Pesantren

“Libur telah tiba…libur telah tiba… libur telah tiba…hatiku gembira.” Tasya pun berlenggang-lenggok sembari menebar senyum, bertepuk tangan, melompat-lompat penuh suka cita. Siapa sih yang tidak bergembira bila mendapatkan liburan. Yang namanya libur sehari setiap akhir pekan saja menyenangkan, apalagi liburan panjang. Bali, itulah daerah wisata favorit Tasya yang ia pilih untuk menghabiskan waktu libur. Suatu tempat yang disukai banyak turis, bukan hanya dari dalam negeri, tetapi juga pelancong dari mancanegara.

Bagi entertainer (cilik) sekelas Tasya, berlibur di Bali bukanlah perkara besar. Andai tempat itu sudah tak lagi menarik, Indonesia masih memiliki puluhan (bahkan mungkin ratusan) objek wisata lain yang tak kalah memikat. Berlibur ke luar negeri, mengapa tidak? Sayangnya tak semua anak bisa seberuntung Tasya. Tak sedikit anak-anak yang hanya bisa mengunjungi daerah wisata di sekitar tempat tinggalnya saja, di saat libur. Juga tak sedikit diantara mereka yang terpaksa harus tetap tinggal di rumah, menikmati acara-acara televisi yang sengaja diprogram untuk mengisi liburan sekolah. Mereka yang tidak beruntung bahkan harus tetap menjalankan rutinitas, berjualan atau ngamen sebagaimana hari-hari biasa.

Libur memang tak selamanya identik dengan wisata. Libur tak selamanya berarti istirahat dan memanjakan diri. Beberapa siswa/mahasiswa bahkan sengaja mengisi liburan dengan mengikuti paket ‘serius’: semester pendek, pelatihan singkat, magang di suatu perusahaan, atau mencoba hal-hal baru yang menantang. Apapun kegiatannya, program liburan diharapkan dapat memberi “refreshing”, membebaskan anak-anak dari kegiatan rutin yang menjemukan. Dengan demikian, sesudah liburan anak-anak dapat menekuni rutinitas mereka dengan semangat baru.

Sigmund Freud beranggapan bahwa benda hidup itu telah dipersiapkan dengan kesanggupan untuk memberi reaksi terhadap berbagai perangsang, baik dari luar maupun dari dalam, dan kesanggupan ini merupakan suatu sifat istimewa bagi kehidupan. Ketika makhluk hidupmenghadapi suatu rangsangan yang sama dan rutin secara terus menerus maka lama-lama ia akan mengalami risau, salah satunya adalah rasa jenuh. Bila kerisauan terjadi maka berarti ia berada dalam keadaan yang tidak seimbang. Iapun akan berusaha mencari-cari aktivitas lain untuk melepaskan diri dari kejenuhan dengan harapan dapat kembali kepada keadaan seimbang, equilibration.

Dalam urusan mencari keseimbangan itulah, belakangan ini muncul trend baru. Lebih dari sekedar memberi kesegaran fisik, paket liburan menawarkan ‘pemanjaan’ ruhani. Sebut saja wisata umrah yang hanya bisa dinikmati kalangan atas, atau pesantren kilat yang bisa diikuti kalangan beragam. Dari yang diselenggarakan secara sederhana dan biaya infaq yang bisa dijangkau oleh umum hingga yang dikelola secara profesional, tentu saja dengan biaya yang aduhai pula. Pesantren kilat, lebih dikenal dengan sanlat, kini dikemas sedemikian rupa dan menawarkan acara-acara menarik, semisal out bond dan tadabbur alam.

Sanlat diminati karena dianggap bisa menjadi alternatif pengisi waktu-waktu liburan dengan pemberian wawasan pengetahuan keagamaan dan pembiasaan akhlaq yang mulia. Sanlat sangat bermanfaat karena mampu membentuk pribadi yang seimbang. Kepribadian yang seimbang adalah pribadi yang tercukupi kebutuhan jasmani ruhaninya, kepribadian yang dibentuk dari tubuh yang sehat dan kuat serta terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya dalam batas-batas yang diperkenankan agama. Namun demikian, sanlat baru akan berhasil apabila sekembali dari pesantren, lingkungan memberi dukungan untuk penerapan segala prinsip dan akhlaq yang anak-anak pelajari ketika mengikuti sanlat.

Mengisi waktu-waktu liburan dengan cara yang tidak tepat dan tak terpuji boleh jadi hanya akan mendatangkan kebahagiaan duniawi saja. Namun sebaliknya mengisi saat-saat senggang dengan dengan cara yang tepat dan terpuji insya Allah akan menjanjikan kebahagiaan abadi dan bisa pula dirasakan di dunia kini.
Rasulullah SAW bersabda, Yang terbaik di antara kalian bukanlah orang yang beramal untuk dunianya tanpa akhiratnya. Juga bukan orang yang beramal untuk akhiratnya dan meninggalkan dunianya. Tetapi yang terbaik di antara kalian adalah orang yang beramal untuk keduanya.
(HR.ALKhatib dari Shbt Anas bin Malik)

Untuk meralisir keseimbangan dalam kehidupan ini telah ditegaskan oleh Yang Maha Kuasa, agar kita tetap berusaha mencari kebahagiaan dunia tanpa melupakan kebahagiiaan ukhrawi, Wabtaghi fi ma ataka Allahu addaral akhirata wala tansa nasibaka minadddunya (Q, 28, Al-Qasas, 77).

Bandung, 3 Juli 2002