Pesan

Pa Misbach, seorang Dosen Fisika pada salah satu PTN di Bandung, benar-benar merasa kesal. Masalahnya sepele, dalam mata pelajaran IPA anaknya yang duduk di kelas 3 SD jauh lebih percaya kepada gurunya ketimbang terhadap dirinya, yang nota bene jauh lebih menguasai bidang ilmu tersebut. Tidak demikian halnya dengan Ny. Misbach. Ibu yang arif ini malah memanfaatkan kekaguman sang anak terhadap Ibu gurunya untuk menyampaikan berbagai titipan secara ‘terselubung’. Ketika anaknya tak juga mau merubah kebiasaannya, menyalakan pesawat TV saat belajar, kepada sang guru lah dia mengadu. Melalui Ibu guru pulalah Ny Misbach meminta agar sang anak mau mengurangi makan makanan instan dan mulai membiasakan makan sayuran.

Jika Ny. Misbach biasanya langsung bertemu dengan guru anaknya, Bu Ratna yang wanita karier memilih berkomunikasi dengan wali kelas puterinya melalui tulisan. Di dunia persekolahan ada sebuah media yang diperuntukkan bagi guru buat menyampaikan pesan kepada orang tua siswa dan sebaliknya, yang bernama Buku Penghubung. Melalui media itu, pihak sekolah yang diwakili wali kelas bisa menyampaikan berbagai informasi tentang siswa kepada orang tua mereka, sebaliknya orang tua pun dapat menyampaikan usul dan keluhan kepada sekolah tanpa ragu-ragu. Ny. Ratna beruntung, SD tempat anaknya bersekolah komitmen tetap menggunakan Buku Penghubung untuk memperlancar komunikasi dengan orang tua siswa. Mungkin karena dianggap kurang efektif atau sudah tak diperlukan lagi, media itu jarang dipergunakan lagi di sekolah dasar. Beberapa TK juga konon ada yang belum memanfaatkan sarana tersebut secara optimal.

Buku Penghubung merupakan suatu media berkomunikasi melalui tulisan. Berkomunikasi melalui tulisan, jika dilakukan secara efektif sebenarnya dapat mengurangi terjadinya salah faham atau miskomunikasi. Dalam kehidupan sehari-hari kita melakukan banyak sekali kegiatan komunikasi, mengirim atau menerima sesuatu. Sesuatu yang disampaikan atau dikirimkan biasanya disebut stimulus. Karena stimulus yang dikirimkan itu berupa informasi dalam suatu transaksi komunikasi, maka kemudian lebih tepat disebut sebagai ‘pesan’.

Miskomunikasi atau kesalahfahaman dapat terjadi karena ‘pesan’ yang disampaikan tidak dapat diterima sebagaimana yang dimaksudkan oleh pengirim pesan tersebut. Guna menghindari hal tersebut, sebuah pesan sebaiknya tidak mengandung hal-hal yang membingungkan, umpamanya di dalamnya terdapat kata-kata atau ucapan-ucapan yang mempunyai makna ganda, ambigu. Pada prakteknya, ungkapan-ungkapan dalam pembicaraan sering tidak jelas maksudnya, umpamanya saja ‘apa yang dikatakan tidak sepenuhnya benar’.

Kalau Buku Penghubung antara Sekolah (Guru) dan orang tua siswa dimaksudkan agar baik guru maupun orang tua dapat memantau kemajuan belajar dan aktivitas siswa, maka tentu saja dalam menuliskan segala sesuatunya pada buku penghubung tersebut diperlukan kejujuran dan kearifan. Selain itu tentu saja dengan etika yang terpuji, artinya tidak sekedar daftar laporan seperti halnya yang dikenal dengan istilah ABS, asal bapak senang. Buku penghubung hanyalah sekedar media agar pesan yang diharapkan bisa sampai ke alamat tanpa adanya distorsi, penyimpangan di tengah jalan.

Sebuah pesan akan sampai dengan baik manakala dilengkapi komponen lain yang mendukung suksesnya komunikasi. Semua komponen itu dilukiskan oleh seorang pakar komunikasi, H.Laswell, dengan ungkapan yang sederhana, Who says what in what channel to whom with what effect. Maksudnya bahwa komponen penting dalam sebuah komunikasi adalah sumber/pengirim, sander, pesan, massage, penerima, receiver, saluran/media, channel, dan tujuan apa ingin diperoleh atau akibat dari suatu proses komunikasi.

Apakah pesan seseorang mesti dilaksanakan? Karena pesan itu sama dengan amanat, pada dasarnya pesan yang dititipkan melalui kita harus disampaikan ke alamatnya dan inti pesannaya harus dilakukan. Namun demikian, kita tetap harus mempertimbangkan esensi pesan tersebut, kondisi psikologis pengirim dan penerima pesan, dan tentu saja kemadharatan dan kemanfaatan penyampaian pesan tersebut. Jika pesan yang dititipkan seseorang diperkirakan malah akan memperkeruh suasana atau malah merugikan, sebaiknya kita perlu berpedoman kepada wanti-wanti Imam Ali Karramallahu Wajhah: La taqul kullama ta’rif, Bal i’rif kulla ma taqul, Tak semua hal yang kau ketahui harus kau ungkapan, sebaliknya fahamilah segala sesuatu yang kau ungkapkan.

Al-Quran banyak memberikan pelajaran tentang berkomunikasi. Yusuf seorang Nabi, manusia pilihan berbudi pekerti mulia, setelah mendengar pengakuan kesalahan dari saudara-saudaranya secara terus terang, maka ia dengan tandas dan gamblang memaafkan kesalahan saudara-saudaranya.
Selanjutnya Penguasa Mesir, ‘PM 1’ itu memberikan pesan yang jelas kepada saudara-saudaranya,

"pergilah kalian dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah ke wajah ayahku, nanti beliau akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku”.(Q, 12, Yusuf, 93)

Allahu Akbar, gayung bersambut dan pesan pun berjalan efektif, karena akhirnya terjadilah pertemuan keluarga yang sangat mengharukan dan sekaligus menggembirakan dengan datangnya rombongan besar yang dalam suatu riwayat berjumlah 70 orang menghadap Nabi Yusuf.

Bandung, 26 Juni 2003