Simpati, Peduli

Rasul menyuruh kita mengasihi orang miskin, Rasul menyuruh kita menyantuni anak yatim...

Itulah sebuah lirik karya Taufiq Ismail yang didendangkan Bimbo. Sebuah himbauan agar kita semua mengasihi fakir miskin dan menyantuni anak yatim.

Mengasihi fakir miskin dan menyantuni anak yatim berarti menaruh kepedulian atau perhatian, simpati, kepadanya. Fakir miskin dan anak yatim yang kita pedulikan maka mereka akan merasakan kebahagiaan dan kehangatan karena mendapatkan penguatan biarpun kesusahan dan kegagalan sedang menerpa dirinya. Simpati dan perhatian kepadanya akan memperkuat jiwanya. Hal itu sangat penting dalam membina kepribadian.

Quraisy Shihab menjelaskan bahwa kata yatim, jamaknya yatama atau aitam, yaitu anak yang bapaknya telah meninggal dan belum baligh (dewasa), baik ia orang kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan. Adapun anak yang bapak dan ibunya telah meninggal termasuk yatim piatu. Istilah piatu ini hanya dikenal di Indonesia.

Rasul pernah bersabda: Saya dan pengasuh anak yatim (kelak) berada dalam sorga seperti telunjuk dan ibu jari (maksudnya demikian dekatnya). (HR Imam Bukhari)

Kata yatim terulang di dalam al-Quran dalam bentuk tunggal sebanyak 8 kali, dalm bentuk jamak 14 kali dan dalam bentuk mutsanna (menunjuk kepada dua) sekali. Kata ini diambil dari kata yutm yang berarti antara lain "kesusahan, keterlambatan dan kesendirian". Pakar bahasa mengartikan yatim sebagai seorang anak (belum dewasa) yang ditinggal mati ayahnya, atau seekor binatang kecil yang ditinggal induknya. Pandangan kebahasaan ini bertumpu pada fungsi ayah terhadap anak, atau induk terhadap hewan yang kecil, sebagai penangung jawab tugas perlindungan, pengawasan, serta pengayoman bagi kelangsungan hidup si kecil.

Anak yatim membutuhkan pelayanan secar terus menerus, walaupun yang bersnagkutan memiliki harta yang banyak. Perhatian terhadap mereka harus diberikan, lebih-lebih bagi mereka yang oleh ayat yang ditafsirkan ini disebut sebagai dza maqrabah. Kata maqrabah terambil dari qarb yang berarti dekat. Kata yatiman dza maqrabah bearti anak yatim yang memiliki kedekatan. Kedekatan apa yang dimaksud? Apakah kedekatan kerabat seperti secara tegas dikemukakan dalam terjemahan Departemen Agama atau kedekatan secara mutlak, termasuk dalam hubungan darah, jenis dan tempat, sehingga dapat mencakup hubungan tetangga, kebangsaan, bahkan kemanusiaan? (Tafsir Al-Qur’an al-Karim, M.Quraish Shihab)

Allah berfirman :

Dan mereka memberi makan dengan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Mereka berkata), Sesunguhnya kami memberi makan kalian, hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak mengharapkan dari kalian balasan, tidak pula (ucapan) terima kasih. (Q, Al-Insan, 8-9)

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara dzalim, sungguh mereka telah memakan ke dalam perut mereka api. Dan mereka akan masuk ke dalam neraka sa’ir (Q, 4 An-Nisa, 10)

Rasulullah SAW pernah mendapatkan pertanyaan tentang anak yatim. Allah SWT memerintahkan, mengislahkan mereka itu lebih baik.

Jika kalian bergaul dengan mereka, mereka itu saudara kalian. Allah mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan dari orang yang berbuat kebaikan…. (Q, 2, Al-Baqarah, 220)

Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman :
Hai Musa, jadilah engkau penyantun terhadap anak yatim seperti seorang bapak yang penyayang. Bersikaplah peduli terhadap janda bagai suami yang lembut. Pekalah terhadap nasik pengembara seperti saudara yang penyayang, Aku pun akan berlaku demikian kepadamu.

Nabi SAW bersabda : Sebaik-baik rumah kaum muslimin adalah rumah yang terdapat anak yatim yang diperlakukan (diasuh) dengan baik dan seburuk-buruk rumah kaum muslimin adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim namun selalu diganggu dan disakiti hatinya (HR Ibnu Majah)

Abu Ya’la meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, Akulah pertama orang yang dibukakan pintu sorga. Saat itu saya melihat seorang wanita yang mengikutiku, saya bertanya kepadanya, mengapa kamu mengikuti aku ? Jawabnya, aku wanita yang dahulu telah mengasuh anak-anak yatim.

Rasulullah SAW kemudian menyatakan, Demi Dzat yang mengutusku dengan hak, Di hari kiamat nanti Allah tidak akan menyiksa orang yang terbiasa menaruh kasih sayang, ramah dan manis tutur katanya kepada anak yatim. Ia bersikap demikian karena selain ia tidak berani menyombongkan kekayaannya, ia pun tahu bahwa yatim itu adalah lemah dan rentan kepribadiannya

Seorang shalih berkata, pada mulanya aku dahulu sebagai orang yang sombong jagi ahli ma’siyat. Pada suatu hari aku melihat seorang anak yatim, maka aku merasa simpati kepadanya, sehingga saya perlakukan anak yatim tersebut bagaikan anakku bahkan lebih dari itu. Kemudian dalam tidur aku bermimpi bahwa malaikat Zabaniah menangkap aku dan membawaku dengan keras ke neraka jahanam. Namun tiba-tiba di tengah jalan aku dihalang-halangi oleh anak yatim itu dan ia berkata pada malaikat, "Lepaskanlah ia sampai aku minta kepada Tuhanku", tetapi malaikat Zabaniah menolak permintaan anak yatim itu, tiba-tiba terdengarlah perintah dari Allah, "Lepaskanlah orang itu karena Kami telah memaafkannya karena kasih sayangnya pada anak yatim". Maka terbangunlah aku dari tidur dan selanjutnya aku bersikap lebih baik lagi kepada anak yatim.