Membaca

Bahrul (18 thn), boleh dibilang sebagai tangan kanan dari Pak Haji, seorang tuan tanah di Bandung yang tanah dan sawahnya bertebaran di mana-mana. Orang tua Bahrul orang kampung yang lokasinya jauh dari kota, tergolong sebagai orang fakir, mustadh’afin. Karena itu ia hanya mampu menyekolahkan anaknya, Bahrul, hingga kelas 2 Sekolah Dasar. Selanjutnya tidak jelas bagaimana asal usulnya, akhirnya pada tahun 1975 an, Bahrul pindah ke Bandung membantu Pak Haji.

Karena rajin beribadah maka Bahrul dipercaya benar oleh tuannya mengurus pekerjaan yang berkaitan dengan urusan pertanian. Setiap harinya kegiatan Bahrul mengurus tanah dan sawah sang juragan, sedangkan malam harinya Bahrul lebih banyak terpaku dilayar kaca, "membaca" tayangan televisi sebagai hiburan dari kepenatan kerjanya sepanjang hari.

Gaji yang diperolehnya ditabung dan sesekali dikirimkan buat orang tuanya di lembur. Dari tabungannya ia juga bisa membeli kodak (begitulah kebanyakan orang menyebut tustel) seperti yang ia "baca" di televisi. Dengan tustel barunya itu ia bergaya kayak wartawan, jepret sana jepret sini, tetapi anehnya ia tidak pernah menunjukkan hasil jepretannya. Mengapa sebabnya tidaklah jelas alasannya, tetapi belakangan baru diketahui hasil karyanya gagal total alias tidak jadi. Apa tustelnya rusak atau kodak second? tidak ! Ternyata masalahnya adalah setelah menjepretkan kameranya diam-diam ia membuka kodaknya untuk dilihat apakah fotonya sudah jadi atau belum. seperti yang pernah ia lihat di televisi. Karuan saja semua negatif filmya terbakar total.

Sebuah kesalahan fatal, Bahrul salah membaca. Ia mengira kodaknya seperti yang pernah di promosikan seorang artis di televisi, tustel instan, polaroid. Sekali jepret tidak lama kemudian langsung jadi fotonya. Begitu gencarnya tayangan-tayangan visual di media elektronik, mau tak mau menggiring orang malas membaca. Berita yang disajikan surat-surat kabar, ditayangkan di televisi, lengkap dengan berbagai adegan kejadian, dan adakalanya diberitakan lebih cepat ketimbangan pemuatan oleh surat kabar. Buku-buku Novel Best Seller tahun 70-an, sekarang banyak mengilhami cerita-cerita sinetron. Maka Desy Ratnasari pun menjelma jadi Bu Yusnita, Dosen killer yang menjadi tokoh Novel Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar.

Herannya, tak sedikit mereka yang sempat membaca Novel tsb. Justru menjadi rindu, ingin membaca kembali Novel bersejarah yang sempat mereka nikmati. Kerinduan semacam itu bukan hanya dirasakan oleh pembaca Novel terkenal. Seorang Dosen salah satu PT ternama di Jakarta, sengaja datang ke kota Bandung untuk mencari toko buku yang dahulu menjadi langganannya yang menyediakan buku cerita karya pengarang terkenal. Gejala apakah ini?.

Belakangan ada tren baru yang muncul, termasuk kalangan artis, yaitu tumbuhnya minat membaca buku. Mungkin karena orang sudah mulai bosan dengan berbagai macam permainan, game yang banjir di pasaran. Dengan nonton game atau memelototi film senetron yang dirangsang hanya indera mata saja yang gambar dan ceriteranya hanya soal-soal itu saja seperti gambar dan ceritera komik.

Ada seorang pengamat buku yang mengatakan, mungkin akan kembali ke masa tahun 70 an di mana muncul taman-taman bacaan. Hal itu termasuk fenomena menarik, karena minat baca itu muncul di tengah-tengah pesatnya teknologi audio visual yang gampang di ‘’baca’’ tanpa repot-repot membalik-balikkan lembaran.

Alhamdulillah sebagian besar masyarakat bangsa kita telah bisa membaca, sekali pun yang mereka baca barulah sebatas nilai informasi sekedarnya. Budaya baca kita masih terbatas pada budaya baca surat kabar dan belum budaya baca buku. Intelektual kita masih terbatas pada intelektual surat kabar, belum intelektual buku. Akibatnya, tingkat berpikir kita juga hanya tingkat berpikir sesaat lewat informasi surat kabar. Tingkat baca yang demikian itu mudah menjadi korban para pemikir tingkat buku

Buku adalah guru, buku adalah sumber kebenaran. Buku itu sakti karena buku dipandang sebagai benda keramat bagi mereka yang tak bisa membacanya dan tak memilikinya. Budaya membaca buku belum menjadi milik kita, Hal ini terbukti dari langkanya perpustakaan rakyat di setiap kecamatan, bahkan kota kabupaten. Dan kalau pun ada, sangat jarang orang mengunjungi karena perpustakaan masih dianggap sebagai gedung yang penuh misteri.

Kini banyak sekolah dan bahkan perguruan tinggi yang lebih mementingkan budaya oral ketimbang pemikiran. Semangat membangun ruang kelas dan kuliah menggebu-gebu, sementara ruang perpustakaan hanya sekedar alat untuk mendapatkan akreditasi. Budaya baca tak pernah mendapatkan prioritas yang penting atau hanya sekedar formalitas. Menyedihkan memang, tetapi begitulah kenyataannya. Membaca buku harus dijadikan sebagai budaya bangsa. Kita tidak membaca karena dasar mental kita telah dibentuk oleh tradisi lama yang komunal, feodal dan oral. Perubahan sikap budaya di mana pun, pendidikan nilai memegang peranan penting. Pendidikan nilai perlu dikembangkan dan dibiasakan dalam keluarga, masyarakat, lingkungan pendidikan formal dan nonformal dan di lingkungan sosial.

Pada akhirnya, last but not least, siapa yang banyak membaca akan menguasai dunia dan siapa yang malas membaca hidupnya akan merana. Agama besar yang diturunkan Allah SWT mengajarkan pemeluknya agar membaca dan membaca. Bukankah ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pertama kali mengajarkan membaca,

"Iqrak bismi rabbika alladzi khalaq" (Q, 96, Al-‘Alaq, 1)

Bandung, 3 Juli 2003