Lagi

Ucapkanlah kata ‘lagi’ berulang-ulang, cepat dan keras, maka akan terdengarlah teriakan seakan-akan umpatan, gila! gila! Tidak percaya? Cobalah! dan jika sering-sering dilakukan, bisa-bisa Anda akan menjadi gila sendiri. Tentu beda sekali antara lagi dan gila. Lagi bisa berarti terus, tambah, ulang, sedangkan gila adalah edan, gendeng, tidak waras, atau dengan kata lain abnormal. Gila bisa menunjukkan abnormal positip, kelewat hebat, bisa pula berkonotasi negatip, jeleknya tak ketulungan. Ketika Ketua PP Muhammadiyah DR. Syafii Maarif menyarankan pemeriksaan oleh psikiater kepada George W Bush, tak lagi jelas termasuk golongan gila yang mana presiden negara super power itu. Apapun kategorinya, kegilaan sang presiden negeri Paman Sam memang hanya pantas ditandingi oleh seterunya, Saddam Husein.

Pada umumnya julukan gila lebih sering diberikan kepada orang yang menderita gangguan jiwa. Sesungguhnya ada beberapa istilah yang dipakai untuk menunjukkan perilaku abnormal tersebut: gangguang jiwa, gangguan mental, gangguan psikiatrik, gangguan psikopatologi, yang dikenal dengan penyakit jiwa.

Penyakit inilah yang sekarang menjadi fenomena dan menjadi pembicaraan banyak orang. Tidak hanya menjadi pembicaraan para kriminolog saja, tetapi Rumah Sakit Jiwa Cimahi pun dibuat sibuk dengan kembali membuka-buka arsipnya. Tidak hanya diangkat sebagai Tajukrencana harian Pikiran Rakyat saja (PR, 17/3), tetapi juga disorot oleh media elektronika. Seorang manula bernama Adis Supriyatna (78), warga Kp.Cigebar RT 1 RW 4 Ds.Bojongsari Kec. Bojongsoang Kab. Bandung betul-betul mengalami nasib malang. Rasa sayang yang selama ini ia tunjukkan terhadap anak bungsunya, ES (22), justru berbuah teramat pahit. Susu yang ia berikan malah dibalas dengan air tuba. Sang anak bungsu secara sadis memenggal leher ayahnya dengan sebilah golok hingga kepala terpisah dengan badan. Tidak cukup hanya sampai di situ, potongan kepala ayahnya ia bawa dengan ember untuk ditunjukkan kepada saudaranya. Peristiwa yang terjadi pada harin Senin (10/3) itu karuan saja membuat gempar masyarakat.

Mengapa anak bungsu yang dekat dan sangat disayang ayahnya itu sampai kalap, bertindak kelewat nekat? Menurut catatan Rumah Sakit Jiwa Cimahi, ia frustrasi sebagai akibat karena keinginannya menjadi bintara polisi gagal total setelah tiga kali lamarannya menjadi polisi ditolak. Frustrasi inilah yang mengantarkan ES menderita stres berat sehingga akhirnya ia melakukan tindakan kalap seperti itu.

Siapa yang tidak bergidik membaca dan mendengar berita pembunuhan sadis itu? Namun orang pun akan segera mengerti, karena bukankah ES adalah pengidap kelainan jiwa. seperti halnya Soemanto, sang “kanibal” pemakan daging manusia yang ramai diberitakan belum lama ini. Orang berkelainan jiwa bisa saja melakukan tindakan apa pun termasuk perbuatan yang tidak masuk akal sekali pun. Bagi orang yang tidak waras, jangankan mengerti batasan mana yang sadis mana yang tidak, terhadap perbuatannya sendiri pun ia tidak sadar.

Satu hal yang belum kita sadari betul adalah, penderita penyakit jiwa sekarang ini bukan hanya ada di rumah-rumah sakit jiwa. Alangkah senangnya, sekali pun pada akhirnya akan membosankan, bila semua kebutuhan orang dapat dicapai dengan gampang dan segera, tanpa perjuangan sedikitpun. Bila suatu masyarakat sudah mengatur dan mengurus segala-galanya untuk para anggota, maka tantangan untuk hidup sehari-hari hampir tidak ada lagi. Akan tetapi biasanya orang harus berusaha (dan tidak jarang dengan susah payah pula) untuk mencapai apa yang didinginkannya. Adanya penghalang, kesukaran, aral melintang, kebimbangan menuntut orang menyesuaikan diri. Hal inilah yang seringkali menimbulkan stres bila orang tidak pandai-pandai dalam menyikapinya.

Ketika keinginan orang bertambah dan persaingan semakin ketat sementara lahan semakin kurang maka banyak orang yang mengalami stress. Di antara mereka tidak sedikit yang menjadi gila atau setengah gila. Di antara mereka mungkin terdapat kakak, adik, saudara, orang tua, kawan, atau tetangga kita. Masalahnya sekarang, bagaimana cara kita bersikap terhadap mereka? Yang paling aman tentu saja menyerahkan mereka dalam penanganan dan perawatan ahlinya. Katakanlah dimasukkan ke rumah sakit jiwa atau sekurang-kurangnya berkonsultasi dengan psikiater. Namun itu saja belum cukup. Kembali dari RS jiwa atau rutin berkonsultasi dengan psikiater belum menjamin kesembuhan mereka. Lingkungan justru menjadi penentu lain kesembuhan para penderita penyakit jiwa. Menerima mereka apa adanya, menghargai mereka sebagai manusia bukannya malah menyepelekan mereka, adalah bagian-bagian dari resep penyembuhan oleh lingkungan.

Lebih penting dari itu semua tak lain adalah menjaga diri untuk tetap memiliki emosi yang stabil dengan hanya berharap kepada pertolongan Allah melalui tawasul taqwa. "Man yattaqillaha yaj'allahu makhraja wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib", Barang siapa bertaqwa kepada Allah, Dia akan selalu memberikan jalan ke luar dari segala masalah, dan Dia akan melimpahkan rizki dari sudut yang tidak tersangka-sangka” (Al-Quran, 65, At-Thalaq, 2 - 3).

Bandung, 20 Maret 2003