Nama

Kalau di Mekah ada Masjid Jin, di Bandung tidak jauh dari pusat ‘Jin’ Cihampelas ada masjid yang bernama Mungsolkanas. Suatu nama yang tidak lazim, mengingat kebanyakan masjid umumnya diberi nama berbahasa Arab, biasanya berawalan al, atau mengambil nama tokoh-tokoh muslim. Sejarahnya, para jin yang terkesima mendengarkan Al-Qur’an bersepakat (berbaiat) mengakui kerasulan Muhammad SAW. (Q, 72, Al-Jin, 1-2). Masjid yang dibangun di tempat turunnya ayat tersebut, kemudian dinamai Masjid Jin. Adapun masjid Mungsolkanas di Bandung, yang tahu ‘asbabulwurud’nya, ceriteranya hingga dinamai demikian, tentu yang memberi dan memilih nama tersebut.

Masjid lainnya di Cikutra diberi nama Anna-Suha. Boleh jadi nama tersebut tidak ada kaitannya dengan gabungan nama Anna, tokoh perfileman dan Suha isterinya Yaser Arafat sang tokoh dan pejoang Palestina yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan orang. Yang dimaksudkan pemberi nama kemungkinan besar adalah An-Nasuuha sebagai sifat dari taubat, Taubat an-Nasuuha. Memang, kadang-kadang orang tidak lagi mengindahkan kaidah bahasa dan cara penulisannya yang benar saat memberi nama.

Ada perempuan bernama Wattini (demi buah tin), mestinya cukup Tien atau Tini saja. Ada orang tua yang menamai anaknya Min Jihadu (mestinya Min Jihadi). Solihin (orang-orang saleh), adalah nama buat laki-laki yang begitu akrab di telinga kita. Jika ingin pas, mestinya cukup Solih atau Soleh saja. Perkara menggunakan jamak untuk keperluan tunggal, memang telah biasa kita lakukan. Kita biasa memanggil seorang kiyai dengan sebutan ulama (yang artinya orang-orang berilmu), padahal jika yang dipanggil satu orang, mestinya digunakan bentuk tunggal yaitu 'alim.

Sekedar menyalahi kaidah bahasa, barang kali tidaklah apa-apa. Yang lucu ada orang tua memilihkan nama Farji (yang berarti kemaluan perempuan) buat puteranya atau Farjiati untuk puterinya. Nama itu barangkali awalnya dimirip-miripkan atau didekat-dekatkan dengan kata fajri.

Di salah satu kota pesisir pantai utara, banyak nama aneh yang sepertinya dimirip-miripkan dengan istilah-istilah berbahasa Arab, sebut saja Hasyafah, pokoknya yang penting berbau Timur Tengah. Dapat dipahami karena mereka tidak tahu dan mengerti, padahal Hasyafah, anda ingin tahu artinya? Artinya adalah 'helm', ujung zakar. Subhanallah.

Apalah artinya sebuah nama, what is a name, begitu kata penulis Inggris, William Shakespeare (1564). Bunga mawar, apapun nama yang digunakan untuk menyebutnya, ia tetap saja akan menaburkan harum wangi. Barangkali Shakespeare tidak menganggap penting artinya sebuah nama, tetapi kita juga tidak tahu persis apakah ia akan menoleh kalau dipanggil dengan nama lain.

Entah karena setuju dengan Shakespeare, atau barangkali karena kehabisan ide, seorang pencipta lagu yang sangat produktif menamai anaknya dengan begitu lugas, Anakku Lelaki. Berbeda dengan sang komponis, sepasang suami isteri sengaja menamai anak mereka dengan sebutan manis yang merupakan singkatan dari gabungan nama mereka berdua. Tentu saja dengan harapan cinta mereka akan abadi, seabadi kasih sayang buat si buah hati.

Seorang pengusaha asal Karawang yang memperisteri wanita Indramayu, menamai anaknya dengan Wangyu (singkatan dari Karawang Indramayu). Ketika Wangyu beroleh adik perempuan, serta merta mereka menamai sang puteri dengan Karin (lagi-lagi singkatan dari Karawang Indramayu). Apabila mereka dikaruniai anak pria lagi, mereka telah menyiapkan nama Indraka (Indramayu Karawang).

Begitulah cara orang memberi nama, nama orang, nama masjid, nama sesuatu yang penting, biasanya selalu dihubung-hubungkan dengan nama tempat, sejarah kejadian yang istimewa atau alasan-alasan penting lainnya. Nama memang penting, akan tetapi yang diberi nama jauh lebih penting. Sebuah nama yang baik kalau isinya amburadul apalah artinya, mendingan nama yang tidak atau kurang baik akan tetapi isinya penuh kebaikan dan kebajikan. Ada seorang tokoh yang membuat analogi sambil mengajukan pertanyaan, mana yang lebih baik, minyak samin cap babi atau minyak babi cap onta?

Dalam perihal panggil memanggil, jelas nama digunakan sebagai ciri utama identitas diri, tanda bagi yang punya nama. "Kesalahan" penulisan nama yang sama bisa-bisa orangnya memang berbeda apalagi kalau alamatnya tidak sama. Nama boleh saja sama, tetapi selamanya tidak pernah ada dua manusia yang sama di atas jagat raya ini, cap jempolnya saja berbeda hatta orang yang kembar sekalipun. Makanya trend undangan perkawinan akhir-akhir ini di bawah kolom alamat ada tulisannya, mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan nama dan gelar. Begitulah karena saking pentingnya sebuah nama.

Sejak dini Rasulullah SAW sudah menganjurkan para orang tua agar memilihkan sebuah nama yang baik buat putera-puterinya karena kelak di hari kiamat seseorang itu akan dipanggil menurut namanya dan nama orang tuanya. (HR.Abu Dawud dari Sahabat Abu Darda RA.) Dan bahkan di depan sahabat Ibnu Umar RA. Rasulullah SAW. menyatakan, sebaik-baiknya nama di hadapan Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman. Tentu saja tidak mesti harus menggunakan bahasa Arab, karena yang lebih penting adalah arti dan maknanya.
Sekali lagi nama adalah ciri identitas diri, pemiliknya pasti senang dengan nama yang disandangnya. Allah SWT melarang kita panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.

Seburuk-buruknya panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. (Q, 49, Al-Hujurat, 11)

Bandung, 25 Oktober 2000