Sehat

​Selain jaket tebal yang menutup tubuh, Pak Hadi masih perlu melilitkan syal hijau di lehernya. Ya! tubuh tua itu sudah tak kuat menahan angin, jangankan di tempat terbuka, di dalam rumah pun ia tak pernah bisa berbaju selembar. Langkahnya yang tidak lagi tegap sering terganggu oleh batuk yang tiap sebentar keluar dari mulut yang giginya banyak ompong.

​Siang itu Pak Hadi sedang menjalankan “ritual” dua mingguan, berobat ke dokter spesialis penyakit dalam, di rumah sakit langganannya. Selepas pemeriksaan, dengan kaum pensiunan lainnya Pak Hadi menjebakkan diri dalam ritual lanjutan yang harus dilakoninya. Dengan sabar ia kini menunggu namanya dipanggil melalui corong pengeras suara untuk mendapatkan obat, sesuai resep yang ditulis dokternya.

Bagaimana pun Pak Hadi merasa harus bersyukur. Sebagai pensiunan pegawai negeri ia memiliki kartu askes (asuransi kesehatan) yang berarti bisa menikmati obat gratis, “sekalipun” hanya obat generik.
​Obat generik, bermerk maupun tak bermerk, konon memiliki khasiat yang tidak berbeda dengan obat yang telah dipatenkan. Barangkali karena tidak dipatenkan itulah, pamor obat itu tidak bagus. Sepertinya pasien merasa lebih bergengsi jika membeli obat paten. Terlepas dari urusan khasiatnya, Pak Hadi dan pasien-pasien senasib sedang berharap-harap cemas, apakah ia bakal kena dampak kenaikan harga obat yang akan ditetapkan pemerintah? Kenyataannya, sekarang saja peserta askes sering kecewa, karena resep yang ditulis dokter ternyata tidak bisa diperoleh secara garatis, alias harus ditebus. Dengan terjadinya kenaikan harga, tidak mustahil obat yang diperlakukan demikian jadi bertambah jumlahnya.

​Ketua Umum Gabungan Produsen Farmasi Indonesia (GP Farmasi) Anthony Ch. Sunarjo mengatakan, saat ini akses obat-obatan dan bahan baku farmasi produsen dalam negeri 80% berasal dari India dan Cina. Manakala ke dua negara tersebut mulai memberlakukan ketentuan Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPR ) bagi industri farmasi, harga obat akan meningkat tajam.

Sementara itu, menurut Pharmaceutical Division Director PT Pfizer Indonesia, Simon Tobing, mahalnya harga obat juga disebabkan karena produsen farmasi harus membayarkan royalti kepada pemegang paten Selain itu, wilayah Indonesian yang luas membutuhkan biaya distribusi yang juga juga besar, belum lagi pungutan pajak yang tinggi Selain kedua faktor itu, mahalnya harga obat terjadi karena apotek atau penjual obat di Indonesia mengambil keuntungan besar, beda dengan di negara lain yang rata-rata hanya berkisar 15% saja. "Makanya kalau di Singapura misalnya harga obat 100, di Indonesia bisa mencapai 120, padahal obat tersebut berasal dari pabrik yang sama," kata Simon. Sehat itu ternyata tidaklah murah.

Alih-alih panik dengan rencana kenaikan harga obat, sekaranglah saatnya kita mulai melihat kesehatan tidak hanya dari aspek fisik, melainkan secara holistik. Fisik bisa memengaruhi pikiran, sebaliknya pikiran juga bisa mempengaruhi fisik. Bertolak dari persepsi terhadap penyakit semacam itu, orang Jawa sering menghubung-hubungkan antara penyakit pikiran, perasaan, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan ruh, dengan penyakit fisik. Jangan heran, jika ada yang mengatakan, "Aja ngloro ati mengko biso kena lever lo.'' (jangan bikin hati sakit nanti bisa sakit lever beneran). Sebaliknya, tak perlu kaget jika ada yang menyatakan, "Padharanmu sing loro kuwi enggal diobati. Yen, dinengake suwe-suwe pikiranmu ugo biso keno.'' (Perutmu yang sakit segera diobati. Kalau dibiarkan lama-lama pikiranmu bisa terganggu)

​Persepsi terhadap penyakit seperti yang telah disebutkan tadi kemudian melahirkan berbagai wacana tentang penyembuhan ala Timur. Sebut saja Hidup Sehat dan Seimbang Cara Sufi, atau Pengobatan Cara Nabi SAW. Beberapa penyembuh sudah mencoba mencari khasiat aneka tumbuhan dan kemudian membukukannya, Prof. Hembing Wijaya Kusumah dengan Hidup Sehat Cara Hembing, misalnya. Namun demikian, masih ada juga yang menggunakan primbon, atau mengandalkan uang logam, air putih, daun ketela pohon, atau “isim” sebagai medium penyembuh.

Penyembuhan atau berbagai ritual yang dipaparkan tadi sesungguhnya hanyalah bentuk ikhtiar manusia. Medis atau nonmedis memiliki cara-cara sendiri untuk menyembuhkan manusia. Selagi tidak bertentangan dengan kaidah agama, keduanya layak dihormati sebagai upaya. Lebih dari itu, Anand Krishna, penulis Hidup Sehat dan Seimbang Cara Sufi, menganggap penyakit manusia itu bukan yang tampak di fisik saja. Pikiran liar, emosi yang bergejolak dan tak terkendali, keinginan-keinginan yang tak kunjung habis, keserakahan dan juga keangkuhan adalah penyakit.

​Yang perlu diperhatikan adalah bila ada tanda-tanda jasmani dan rohani kurang sehat maka sebab akibat harus segera ditelusuri, usaha harus dijalankan. Pola hidup sehat, makan minum secara benar dan teratur plus olah raga secukupnya, bisa menjadi salah satu alternatif penyembuhan. Dan selanjutnya bila akhirnya toh sakit juga datang maka harapan dan doa’a harus terus dipanjatkan. Sebab Allah SWT lah yang menciptakan dan Dia pula yang menunjuki. Dialah yang memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan.

“Alladzi khalaqani fahuwa yahdin. Walladzi huwa yuth’imuni wa yasqin. Waidza maridhtu fahuwa yasyfin” (Q, 26, Asy-Su’ara, 78-80)

Bandung, 25 September 2003