Oposisi

Kemajemukan adalah suatu yang niscaya, demikian pula halnya pada manusia dan kehidupannya. Rambut bisa sama-sama hitam tetapi pikiran orang jelas berbeda. Sejak dari awal Tuhan menjadikan laki-laki dan perempuan dan kemudian berkembang biak menjadi banyak dan amat banyak, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Semuanya itu dimaksudkan untuk bantu membantu dan tolong menolong sesamanya, bukan beroposisi berhadap-hadapan saling ‘mengadu kekuatan’ seperti demonstrasi yang seringkali terjadi akhir-akhir ini.

Menurut kamus ‘Lisan al-Arab”, istilah ‘mu’aradhoh’ berarti berhadap-hadapan; mencegah; berbeda; menjauhi; mebatalkan dengan perkataan dan persaingan. Kalau dalam kehidupan politik, bila ada dua pihak yang berlawanan, maka biasanya terjadi antara pihak yang berkuasa dan pihak yang tidak berkuasa. Pihak yang kedua inilah, yang tidak memegang kekuasan, disebut dengan kelompok oposisi.

Kolompok oposisi bisa berupa suatu partai, jamaah atau gerakan. Dalam sistem politik Barat, kekuasaan diperoleh melalui pemilihan umum. Para kontenstan yang terdiri dari partai-partai politik, berlomba mencari dukungan rakyat sebanyak mungkin. Siapa yang paling banyak memperoleh dukungan berarti dialah yang menang dan berhak mengendalikan kekuasaan sebagi pemerintah yang sah. Sedang pihak yang kalah berada di luar pemerintahan disebut kelompok oposisi. Kelompok ini kelompok minoritas, berperan sebagai pengontrol jalannya pemerintahan.

Terkadang oposisi diidentikkan dengan perseklisihan, padahal oposisi dan perselisihan itu jauh berbeda. Perselisihan mengarah pada pelepasan tanggung jawab oleh pihak tertentu karena keinginanya tidak terpenuhi. Sedangkan oposisi yaitu hak mengajukan pendapat walaupun bertentangan dengan pendapat masyarakat pada umumnya.

Perselisihan mencerminkan sifat tidak bersahabat sehingga perlu diberi sanksi dan sedapat mungkin dihindari. Sedangkan oposisi dalam pengertian positif adalah sesuatu yang dibenarkan, karena merujuk pada nilai-nilai imani. Dalam sejarah Islam kita menyaksikan para oposan yang saling berhadapan satu dengan lainnya. Kemudian pendapat itu mengkristal menuju kemaslahatn bersama. Perbedaan pendapat tidak bersifat kaku karena masih dalam batas yang dibenarkan. Hal tersebut berbeda dengan perselisihan batil atau berselisihan atau perselisihan setan, seperti tindakan kaum Khawarij terhadap Imam Ali dan jama’ah Islam.

Oposisi disampaikan dengan motivasi menunjukkan kesalahan, kebatilan, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan, Tujuannya adalah agar obyek dapat berubah ke arah yang lebih positif. Dalam salah satu khotbahnya Imam Ali Karromallahu Wajhah sering ‘mengkrtik’ sahabat-sahabatnya yang malas untuk berperang. Namun ucpan yang disampaikannya sangat bijak, tidak asal nyeplak, asbun, asal bunyi. Sebagai buktinya ada kata-kata beliau yang cukup terkenal, ta taqul kullamaa ta’rif, bali’rif kullamaa taquul, janganlah engkau ngomong apa saja yang engkau ketahui, tetapi ketahuilah apa yang anda omongkan, apakah akan membawa kemaslahatan atau akan mengakibatkan keruskan.

Oposisi menurut ajaran agama berorientasi kepada kepentingan umat, mengutamakan penumpasan kemungkaran dan mendidik umat untuk berterus terang, jujur dan berprinsip, tetapi tetap berada dalam etika. Kaedah fiqhiah mengatakan, Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih, menolak kerusakan lebih diutamakan ketimbang keinginan mendapatkan kemaslahatan. Karena kerusakan itu jelas dampaknya, sedangkan kemaslahatan baru dalam bentuk cita-cita.

Oposisi mempunyai berbagai macam bentuk, bisa berwujud organisasi politik seperti yang ada di Barat. Namun perlu menjadi perhatian bersama bahwa oposisi seringkali membawa malapetaka, memecah belah persatuan umat dan biasanya membias dalam segalam bidang kehidupan. Itulah sebabnya suatu gerakan oposisi harus dilandasi dengan beberapa kaedah beramar ma’ruf nahi munkar.

Oposisi dalam sejarah Islam lebih banyak bersifat perorangan, sehingga pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan bersama dilakukan secara langsung atau perwakilan tanpa harus membentuk partai politik. Setiap orang yang beroposisi bukan memperjuangkan kepentingan pribadi atau partai, tetapi semata-mata menegakkan nilai-nilai kebenaran sesuai dengan tuntunan agama.

Oposisi adalah hak individu yang ditopang oleh sikap kritis terhadap kondisi sosial yang menyangkut kepentingan umat. Bisa melalui perwakilan dengan menunjuk orang-orang yang mempunyai ilmu pengetahuan. Yang penting fungsi kontrol terhadap proses kepemimpinan terus berjalanb. Umat bebas menentukan pola mana yang akan ditempuh. Tetapi yang lebih penting adalah cara dan tujuannya yang juga perlu mendapatkan perhatian.

Last but not least, oposisi sah-sah saja dilakukan asal yang penting dengan ahklak yang baik dan tunjuannya adalah untuk kemaslahatan bersama. Bahkan kalau direnungkan dalam-dalam, oposisi merupakan kewajiban moral bagi setiap orang yang beriman.

Tawashou bilhaqqi tawashou bisshobri, saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran adalah sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dengan iman dan amilus shalihat. (Q, 103, Al-Asr, 3)