Madu

Bagaikan petikan syair lagunya Arie Wibowo, “Madu di tangan kananku racun ditangan kiriku,” setiap manusia selalu dihadapkan pada dua pilihan, baik dan buruk, menyenangkan dan tidak menyenangkan. Menyenangkan ibarat madu dan tidak menyenangkan bagaikan racun. Racun merupakan bahan yang membahayakan dan bisa membawa kepada kematian sedangkan madu adalah minuman berkhasiat lagi berenergi tinggi yang “diproduksi” oleh lebah yang asal usulnya dari bunga-bungaan. Minuman yang binatang penghasilnya diabadikan sebagai nama salah satu surat dalam Al-Qur’an, ‘An-Nahl’, itu memiliki banyak manfaat. Selain sejak dahulu terbiasa digunakan manusia untuk obat dalam arti penawar atau penyembuh rasa sakit, juga telah lama dikenal orang sebagai obat kuat, pemulih atau pendorong stamina dan semangat.

Madu melahirkan bermacam-macam istilah. Dalam salah satu ceramahnya, Zainuddin MZ pernah menggoda pendengarnya, khususnya perempuan, dengan gurauan “pilih madu atau dimadu?” Pilihan yang menyebabkan sebagian pendengar mengulum senyum, sementara yang lain menampakkan senyum kecut. Istilah lain yang lahir dari kata madu adalah bulan madu.

Dalam pengertian umum, bulan madu adalah masa ketika sepasang suami isteri sedang melewati saat-saat penuh gairah cinta di awal pernikahan mereka. Bulan madu bahkan sering dipersempit artinya dengan perjalanan ke suatu tempat romantis di bulan-bulan pertama pernikahan. Kepada pasangan selebriti yang baru menikah biasanya diajukan pertanyaan, mau berbulan madu di mana? Untuk bulan madu dalam pengertian inilah, ada pasangan yang menyatakan tidak sempat berbulan madu karena padatnya kegiatan yang telah terjadwal.

Jangan-jangan karena persempitan makna bulan madu inilah, bulan-bulan dan apalagi tahun-tahun berikutnya dari suatu pernikahan kemudian menjadi hambar, tidak lagi bermadu. Komunikasi antara suami isteri yang semula hangat dan mesra lama-lama menjadi basi dan tawar. Hubungan suami isteri yang di awal-awal pernikahan dinikmati sebagai ekspresi rasa cinta, makin lama hanya dianggap sebagai pemenuhan hasrat biologis dan karenanya menjadi rutinitas belaka.

Pernikahan mempersatukan dua insan dengan latar belakang, kebiasaan, watak juga kesenangan yang berbeda. Jika pada masa-masa awal pernikahan segala perbedaan itu dianggap sesuatu yang lucu dan wajar-wajar saja adanya, seiring dengan bertambahnya usia pernikahan adakalanya perbedaan itu kemudian menjadi pemicu munculnya ketidak harmonisan.

Salah satu tujuan pernikahan adalah mendapatkan keturunan. Kehadiran anak-anak akan menghiasi rumahtangga dengan berbagai romantika yang dapat menyenangkan namun bisa juga malah menimbulkan berbagai persoalan. Perhatian isteri yang semula tertuju kepada suami, dengan hadirnya anak-anak kemudian bergeser. Saking senang dan repotnya mengurus anak, tak sedikit isteri yang abai memperhatikan suaminya. Suami yang kurang arif, yang memperlakukan istrinya hanya sebagai mesin produksi anak, alih-alih membantu isteri mengasuh dan membesarkan anak malah berpaling kepada perempuan lain karena merasa kurang mendapat perhatian lagi dari isterinya.

Jika kehidupan suami isteri telah menjadi monoton dan segala sesuatunya terasa sebagai rutinitas yang tak menyenangkan, jika hubungan suami isteri telah kehilangan fungsi rekreasinya, jika terpenuhinya hak suami isteri terjadi hanya atas nama penunaian kewajiban, jika ….. maka pasangan suami isteri perlu melakukan penyegaran, menikmati bulan madua kedua, ketiga, dan seterusnya. Ada yang melakukannya dengan napak tilas bulan madu mereka, ada yang sengaja menyepi berdua sambil saling berintrospeksi dan tafakur, ada yang memilih perjalanan rohani menemui Allah SWT ‘hanya berdua’ (dalam keramaian jamaah hajji/umrah) di depan baitullah. Apa pun caranya, yang penting ada tekad untuk mengembalikan masa-masa indah di awal pernikahan.

Suami isteri yang menunaikan kewajiban dengan sukacita sepenuh rela dan karenanya tanpa mereka sadari seluruh hak mereka telah terpenuhi, pasangan yang mengartikan masa bulan madu bukan hanya sesuatu yang dikaitkan dengan pemuasan libido semata, mereka yang menganggap romantika rumah tangga (selisih paham, pertengkaran kecil, konflik kepentingan, …) sebagai ujian yang akan mengukuhkan cinta kasih, mereka yang tak pernah kehilangan cara dan selalu menemukan kreativitas mengekspresikan cinta, suami isteri yang, … mereka tak memerlukan bulan madu kedua.

Yang dibutuhkan hanyalah selembar sajadah yang dibentangkan istri di belakang tempat sujud suami yang tengah mengimami keluarganya. Yang diperlukan hanyalah panjatan doa,

“Ya Allah jadikan suami/isteri yang telah Engkau pilihkan serta putra-putri yang Kau anugrahkan sebagai penyejuk hati dan sumber kebahagiaan kami, modal kami beribadah kepadaMu, jadikan kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Rabbanaa hab lanaa min azwajinaa wadzurriyyatinaa qurrata a’ayun waj’alnaa lilmuttaqiina imaama” (Alquran, surat AlFurqan:74)

Bandung, 20 Februari 2002