sisipan hikmah

Emosi

“Kendalikan emosimu, gunakan akal sehat dan bersabarlah. Tuhan akan bersamamu !”, begitulah nasehat yang seringkali kita dengar dari orang bijak. Memang benar sekali fatwa itu sebab orang yang emosional adalah orang yang tidak sabaran dan sebaliknya mereka yang tidak sabaran dapat dikatakan sebagai orang yang tidak mampu mengendalikan berbagai macam keinginan.

Frustrasi

Keinginan Herman menduduki jabatan penting di kantornya tinggal satu langkah lagi. Cita-citanya ingin menduduki jabatan itu sudah menjadi obsesinya sejak dahulu. Tetapi pada akhirnya kandaslah harapannya, kini tidak bisa tidak ia harus ‘hijrah’ ke kantor lain karena departemennya dilikuidasi. Akhirnya sebagai pegawai ia malas bekerja tidak rajin seperti kebiasaannya selama ini. Bahkan hari-hari terakhir ini ia tidak bergairah lagi bekerja. Ia sering mengunci diri di kamarnya, ia dilanda frustrasi.

Lagi

Ucapkanlah kata ‘lagi’ berulang-ulang, cepat dan keras, maka akan terdengarlah teriakan seakan-akan umpatan, gila! gila! Tidak percaya? Cobalah! dan jika sering-sering dilakukan, bisa-bisa Anda akan menjadi gila sendiri. Tentu beda sekali antara lagi dan gila. Lagi bisa berarti terus, tambah, ulang, sedangkan gila adalah edan, gendeng, tidak waras, atau dengan kata lain abnormal. Gila bisa menunjukkan abnormal positip, kelewat hebat, bisa pula berkonotasi negatip, jeleknya tak ketulungan. Ketika Ketua PP Muhammadiyah DR.

Kunfayakun

Entah apa sebabnya bila sedang bepergian dan kebetulan sedang terburu-buru, setiap kali melewati perempatan yang ada traffic light-nya selalu mendapatkan lampu merahnya menyala. Orang sunda bilang "beureum deui beureum deui". Dan anehnya lagi sepertinya nyala lampu merahnya lebih lama ketimbang lampu hijaunya. Itulah perasaan umumnya manusia yang terburu-buru. Terburu-buru itu tandanya terlambat, dan memang orang yang terlambat biasanya terburu-buru.

Gila Kerja

Buat apa engkau kerja? Untuk mencari makan. Cari makan untuk apa? Buat bisa hidup. Untuk apa hidup? Biar kuat bekerja. Bekerja untuk apa? Untuk mencari makan. Makan untuk apa? Agar bisa hidup. Kerja, makan, hidup, kerja, makan, hidup. Lho, kok terus berputar?. Ibadah tempatnya di mana? Inilah bedanya filsafat orang yang beriman dan tidak beriman. Orang beriman segala sesuatu orientasinya ke ibadah sedangkan yang tidak beriman pikirannya terarah pada kerja dan makan.

Hepeng (Uang)

Uang adalah segalanya, begitulah kata orang. Pendapat tersebut ada benarnya, karena pada kenyataannya dengan uang orang bisa berbuat ‘apa saja’ dan mendapatkan ‘apa pun’ yang dimauinya. Dengan uang, seorang pria bermodal fisik apa adanya bisa dikerubungi wanita-wanita cantik berparfum wangi. Dengan uang pula kaum hawa yang kurang puas dengan tampilan fisiknya bisa mendatangi salon hingga dokter ahli bedah plastik untuk memperbaiki penampilannya.

Fantasi

Tengoklah pusat-pusat perbelanjaan. Lalu lalang orang di sana, sebagian hanya untuk cuci mata, window shopping, sebagian memang hendak membeli sesuatu, sama sekali tidak menyiratkan krisis yang sedang melanda negeri ini. Dan gedung-gedung bioskop yang memutar film box office, tidakkah berduyun-duyunnya orang datang ke sana menunjukkan bahwa sebagian penduduk negeri ini tidak tersentuh krisis yang sempat mengguncang dan melemahkan roda perekonomian kita? Sebagian yang lain?

Proyeksi

Yusnita, seorang dosen killer yang cantik dari Perguruan Tinggi ternama marah besar kepada seorang mahasiswanya yang bernama Anton. Mulanya Anton dipersilakan Bu dosen duduk menunggu di ruang kerjanya sementara sang dosen menyelesaikan pekerjaannya, maklum ibu dosen cukup lama mengambil cuti mengantar orang tuanya berobat di luar negeri.

Ketagihan

Tahun 1992, seorang pengusaha muda mati di rumah seorang artis terkenal Sejak peristiwa itulah maka ceritera tentang penyalah gunaan narkotika, alkohol dan zat adiktif lainnya yang kemudian disebut NAZA mencuat ke permukaan. Dan sekarang, tahun 2003 rupanya bukan cuma ceritera, akan tetapi telah membawa banyak korban, tidak hanya remaja, tetapi juga ada orang dewasa muda dan bahkan anak-anak desa.. Yang memprihatinkan adalah bahwa korbannya justru mereka yang sedang dalam usia produktif yang merupakan sumber daya manusia atau aset bangsa.

Pesan

Pa Misbach, seorang Dosen Fisika pada salah satu PTN di Bandung, benar-benar merasa kesal. Masalahnya sepele, dalam mata pelajaran IPA anaknya yang duduk di kelas 3 SD jauh lebih percaya kepada gurunya ketimbang terhadap dirinya, yang nota bene jauh lebih menguasai bidang ilmu tersebut. Tidak demikian halnya dengan Ny. Misbach. Ibu yang arif ini malah memanfaatkan kekaguman sang anak terhadap Ibu gurunya untuk menyampaikan berbagai titipan secara ‘terselubung’. Ketika anaknya tak juga mau merubah kebiasaannya, menyalakan pesawat TV saat belajar, kepada sang guru lah dia mengadu.

Pages

Subscribe to RSS - sisipan hikmah