Piala Dunia 2010

Selama sebulan, terhitung mulai 11 Juni 2010 perhatian dunia akan tertuju pada sebuah perhelatan akbar empat tahunan bernama ‘world cup’ alias piala dunia. Piala Dunia FIFA 2010 merupakan edisi kesembilan belas dari Piala Dunia FIFA, yang akan diselenggarakan di Afrika Selatan 11 Juni hingga 11 Juli 2010. Edisi ini adalah edisi pertama Piala Dunia dilaksanakan di benua Afrika, membuat turnamen yang dilaksanakan di Benua Afrika yang merupakan wilayah CAF, sehingga menyisakan OAF sebagai satu - satunya konfederasi yang belum pernah menjadi tempat penyelenggaraan Pila Dunia FIFA. Pertandingan pembukaan dan pertandingan final akan dilaksanakan di Stadion Soccer City, di kota terbesar Afrika Selatan, Johannesburg.

Pada kali ini, 32 kesebelasan yang terjaring dari 138 pertandingan pra piala dunia, akan bertanding di: Afrika Selatan. Pada akhirnya, dua kesebelasan teratas akan tampil habis-habisan dalam pertandingan grand final yang akan diselenggarakan 12 Juli 2010 di Stadion Soccer City, Johannesburg. Selain antar kesebelasan, kompetisi akan terjadi antar pemain, baik di kesebelasan yang sama maupun pada tim berbeda. Setiap pertandingan, terlebih pada event piala dunia merupakan ajang bagi para pemain untuk mempromosikan diri. Ketika pemain-pemain bagus menjadi incaran klub-klub ternama, jelas pemain ‘terbaik’lah yang akan memiliki nilai jual, yang paling tinggi.

Dalam setiap kompetisi sah-sah saja jika setiap pemain mempunyai dua motivasi: mengharumkan nama bangsa, sekaligus melejitkan pamor pribadi. Dengan motivasi seperti itu, kiranya penonton bisa berharap akan disuguhi permainan cantik yang dilandasi semangat fair play. Kiranya, tak ada pecinta bola yang mau mentolerir peristiwa memalukan yang mencoreng dunia sport, seperti telah terjadi pada 12 Mei 2002. Peristiwa yang menandai kemenangan ke 58 seorang pembalap hebat, sekaligus kemenangan ke 149 untuk timnya itu, akan tercatat dalam sejarah hitam olah raga. Betapa tidak, justru menjelang beberapa meter menuju garis finish, sang pembalap ‘tega’ menyalip rekan satu timnya, yang seharusnya meraih juara. Jika di dunia olahraga yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas kecurangan bisa terjadi, bagaimana pula dengan kompetisi di arena lain?

Ketika suatu lembaga membutuhkan beberapa orang pegawai, maka ditunjuklah sebuah tim rekruitmen yang bertugas menyeleksi para pelamar, melalui tes. Di luar penyelenggaraan tes tadi, tidak mustahil ada penyaringan lain, dengan kriteria yang tentu saja tidak diumumkan kepada khalayak. Menjelang tahun ajaran baru merupakan saat-saat menegangkan sekaligus mendebarkan. Berbagai jurus pun dikeluarkan orang tua agar sang anak lolos, diterima di sekolah atau perguruan tinggi yang dikehendaki. Tak usah diceritakan lagi bagaimana suatu tender dimenangkan. Konon, mereka yang dapat memberikan ‘angpau’ paling teballah yang akan memperolehnya.

Manakala sebuah rumah produksi (akrab disebut PH, kependekan dari production house) memerlukan tokoh pemeran, maka diadakanlah suatu penyeleksian bernama "Casting" untuk menentukan master kuis tentu saja berbeda dengan casting presenter atau pemain sinetron. Adegan yang harus diperagakan calon aktor protagonis pastilah berbeda dengan aksi-aksi yang mesti ditunjukkan bakal pemeran antagonis. Adapun casting pemeran iklan jelas sangat bergantung kepada citra alias imej yang ingin ditampilkan produk yang diiklankan.

Satu hal tidak berbeda. Pada peristiwa seperti itu, istilah’casting’ tiba-tiba saja menjadi sebuah kata bertuah. Atas nama casting, seorang sutradara atau siapa pun yang memiliki otoritas seakan memiliki kewenangan yang seolah tanpa batas kepada para pelamar. Bukan hanya diminta memeragakan adegan-adegan yang memang dibutuhkan, mereka adakalanya diminta melakukan hal-hal yang tidak relevan. Hal itu terungkap sekurang-kurangnya dari pengaduan seorang gadis terhadap ulah seorang bintang terkenal. Sang bintang yang juga pemilik sebuah PH, konon sengaja mendokumentasikan beberapa perempuan pelamar pemain sinetron dalam keadaan ‘topless’. Juga dari pengaduan calon bintang iklan yang dua tahun lalu mendapat ajakan ‘makan malam’ dari produser.

Dua tahun lalu, sembilan orang gadis terlibat dalam casting iklan sabun mandi. Sangat boleh jadi karena tidak dibekali surat perjanjian, adegan yang didokumentasikan 2 tahun lalu itu kini tersebar di kalangan terbatas dalam kepingan VCD. Patut dipertanyakan, kenapa beberapa pelamar mau saja melepas seluruh pakaian, padahal iklan sabun mandi tak menuntut adegan itu. Ada beragam jawaban: pelamar nekad (terpaksa atau pun sukarela) karena mendapat iming-iming menggiurkan, mereka mendapat tekanan, atau terjadi trik kamera.

Bagaimana pun, mereka yang mempunyai potensi sebagai korban perlu dibekali dengan kesadaran akan hak-hak mereka, juga perjanjian tertulis agar mereka memiliki posisi tawar yang menguntungkan. Tentu saja orang tua dan para tetua seyogianya membekali anak-anak dengan akhlak terpuji. Kita semua perlu berpedoman kepada kitab suci, berkompetisi hanya dalam hal-hal baik juga secara baik saja.

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapat) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang batas teritorialnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya”. (Q, 57: Al Hadid, 21)

Bandung, 30 Mei 2010