Televisi

Ahad kemarin merupakan kali ketiga pasangan Andi dan Ida datang hanya berdua di acara silaturrahmi keluarga besar. Pada tiga pertemuan sebelumnya, mereka masih bisa membujuk si bungsu Nunuk (5 tahun) untuk ikut hadir. Akan halnya Tito, si sulung, sudah setengah tahun ini mogok tak mau ikut, sekalipun diming-imingi mainan kesenangannya. Ida sungguh merasa tidak enak hati kepada sanak famili yang tak pernah bosan mempertanyakan absennya Nunuk dan Tito. Alasan anak-anak tak mau ikut sangatlah sederhana, yakni tidak mau ketinggalan acara favorit yang ditayangkan salah satu Televisi swasta.

Belakangan, televisi telah menjadi ‘sahabat’ terutama bagi anak-anak usia sekolah dasar. Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dalam salah satu surveinya menemukan, prosentase acara TV untuk anak-anak meningkat dari tahun ke tahun (Kompas 16 Juli 2002). Peningkatan alokasi acara anak-anak di televisi, tentu saja membuat mereka kian betah berlama-lama memelototi layar kaca. Suatu hal yang lumrah, mendapati mereka menonton ketika sedang makan, sambil tidur-tiduran, lebih ‘hebat’ lagi, bahkan saat belajar. Ya, televisi selalu ada dan setia menemani kapan pun mereka membutuhkannya. Tanpa memungut bayaran pula.

Adalah suatu kekeliruan jika kita menganggap bahwa anak-anak menikmati siaran televisi secara gratis. Meningkatnya prosentase acara anak di TV juga berarti bertambahnya iklan yang ditujukan buat mereka. YKAI mencatat, 2 acara paling populer di kalangan anak-anak yang berdurasi 30 menit, hampir separuhnya (11 menit) diisi dengan tayangan iklan. Iklan di televisi seringkali menampilkan selebritis cilik yang diidolakan anak-anak. Akibatnya, tanpa sadar anak-anak akan tergiring untuk menggunakan produk yang diiklankan pujaan mereka. Tak perlu heran jika anak kemudian merengek bahkan memaksa orang tua agar membelikan produk yang diiklankan.

Peningkatan alokasi program anak-anak di televisi tetaplah belum bisa mengimbangi jumlah jam menonton mereka. Akibatnya jelas, mereka bukan hanya memirsa acara-acara yang diprogramkan buat anak-anak, tetapi juga tontonan yang sebagian belum layak mereka nikmati. 60% anak-anak responden YKAI mengatakan, acara yang mereka suka ternyata bukan acara yang diprogramkan buat mereka, tetapi tayangan semacam telenovela dan sinetron. Belakangan ini ada kecenderungan, Rumah-rumah Produksi berlomba-lomba menyajikan sinetron yang mengandalkan aktor ganteng dan artis cantik plus suasana serba wah. Dampak negatifnya, pemirsa (dalam hal ini anak-anak) terdorong untuk meniru penampilan tokoh juga ingin menikmati kemewahan yang dicontohkan, tanpa mau bersusah payah. Perilaku konsumtif pun terbentuk, tanpa disadari.

Akibat keseringan menonton tayangan buat orang dewasa, pemirsa setia anak-anak mau tidak mau akan menyaksikan adegan yang terkait dengan masalah seksual juga aksi-aksi kekerasan. Hal itu jelas-jelas membawa dampak negatip. Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc. (Detik, 15-22 September 1993) beranggapan, “karena seks terlalu diobral secara murahan, lalu beberapa pelanggaran seks nantinya akan dianggap sangat lumrah dan wajar. Jadi akan terjadi suatu proses untuk melumrahkan seks itu.” Terlalu sering melihat adegan kekerasan, bisa saja menyebabkan anak berpikir bahwa kekerasan adalah hal yang biasa. Akibatnya, tidak mustahil mereka melakukan kekerasan tanpa merasa bersalah. Anak-anak juga menjadi terbiasa berteriak, mengucapkan kata-kata yang tak pantas, berperilaku tak lazim, seperti yang dilakukan orang dewasa/tokoh yang mereka lihat di televisi.

Terlalu banyak menonton TV mengakibatkan otak tak terlatih untuk berpikir, mengurangi kemampuan berkonsentrasi, serta menekan rasa keingin tahuan, karena segalanya sudah diberikan secara instan oleh televisi. Jam menonton yang banyak juga akan mengurangi kesempatan/keinginan anak-anak untuk membaca. Makin banyak televisi hadir di tengah keluarga, makin sedikit waktu yang dipergunakan anak-anak untuk membaca. Selain itu, keasyikan menonton tayangan televisi membuat anak-anak cenderung egois, kurang toleran, tak mau diganggu, demi memuaskan keinginan sendiri.

Melarang anak-anak agar sama sekali tidak menonton televisi adalah pekerjan sia-sia. Mematikan pesawat TV dengan penuh amarah, padahal anak sedang asyik menonton, juga bukanlah sikap yang bijaksana. Akan lebih baik jika orang tua memandu anak memilih program-program yang akan mereka tonton, berdiskusi dengan mereka setelah menonton suatu acara, jika mungkin menjelaskan etika atau budaya kita yang berbeda dengan apa yang mereka lihat di televisi.

Yang paling pokok, tentu saja membekali anak-anak dengan basis agama yang kuat, sehingga mereka memiliki filter dan karenanya bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak, mana yang berguna mana yang kurang/tidak bermanfaat buat dirinya. Itulah salahsatu ciri orang beriman, sebagaimana difirmankan Allah, "dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna"
(Q, 23, Al Muminun, 3)

Bandung, 4 September 2002