Mengandung

Bukan salah bunda mengandung adalah sebuah ungkapan yang dahulu seringkali diucapkan orang, akan tetapi kini jarang digunakan. Dalam konteks yang tidak persis sama, secara umum ungkapan itu benar adanya. Mengandung adalah fitrah perempuan, naluriahnya seorang ibu. Tak ada yang harus dipersalahkan ketika seorang perempuan mengandung. Yang salah dan bahkan dianggap sebagai dosa besar adalah sikap atau tindakan yang menyebabkan seorang calon ibu mengandung. Itu pun bila terjadi pada wanita yang belum bersuami. Itulah yang kemudian disebut perbuatan zina.

Mengandung itu berat. Betapa tidak, karena dalam waktu kurang lebih 9 bulan wanita yang mengandung mendapatkan beban yang berat, fisik maupun psikis. Pada kehamilan yang tidak dikehendaki beban itu menjadi sangat-sangat berat, bahkan adakalanya tidak tertanggungkan lagi. Maka tidak perlu heran jika banyak calon ibu yang mengambil jalan pintas, abortus, alias mengugurkan kandungan. Ketika seorang calon ibu tidak tega atau tidak kuasa mengugurkan kandungannya, atau usaha untuk itu tidak berhasil, bukan berarti anak yang tidak diinginkan itu akan baik-baik saja.
Adakalanya calon ibu yang mengalami peristiwa demikian, demi menutupi aibnya kemudian membunuh atau membuang bayinya sesudah ia melahirkan. Dua kesalahan dilakukan, perbuatan zina dan membunuh atau membuang bayi. Fenomena yang marak terjadi belakangan ini, peristiwa pembuangan dan pembunuhan bayi oleh ibunya sendiri, merupakan gambaran bahwa manusia bila lepas nilai-nilai kemanusiannya, maka ia akan bertindak sadis dan kejam bahkan lebih kejam ketimbang binatang.
Fenomena maraknya pembuangan bayi belakangan ini sesungguhnya tidak lepas dari permasalahan perzinaan yang semakin membudaya sebagai dampak negatif dari kemajuan teknologi dan kemunikasi. Zina adalah aktifitas yang tidak bisa terjadi bila dilakukan hanya oleh seorang individu saja, kecuali pada yang disebut dengan zina tangan. Perzinaan baru bisa berlangsung bila ada dua insan yaitu laki-laki dan perempuan, karena zina adalah hubungan seksual antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang belum atau tidak ada ikatan nikah, ada ikatan semu (seperti nikah tanpa wali wali, nikah mutah dan beberapa laki-laki terhadap hamba perempuan yang dimiliki secara bersama) atau ikatan pemilikan (tuan atas hamba sahaya). (Ensiklepedi Islam 5:237).

Perzinaan mempunyai sejarah yang panjang setua sejarah kemanusiaan itu sendiri. Melenyapkan perzinaan bukanlah perkara mudah jika tidak dibilang sebagai sesuatu yang mustahil. Berbagai upaya dilakukan, salahsatunya melalui pengaturan pada perundang-undangan. Baru-baru ini Menkeh & HAM, Yusril Ihza Mahendra, mengemukakan rencana untuk mengadopsi hukum Islam, lewat pasal perzinaan, dalam rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHAP).

Rencana ini kemudian memunculkan pro dan kontra. Dalam KUHAP lama, seseorang baru bisa terkena jerat hukum hanya jika diadukan terlibat perzinaan dengan lawan yang sudah terikat dalam tali perkawinan. Jika rancangan KUHAP yang dimaksud Menkeh & HAM disetujui dan diberlakukan, delik perzinaan bisa dikenakan kepada siapa saja. Siapa pun yang melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, tak peduli yang bersangkutan sedang terikat tali pernikahan dengan pasangan lain atau belum menikah, bisa terkena delik perzinaan. Bukan hanya itu, pidana susila juga akan dikenakan kepada mereka yang kumpul kebo.

Katakanlah rancangan KUHAP dimaksud pada akhirnya diberlakukan, menyeret dan menghukum pelaku zina tetap saja tidak mudah. Hukuman bisa dilaksanakan bila ada pengakuan dari pelaku. Selain pada kasus jamaahnya Ja’far Umar Thalib yang menggemparkan itu, mana ada sih orang yang mau mengaku telah berbuat zina? Andai pun tidak ada pengakuan dari pelaku, hukuman tetap bisa diberlakukan jika ada empat orang saksi yang melihat perbuatan terlarang itu. Apakah ada 4 orang menyaksikan sejak “bola” dari tengah lapangan di oper ke kiri kanan, di bawa lagi ke tengah umpan ke depan dan sundul ke dalam "gawang lawan" dalam waktu yang sama. Pernahkah ada peristiwa seperti itu? Yang tak bisa menghindar, jelaslah perempuan yang hamil di luar nikah. Lalu, bagaimana dengan pria pasangan zinanaya?

Menghapus perzinaan ternyata bukan hanya masalah hukum. Lebih penting dari itu diperlukan tekad kuat dari seluruh anggota masyarakat untuk berpegang teguh kepada aturan agama, serta komitmen semua unsur bangsa untuk melestarikan nilai-nilai budaya yang penuh muatan moral. Rasulullah SAW. datang dengan misi utamav perbaikan akhlaq, Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq. Islam datang memberantas perzinaan dengan preventif selain memberikan tindakan represif. Al-Qur’an mengajarkan, jauhilah perbuatan zina, “Wal taqrabuz zina innahu kana fahisyah wa sa-a sabila “ (Q, 17, Al-Isra’, 32)

Bandung, 16 Oktober 2003