gesa (Al-Quran, 21, Al-Anbiya, 37)

Muhammad Fuad Abdul Baqi dalam Al-Mu’jam Al-Mufahrasnya menghitung istilah kunfayakun di dalam kitab suci Al-Qur’an disebutkan pada 8 tempat, dua di antaranya termaktub pada surat Ali Imran. Kalangan mufassirin, ahli tafsir, menyatakan bahwa kunfayakun merupakan sesuatu yang bersifat istimewa, artinya yang berbeda dengan kebiasaan sunnatullah pada umumnya. Hal tersebut merupakan kudrat iradat dari Yang Maha Kuasa. “Innama amruhu idza arada syaian an nyaqula lahu kunfayakun” - Allah kalau menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya “jadilah” maka jadialah ia”. Oleh sebab itu kunfayakun bisa dikatakan sebagai hak prerogatif, kewenangan Allah Sang Maha Pencipta.

Hak prerogatif ini digunakan ketika Allah menciptakan Nabiyullah Isa Alaihissalam, “Inna matsala ‘Isa ‘indallah kamatsali Adam, kholaqahu min turabin tsumma qala lahu kunfayakun” - Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya kunfayakun (Al-Quran, 3, Ali Imran, 59) .

Pertanyaannya sekarang, benarkah kunfayakun adalah menjadi tanpa prosess, dan apakah Allah senantiasa menggunakan hak prerogatifNya itu? Kalau kita perhatikan, ada 7 buah ayat yang menerangkan tentang penciptaan langit dan bumi serta segala apa saja yang ada diantaranya. Allah menyatakan bahwa bumi, langit serta segala isinya diciptakan "fi sittati ayyamin" – dalam waktu 6 hari atau tepatnya 6 masa (menurut ukuran Allah). Itu berarti Allah tidak selalu berkunfayakaun, atau senantiasa berkunfayakun tetapi tetap menggunakan proses.

Kita bertanya mengapa begitu? Apa manfaat yang dapat kita petik dari soal ini? Mestinya kita bisa mengambil pelajaran, karena Rasul pun mengajarkan “takhallaqu bi akhlaqillah” – bertingkah lakulah engkau seperti Allah. Maksudnya apabila Allah saja Yang Maha Kuasa dan bahkan tidak terbatas ke Maha Kuasaannya masih menggunakan proses, apalagi kita yang dhaif dan lemah.

Seharusnya bila menginginkan sesuatu mestinya kita pandai mengatur waktu. Mengatur rencana dengan matang, tidak nabrak potong kompas, labrak sana tabrak sini, bakar kalau menghalangi, berhentikan kalau dikhawatirkan mengacau akhirnya bertindak tirani dan meninggalkan demokrasi untuk dan atas nama hak asasi.

Bandung, 30 Agustus 2000