Pembiasaan

Pagi-pagi sekali Bu Ningrum sudah marah-marah pada pembantunya. Pasalnya sederhana, Inah, nama sang pembantu, membuang kertas bertuliskan huruf Arab ke dalam tong yang penuh dengan berbagai sampah dapur, tanpa dibakar terlebih dahulu. Bu Ningrum mengira, kertas itu bertuliskan ayat-ayat Al-Quran. Kemarahan Bu Ningrum baru reda ketika Adi, putra sulungnya, meyakinkan bahwa kertas itu tak lain adalah salinan salah satu halaman skripsi seorang mahasiswa Sastra Arab, dan sama sekali tak memuat ayat Al-Quran. Ibu yang mengaku demikian hormat terhadap simbol-simbol suci agamanya itu, ternyata tak mampu mengenali tulisan Al-Quran, kitab suci agamanya sendiri.

Peristiwa seperti itu tak hanya terjadi pada Bu Ningrum. Tak sedikit muslim yang hanya bisa mengenali ayat-ayat atau surat dalam Al-Quran, sebatas yang biasa mereka baca. Tak sedikit pula orang yang apal cangkem, hanya mampu mengucapkan ayat atau surat tertentu dari Alquran yang mereka hafal, akan tetapi tidak bisa membacanya. Yang paling parah, tentu saja orang yang mengira bahwa tulisan “dijamin halal” (dalam huruf Arab) pada mie instant juga merupakan bagian dari Al-Quran. Tapi, masa iya sih ada orang yang seperti itu? Agar bisa membedakan mana yang Al-Quran dan mana yang bukan, kita tentu harus mengenali huruf Arab sebagai gerbang pemahaman bahasa Arab.

Bahasa Arab merupakan kunci dari gudang ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan tentang diri manusia dan Tuhannnya. Semakin kuat pengetahuan bahasa Arab yang dimiliki seseorang, maka semakin besar pula kesempatannya untuk bisa mendapatkan ilmu pengetahuan tersebut. Mengapa? Karena bahasa Arab merupakan bahasa Al-Quran dan Al-Hadits, bahasa pembuka ilmu-ilmu syariat Islam. Belajar bahasa Arab bisa dilakukan siapa saja dan kapan saja. Akan tetapi, untuk mendapatkan hasil yang maksimal tentulah akan lebih baik jika hal itu dimulai pada masa kanak-kanak, dengan sekurang-kurangnya belajar baca tulis huruf Arab melalui pembelajaran Al-Quran.

Mengajarkan Al-Qur’an sejak dini merupakan suatu yang niscaya dan penting, tetapi pelaksanaannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Untuk mencapai tujuan tersebut jelas diperlukan dukungan dari berbagai pihak termasuk kemaun politik, political will, di samping tentu saja menanamkan kebiasaan dalam masyarakat. Menanamkan kebiasaan itu bukan perkara yang mudah, diperlukan selain situasi kondisi yang menunjang, conditioning, dari keluarga maupun masyarakat luas, juga yang lebih penting adalah komitmen dari individu-individu yang mempunyai watak.

Watak ialah kepribadian yang dipengaruhi oleh motivasi yang menggerakkan kemauan sehingga orang itu bertindak. Bila seseorang sering-sering atau membiasakan diri melakukan tindakan berdasarkan kemauan yang teguh dan kukuh, maka ia dinamakan seorang yang berwatak. Sebaliknya bila seseorang tidak mempunyai pendirian dan hidup dari hari ke hari tanpa tujuan (tanpa pegangan yang kelihatan nyata), maka ia dikatakan tak berwatak. (Maramis 1983, hal. 283)

Rasululullah Muhammad saw, seorang yang berwatak agung, memberikan perhatian yang begitu besar pada pendidikan anak. Dalam kondisi bagaimanapun beliau selalu berupaya untuk bisa menjadikan anak-anak muslim memiliki pengetahuan, minimal kemampuan baca tulis. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Al-Hakim, sahabat Ibnu Abbas menuturkan bahwa perang Badar usai dengan membawa kemenangan, dan kaum muslimin banyak mendapatkan tawanan perang. Ketika itu Rasulullah saw. mengambil sikap yang sangat bijak, para tawanan perang yang tidak mampu menebus dirinya diminta mengajarkan baca tulis kepada anak-anak kaum muslimin yang tidak pandai baca dan tulis.

Di negeri kita, sekarang ini anak-anak mulai belajar baca tulis, bahkan sejak mereka memasuki Taman Kanak-kanak (TK). Selain taman kanak-kanak biasa, sekarang juga tersedia Taman Asuh Anak Muslim (TAAM), Taman Kanak-kanak dan Taman Pendidikan Al-Quran (TK/TPA) yang telah menjamur di mana-mana.

Anak-anak TK/TPA telah terbiasa menyanyikan do’a, “Allahummarhamna bil qur’an, waj ‘alhu lana imaman wa nuran wa hudan wa rahmah…” dengan penuh semangat. Dengan cara itu anak Indonesia mulai belajar bahasa Al-Qur’an.Terlepas adanya beberapa hal yang perlu dibenahi dan ditingkatkan dari penyelenggaraan TKA dan TPA, sekarang ini tak ada alasan lagi bagi orang tua untuk tidak mendorong dan membiasakan anak-anak belajar membaca huruf Arab sejak dini.

Pada prakteknya, selain mempercayakan pembiasaan tersebut kepada para guru, akan lebih bijaksana jika orang tua ikut terlibat dalam proses tersebut. Keterlibatan orang tua bisa dibuktikan dengan pendampingan, perhatian penuh, juga pemberian contoh. Diharapkan dengan demikian, selain anak-anak, orang tua juga bisa menjadi ahli Al-Quran seperti yang dimaksudkan Rasulullah SAW.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Didiklah anak-anakmu atas tiga hal : mencintai Nabimu, mencintai keluarganya (ahli baitnya) dan membaca Al-Quran. Sebab orang-orang yang ahli Al-Quran itu berada pada naungan singgasana Allah pada hari yang tidak ada perlindungan selain dari perlindunganNya beserta para nabiNya dan orang-orang yang suci”. (HR.Imam At-Tabrani dari Ali bin Abi Thalib) Demikian pula bukankah ayat Al-Quran yang mula pertama kali diturunkan berbunyi, Iqra’ bismi rabbikalladzie khalaq... (Q,96, Al-‘Alaq, 1-5)

Bandung, 1 Mei 2003