Proyeksi

Yusnita, seorang dosen killer yang cantik dari Perguruan Tinggi ternama marah besar kepada seorang mahasiswanya yang bernama Anton. Mulanya Anton dipersilakan Bu dosen duduk menunggu di ruang kerjanya sementara sang dosen menyelesaikan pekerjaannya, maklum ibu dosen cukup lama mengambil cuti mengantar orang tuanya berobat di luar negeri.

Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan apalagi kalau sampai dua tiga jam, akan tetapi Anton tetap menyabar-nyabarkan diri karena dia punya keperluan mengulang ujian. Namun pada akhirnya Anton dianggap memaksakan kehendak kepada dosennya. Merasa diperlakukan tidak manusiawi maka Anton pun "menantang" sang dosen untuk memberikan ujian secara terbuka. Karuan saja Anton langsung diusir ke luar ruang kerja sang dosen. Anton, mahasiswa yang dikenal sebagai playboy kampus yang juga disegani teman-temannya itu dinilai telah bertindak sangat tidak hormat kepadanya.

Apakah ceritera di atas asal-usulnya diangkat dari kejadian nyata atau hanya fiktif saja tentu hanya Ashadi Siregar, sang penulis novel Cintaku di Kampus Biru yang fenomenal pada tahun 1970-an saja yang tahu. Karena menariknya novel tersebut dan mungkin karena ada peristiwa serupa terjadi dalam kehidupan, maka akhirnya novel tersebut di angkat dalam sinetron dengan judul yang sama, sekalipun dengan setting berbeda.

Dalam kehidupan di masyarakat tidak sedikit kita temukan orang yang tidak dapat bekerja dalam kapasitasnya sebagai orang normal, seperti halnya Yusnita. Apakah killernya dosen cantik tersebut karena ia terkena neurosis, suatu jenis gangguan kejiwaan yang relatif ringan, inilah yang menjadi teka-teki yang tidak terjawab dengan pasti. Katakanlah itu benar, Yusnita tidak sendirian. Gangguan kejiwaan yang relatif ringan seperti itu merupakan sesuatu yang umum, artinya bisa mengganggu siapa pun, baik perempuan maupun laki-laki. Bahkan konon gangguan itu setidaknya bisa terjadi suatu saat dalam hidup satu di antara 3 atau 4 orang.

Orang yang mendapatkan gangguan neurosis biasanya mencari pembenaran atas sikap dan tindakannya. Tindakan tersebut dikenal dalam psikologi dengan sebutan proyeksi, yaitu suatu mekanisme pertahanan, defence mechanism. Bentuknya berupa pemindahan suatu sikap atau perilaku yang dirasakan oleh seseorang kepada orang lain. Misalnya, seseorang yang membenci orang lain menganggap bahwa orang lain itulah yang membencinya. Dengan demikian ia mendapatkan pembenaran atas kebenciannya terhadap orang lain tersebut.

Seperti mekanisme pertahanan lain, proyeksi bertindak untuk melindungi orang dari rasa khawatir dan bersalah yang akan mereka rasakan bila mereka menjadi sadar tentang dorongan antisosial yang mendasarinya. Seperti dilukiskan Sigmund Freud dan pengikutnya, proyeksi dipandang sebagai tidak-dewasa-relatif (ciri tahap perkembangan kedua tahun pertama dalam hidup). Bila proyeksi membentuk bagian utama struktur watak orang dewasa, maka ini tanda fiksasi (atau penghentian perkembangan). Fiksasi mungkin terjadi bila orang tua terlampau sabar atau terlampau menghukum anak-anak mereka. Bentuk proyeksi, di mana orang-orang sekitar secara khas dianggap bermaksud agresif, sering dianggap sebagai aspek homosexuality yang laten.

Neurosis dapat terjadi akibat stres yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, misalnya akibat kesulitan dalam pekerjaan atau lingkungan sosial yang tidak menyenangkan. Pada kasus seorang perempuan berumur, segala usaha sudah ia tempuh dan berbagai ihtiar sudah dilakukan namun cinta seringkali kandas, jodoh tidak datang-datang padahal waktu sudah ashar bahkan mau maghrib. Kenyataannya, lingkungan sosial seringkali mendiskreditkan sang gadis, tanpa mau tahu penyebab yang mengantarkan dia pada kondisi demikian. Keputusan untuk belum/tidak menikah, disebabkan karena bermacam-macam kendala, bisa karena soal dana, mungkin karena kelewat tanggung jawab pada orang tua sebab adik-adiknya perlu bantuan biaya, bisa karena pernah patah hati dan bisa pula karena sebab-sebab lain yang mungkin sangat pribadi, masalah seksual misalnya.

“Menikah adalah sunnahku, dan barang siapa yang tidak menikah bukan termasuk umatku”, itu adalah sabda Nabi yang sangat terkenal. Seorang muslim/muslimah yang mampu (fisik, psikis, ekonomis) tentulah tidak pantas bertekad untuk tidak menikah. Namun demikian, jika berbagai upaya telah dilakukan dan doa pun sudah dimohonkan, tetapi pasangan hidup belum juga ditemukan, yang seyogianya dilakukan adalah tawakkal. Berbesar hati menerima sikap tak ramah dari lingkungan, tidak mencari kompensasi dengan perlakuan tak wajar kepada orang lain sembari tetap optimis, kira-kira bentuk kesabaran seperti itulah yang diharapkan.

Selain sabar dan tawakkal, lebih penting lagi adalah tekad untuk menjaga kehormatan diri. Berbahagialah karena salah satu ciri orang yang beriman yang akan mendapatkan kebahagian adalah mereka yang dapat menjaga nafsu libidonya, “walladzinahum lifurujihim hafidzun” (Q, 23, Al-Mu’minun, 5)

Bandung, 14 Agustus 2003